Berita

Ilustrasi/RMOL

Bisnis

Ekonom Ragukan Akurasi Data Pertumbuhan Ekonomi 5,12 Persen

RABU, 06 AGUSTUS 2025 | 11:36 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Klaim pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,12 persen pada kuartal II 2025 dinilai janggal oleh ekonom. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, bahkan secara terbuka meragukan akurasi data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Menurut Bhima, angka pertumbuhan ekonomi BPS tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan. Ia menyoroti adanya kejanggalan khususnya pada data industri pengolahan yang mencatat pertumbuhan 5,68 persen year on year (yoy). Padahal, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur justru menunjukkan pelemahan.

"Selisih datanya terlalu berbeda antara BPS dan PMI Manufaktur. BPS menghitung adanya pertumbuhan 5,68 persen yoy untuk industri pengolahan, sementara akhir Juni 2025, PMI Manufaktur turun dari 47,4 menjadi 46,9. Jadi penjelasannya apa?" kata Bhima dalam pernyataannya, pada Rabu 6 Agustus 2025.


Ia juga menyoroti banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di sektor padat karya, hingga efisiensi yang banyak dilakukan oleh sektor industri.

"Bagaimana mungkin PHK massal di padat karya meningkat, terjadi efisiensi dari sektor industri, penjualan semen turun, bahkan di sektor hilirisasi juga smelter nikel ada yang berhenti produksi tapi industri tumbuh tinggi?" tuturnya.

Bhima juga mempertanyakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang yang hanya mencapai 4,97 persen, padahal kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sangat besar mencapai 54,2 persen. 

"Konsumsi rumah tangga juga tumbuh hanya 4,97 persen padahal kontribusinya 54,2 persen terhadap PDB. Idealnya konsumsi tumbuhnya diatas 5 persen agar pertumbuhan ekonomi total jadi 5,12 persen yoy," tegasnya.

Selain itu anomali lain yang disorot Bhima adalah pertumbuhan ekonomi kuartal II yang justru lebih tinggi dibanding kuartal I 2025 yang didongkrak momentum Ramadan dan Lebaran. Sementara di kuartal II, kata Bhima tidak ada faktor musiman yang signifikan, sehingga banyak pihak yang meragukan data tersebut.

"Ada indikasi yang membuat masyarakat meragukan akurasi data BPS," tandasnya.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Perempuan Tani HKTI Terapkan Teknologi IoT, Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 50 Persen

Minggu, 01 November 2026 | 12:32

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

Minggu, 01 November 2026 | 11:56

Kloter Pertama Haji 2027 Terbang 11 April, Ini Jadwal Lengkapnya

Minggu, 01 November 2026 | 11:50

Imigrasi Sudah Cegah Ahmad Dedi ke Luar Negeri Atas Permintaan KPK

Minggu, 01 November 2026 | 11:36

Puluhan Orang Diamankan Polisi saat Gerebek Kampung Bahari

Minggu, 01 November 2026 | 11:30

Maroko Sambut Keputusan PBB Akhiri Misi MINURSO di Sahara Barat

Minggu, 01 November 2026 | 11:17

Citra Polri Bisa Rusak Akibat Dua Kejadian Ini

Minggu, 01 November 2026 | 11:05

Ombudsman Ingatkan Polri Jaga Etika dan Hormati HAM saat Penggeledahan

Minggu, 01 November 2026 | 10:48

PPK Ajak Masyarakat Berperan bersama Presiden Prabowo Wujudkan Kedaulatan

Minggu, 01 November 2026 | 10:42

Selengkapnya