Berita

Halte Transjakarta dirusak anarko di Kawasan Pasar Senen, Jakarta. (Foto: RMOL/Ahmad Satryo)

Publika

Dejavu

OLEH: YUDHIARMA MK*
MINGGU, 31 AGUSTUS 2025 | 05:39 WIB

SEPERTI daun kering yang gugur di musim kemarau, mereka tersungkur di jalan raya. 

Bukan karena lapar yang menusuk lambung, melainkan karena roda-roda baja yang melindas tubuh, seakan menandai nasib rakyat kecil: hancur oleh kekuatan yang tak peduli pada denyut nadi mereka.

Di udara Jakarta yang berjelaga, semua terasa seperti adegan lama yang sama. Seolah panggung sejarah mengulang naskahnya dengan nama berbeda.


Dahulu, di Tunisia, seorang lelaki bernama Bouazizi menyalakan api pada tubuhnya, kobar yang membakar lebih dari sekadar daging, melainkan singgasana kekuasaan yang pongah.

Kini, di jalanan ibu kota, seorang pengojek daring mengulang kepedihan itu, bukan dengan obor, melainkan dengan dentuman besi yang meremukkan tulang-tulangnya.

Kematian itu tidak hanya menutup satu pandangan, melainkan membuka jutaan mata.

Jalan-jalan bergetar oleh derap massa yang tak lagi takut, karena di setiap langkah mereka menyimpan dendam yang diwariskan oleh kemiskinan.

Gedung-gedung kaca yang menjulang gemetar, sebab retak di dalamnya adalah legitimasi yang lama terkubur dusta.

Ia, pengojek itu, tidak pernah berniat menjadi martir. Ia hanya ingin pulang, mungkin dengan upah hari itu untuk membeli beras bagi keluarganya, atau sekadar membayar listrik yang selalu menjerit di akhir pekan.

Tetapi takdir negeri yang buruk menahbiskannya menjadi api baru.

Tubuhnya yang terjepit di aspal ibarat obor yang tak padam, api yang menyala bukan dari bensin dan korek gas, melainkan dari rasa lapar yang berkarat dalam perut bangsa.

Sejarah berputar seperti lingkaran yang getir. Tunisia, Mesir, Suriah, Libya -- semuanya pernah menyala karena satu nyawa yang ditindas. Kini bayangan itu menempel di Jakarta.

Gedung-gedung megah dan istana-istana beton mendengar bisik sejarah yang menakutkan: bahwa raja yang terlena duduk di singgasana lupa bahwa kursi kekuasaan pun bisa terbakar.

Halte-halte yang hangus, jalan-jalan yang retak, asap yang membubung -- semua hanyalah latar dari satu tragedi yang lebih sunyi: ratapan seorang ibu yang kehilangan anak, tangisan seorang ayah yang kehilangan putranya, jerit seorang paman yang tak lagi punya keponakan kesayangan. Mereka adalah simfoni getir yang lebih keras daripada orasi di jalanan.

Dan di atas semua itu, Jakarta menyimpan dejavu. Ia melihat dirinya dalam cermin Tunisia. Ia mendengar suara api di tubuh Bouazizi bergema pada dentuman rantis yang melindas tubuh seorang pengojek. 

Ia menyadari, betapa sejarah selalu datang kembali, bukan sebagai pelajaran, melainkan sebagai kutukan.

Maka jalan-jalan pun menangis, gedung-gedung menunduk, dan langit Jakarta menjadi kelam. Bukan tersebab hujan, melainkan karena air mata sejarah yang kembali tumpah.

Dan dalam sunyi yang tak tertahankan itu, ibu kota berbisik lirih pada dirinya sendiri: dejavu.

*Penulis adalah wartawan senior



Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya