Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Publika

Wasiat Bagi Kita Semua

RABU, 27 AGUSTUS 2025 | 05:18 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DI Gaza, mati itu bukan kabar mengejutkan, melainkan rutinitas seperti pagi yang disambut tanpa listrik dan malam yang ditemani suara drone. Namun ada mati yang berbeda, mati yang menolak dilupakan: seperti Maryam Abu Daqah yang enggan melepas kamera dari genggamannya.

Namun, di Jalan Khan Younis, kamera itu jatuh juga ke tanah, dibasahi darah dan debu reruntuhan. Ya, kamera itu memang terjatuh, tapi gambar terakhir sesungguhnya sudah diambil oleh jantungnya -- adegan yang tak lagi tersimpan di kartu memori, melainkan di surga.

Maryam wafat ketika sedang meliput serangan di sekitar Rumah Sakit Nasser. Ia tak pulang kepada anaknya, Gaits, yang selalu menunggunya dengan mata berbinar di setiap sore di rumah. Ia tak kembali lagi mengirimkan laporan pembantaian gila Israel ke kantor medianya.


Ia tak kembali ke halaman media sosialnya, tempat ia menulis kalimat sederhana sehari sebelum gugur: “Saat tanah menutupi yang paling kau cintai, di situlah kau tahu betapa remehnya hidup ini.” Kata-kata yang terdengar seperti salam perpisahan. 

Ia memang tidak pulang ke rumah, tapi ia pulang ke Haribaan Ilahi Rabbi, meninggalkan wasiat -- sebuah teks pendek, namun cukup untuk menjadi peta hidup bagi anak satu-satunya. Ia wafat, tapi ia hidup di sisi Tuhannya. Ia mati syahid dengan keperkasaan seorang wanita.

Maryam menulis wasiat itu dengan jernih, seperti seorang ibu yang sudah tahu kematian berdiri di depan pintu. “Gaits, engkau jantung dan ruh ibumu," wasiatnya yang memberi makna dan arti kehidupan. "Aku ingin kau doakan aku. Jangan menangis agar aku tetap bahagia."

"Angkat kepalamu, jadilah kuat, belajarlah dengan sungguh, kelak kau akan jadi lelaki sejati. Saat kau menikah nanti, berilah nama anakmu ‘Maryam’ -- agar aku terus hidup dalam keluargamu. Ingat, nak, shalatmu jangan pernah kau tinggalkan. Itu warisan terbesarku.”

Inilah wasiat yang sederhana sekaligus dahsyat: tentang doa, martabat, masa depan, dan tentang iman. Tidak ada teori parenting, tidak ada motivasi dengan infografis warna-warni, hanya darah yang tumpah bersama kamera yang tergeletak. Dan justru karena itu ia abadi.

Maryam bukan sekadar jurnalis. Ia seorang ibu tunggal yang menghidupi anaknya, sekaligus pernah jadi anak yang rela memotong tubuhnya sendiri demi sang ayah yang gagal ginjal. Ia memang pernah mendonorkan ginjal untuk ayahanda, dan menolak dipublikasikan. 

“Pengorbanan terbesar adalah di rumah,” begitu katanya pula memberi arti kecintaan pada keluarga. Maka ketika ia membawa kamera ke medan perang, sebenarnya ia sudah siap karena sudah terlatih: tubuh ini boleh robek, asalkan yang dicintai tetap hidup.

Di Gaza, Palestina, kamera memang punya risiko setara senapan. Israel lebih takut pada gambar daripada pasukan Hamas, karena gambar bisa menembus blokade, melintasi algoritma, dan membongkar aib di meja makan internasional. 

Maka wartawan menjadi musuh, dan Maryam tahu persis risikonya memilih jalan hidup dan medan perjuangan pembebasan Palestina ini. Ia tak gentar, dan memilih terus maju, sebab bagi Gaza, kamera adalah senjata terakhir yang paling menembus dan mematikan.

Maryam wafat dengan cara yang bagi kita mungkin mengerikan: darah tercecer di tanah, tas rangsel terbuka, tubuh terbujur di samping kamera. Namun justru di situlah kebahagiaannya: ia mati di puncak cita-citanya sebagai seorang syahidah.

Ia paham betul pasti mati jika ajal tiba. Tapi ia ingin mati sebagai saksi kebenaran, mati sebagai ibu yang telah menyiapkan anaknya dengan pesan yang terang, mati sebagai syahidah yang Al-Qur’an katakan tidak benar-benar mati, melainkan hidup di sisi Tuhan.

Maka eleginya pun terasa aneh: pedih sekaligus melegakan. Di bumi ia rubuh dan ditangisi, tapi di langit ia lahir kembali dan disambut jutaan malaikat. Dunia kehilangan seorang wartawan tangguh, tapi surga menerima seorang syahidah yang lembut.

Surat Maryam memang ditujukan untuk Gaits, tapi sebetulnya ia menitip pesan bagi siapa pun yang hidup hari ini. Wasiat bagi kita semua tentang hidup. Bahwa hidup bukanlah menumpuk benda, melainkan memberi makna. 

Bahwa kamera pun bisa setara dengan senjata, jika dipakai untuk melawan ketidakadilan dan kezaliman. Bahwa keluarga adalah alasan paling mulia untuk bertahan, bahkan di tengah reruntuhan. 

Dan bahwa salat, pada akhirnya, adalah satu-satunya warisan yang tidak bisa dan tak boleh dihancurkan oleh rudal, embargo, atau pengkhianatan politik dunia.

Maryam memang sudah tidak bisa lagi mengangkat kameranya, tapi gambar terakhir yang ia tinggalkan lebih kuat dari ribuan berita. 

Kamera yang tergeletak, darah yang menetes, surat wasiat yang terbuka -- itulah potret yang akan terus melekat di ingatan sejarah.

Dan dari sana, ia seakan berbisik: “Jangan katakan aku mati. Aku masih hidup. Hanya alamatku saja yang berpindah.”

Penulis adalah wartawan senior




Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

UPDATE

Habib Syakur Kritik Elite Politik: Demokrasi Jangan Dijadikan Arena Gaduh

Senin, 18 Mei 2026 | 10:20

MK Tegaskan Jakarta Masih Ibu Kota, Pengamat Sebut IKN Hanya Ambisi Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 10:02

Pakar Soroti Masalah Struktural yang Hambat Investasi Asing ke RI

Senin, 18 Mei 2026 | 09:56

Polemik Muktamar Mathla’ul Anwar Berlanjut ke Pengadilan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:51

IHSG Ambles 190 Poin, Rupiah Terpukul ke Rp17.661 per Dolar AS

Senin, 18 Mei 2026 | 09:47

Emas Antam Turun di Awal Pekan, Termurah Rp1,4 Juta

Senin, 18 Mei 2026 | 09:32

Prabowo Tekankan Pangan Harga Mati, Siap Disalahkan Jika Rakyat Kelaparan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:22

Awal Pekan, Dolar AS Masih Perkasa di Level 99 Setelah Reli Sengit Akhir Pekan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:14

Harga Minyak Dunia Makin Naik, Kembali Sentuh 110 Dolar AS

Senin, 18 Mei 2026 | 08:44

Bursa Asia Tertekan, Kospi Paling Merah

Senin, 18 Mei 2026 | 08:18

Selengkapnya