Berita

Pengamat politik dari Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga (Foto: Dokumen Pribadi)

Politik

Menteri Karding, Sekolah Rakyat Bukan Mendidik Anak Bangsa jadi Imigran

SENIN, 18 AGUSTUS 2025 | 13:47 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pernyataan Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding soal kelas migran di Sekolah Rakyat menuai kritik. Karding dianggap tidak paham tujuan Sekolah Rakyat yang menjadi salah satu program andalan Presiden Prabowo Subianto.

“Penegasan Karding mengesankan Sekolah Rakyat Menengah Atas seolah dìsiapkan untuk menjadi migran. Ini tidak sejalan dengan tujuan didirikan sekolah rakyat,” kata pengamat komunikasi politik M. Jamiluddin Ritonga  Ritonga melalui sambungan telepon kepada RMOL di Jakarta, Senin 18 Agustus 2025.

Menurut Jamiluddin, tujuan utama Sekolah Rakyat adalah menyediakan akses pendidikan gratis dan berkualitas, khususnya bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu, dengan tujuan memutus mata rantai kemiskinan. 


Sekolah Rakyat juga berupaya membekali siswa dengan keterampilan, pola pikir positif, dan nilai-nilai luhur, agar mereka bisa mandiri dan menjadi agen perubahan. 

Jamiluddin menilai keberadaan kelas migran bisa menjadi boomerang dengan tujuan awal program Sekolah Rakyat.

"Perlu dipikir ulang memasukkan mata pelajaran migran sebagai ekstrakurikuler di sekolah rakyat. Sebab bisa saja nanti dipersepsi bahwa sekolah rakyat justru mendidik anak bangsa untuk menjadi imigran,” pungkasnya.

Pernyataan disampaikan Menteri Karding saat mengunjungi SMA Negeri 13 Bekasi, sekolah perintis program Sekolah Rakyat, Kamis 14 Agustus 2025.

Karding mendorong agar sekolah rakyat mengakomodasi program kelas migran menjadi kegiatan ekstrakurikuler sejak kelas 1 SMA yang membekali siswa dengan kemampuan bahasa asing, pengetahuan negara tujuan kerja seperti Jepang, Korea, atau Jerman, serta persiapan mental untuk bekerja di luar negeri.

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya