Berita

Partai Persatuan Pembangunan/RMOL

Publika

Mencari Kandidat Ketum PPP 2025-2030

OLEH:TONY ROSYID*
SELASA, 05 AGUSTUS 2025 | 22:08 WIB

PPP kolaps. Pemilu 2024, PPP gagal masuk Senayan. Kursi DPR RI lenyap. Saat ini, kondisi PPP hampir mati. Apa penyebabnya? Berkhianat kepada konstituen.

Parpol yang kontra konstituen pasti akan ditinggalkan. Berawal dari Pilkada DKI, lanjut ke Pilpres 2019 dan klimaksnya di Pilpres 2024. PPP mengusung tokoh yang tidak diinginkan oleh konstituen. Dosa akumulatif PPP membuat partai berlambang Ka'bah ini harus tersingkir.

Tak ada sejarahnya di Indonesia, partai yang sudah kehilangan kursi DPR RI itu bisa recovery. PBB dan Hanura adalah dua contoh partai yang punya nasib tragis. Pernah punya kursi di DPR RI, sekarang keadaannya semakin jauh dari mampu untuk bangkit.


Apakah PPP akan menyusul PBB dan Hanura? Atau bisa bangkit setelah kehilangan semua kursinya di DPR? Ini tidaklah mudah.

PPP tak lagi punya energi. Berharap kebangkitan dari internal, hampir tidak mungkin. Para elitnya telah dianggap gagal untuk menjaga PPP. Mereka tak lagi bisa dipercaya untuk membawa PPP bangkit.

Di sisi lain, kader PPP masih berharap partai Islam ini bisa diselamatkan. Caranya? PPP harus dicarikan energi dari luar. Sebab, energi dari dalam sudah tidak mungkin. Lowbatt!

Sebagian kader masih berharap PPP bisa diselamatkan oleh kader internal sendiri. Siapa kader internal yang diharapkan bisa menyelamatkan PPP?

Saat ini, tidak ada tokoh kharismatik di PPP. Tokoh sentral yang dapat mengumpulkan semua kelompok menjadi satu kekuatan. Yang ada justru sebakiknya. Elite PPP masing-masing sibuk bermanuver. Tak ada tanda-tanda para kubu itu bersatu.

Tantangan berikutnya, bahwa partai yang kolaps cenderung akan ditinggalkan oleh kader-kadernya. Sebagian caleg-caleg PPP sudah akan mulai melirik dan bergabung ke partai-partai lain.

Sementara caleg yang bertahan, belum tentu punya kemampuan untuk nyaleg lagi. Terutama berkaitan dengan ketersediaan logistik. Ini akan menjadi tantangan tersulit PPP untuk bangkit.

Dalam keadaan darurat ini, sejumlah elite PPP berikhtiar mencari energi dari luar kader. Muncul nama Dudung Abdurrahman, mantan KSAD. Hanya sebentar, nama Dudung kemudian hilang.

Muncul juga nama Amran Sulaiman, Menteri Pertanian. Hanya sebentar, lalu lenyap lagi. Belakangan, santer nama Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta. Tak lama kemudian, nama Anies Baswedan juga hilang.

Semua nama-nama di atas merupakan hasil ijtihad dan ikhtiar elite PPP, di antaranya adalah Muhammad Romahurmuziy, mantan ketum PPP. Sampai detik ini, nama-nama itu tak terdengar lagi. Rumornya, Dudung dan Amran tidak mendapatkan restu dari presiden. Sementara Anies Baswedan tidak bersedia menjadi ketum PPP.

Rencana Muktamar PPP bulan Agustus diundur bulan November 2025. Mungkin diantara faktornya karena belum menemukan kandidat ketua umum yang diharapkan.

Di tengah kebuntuan ini, nama Agus Suparmanto, mantan Menteri Perdagangan muncul. Nama Agus Suparmanto dideklarasikan oleh Taj Yasin, Wakil Gubernur Jawa Tengah beberapa bulan lalu. Apakah Agus Suparmanto menerima pinangan Taj Yasin, Putra tokoh Kharismatik PPP KH Maemoen Zubair ini?

Dikabarkan Agus Suparmanto mendapatkan restu dari Presiden Prabowo untuk memimpin PPP. Agus Suparmanto adalah pengusaha yang pernah lama berpartner usaha dengan Prabowo sebelum Prabowo jadi presiden. Keduanya juga pernah sama-sama menjadi menteri kabinet Jokowi.

Siapa pun yang akan diinginkan untuk menahkodai PPP, ia mesti memiliki syarat ideologis (satu visi dengan partai), punya kemampuan dan akses politik yang luas, serta kekuatan finansial.

Mengingat keadaan PPP yang sedang sakit, Partai Ka'bah ini butuh dokter politik yang mampu menyembuhkannya, hingga PPP bangkit dan kembali ke Senayan. Ini sebuah tantangan yang tidak ringan.

Nasib PBB dan Hanura harus menjadi pelajaran pentimg dan amat serius bagi PPP jika ingin bangkit dan kembali ke Senayan.

*Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Beruang di Istana

Kamis, 30 April 2026 | 12:14

Rincian 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp116 Triliun yang Baru Diresmikan Prabowo

Kamis, 30 April 2026 | 11:56

KPK Periksa Pejabat Pemkot Madiun dalam Kasus Dugaan Pemerasan Wali Kota Maidi

Kamis, 30 April 2026 | 11:43

Menteri PPPA Disorot Usai Minta Maaf, Dinilai Perlu Tingkatkan Sensitivitas dan Komunikasi Publik

Kamis, 30 April 2026 | 11:27

Arab Saudi Beri Asuransi Khusus Risiko Panas Saat Puncak Haji

Kamis, 30 April 2026 | 11:06

Bangkit dari Kubur! Friendster Sang Pelopor Medsos Resmi Kembali di 2026

Kamis, 30 April 2026 | 11:05

Hasil Komunikasi Dasco dengan Presiden Prabowo, Pemerintah Siapkan Rp 4 Triliun Perbaiki Perlintasan Kereta Api

Kamis, 30 April 2026 | 11:02

Harga Emas Antam Ambruk ke Rp2,7 Juta per Gram di Akhir Bulan

Kamis, 30 April 2026 | 10:50

Suami Bupati Pekalongan Dicecar KPK soal Aliran Uang Perusahaan Keluarga

Kamis, 30 April 2026 | 10:45

Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak Hari Buruh di Monas Besok

Kamis, 30 April 2026 | 10:28

Selengkapnya