Berita

Ilustrasi (Istimewa).

Publika

Mandirinya Energi Fosil? (1)

Tanggapan atas tulisan Denny JA, "Make Pertamina Great Again"
SELASA, 05 AGUSTUS 2025 | 07:12 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

KALAU kawan Denny JA belum lama ini didapuk menjadi Komisaris Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) maka sungguh ini momentum yang layak disambut gegap gempita. Kita semua, terutama para pemilik puisi-puisi esai, diagram optimisme, dan narasi-narasi kebangkitan berbumbu peradaban, patut optimis dengan energi kita.

Tapi mohon maaf, saya lebih suka mengunduh pertanyaan, seperti judul tulisan ini, dibanding mengunggah pujian. Maka ketika membaca esai “Make Pertamina Great Again” yang Bung Denny JA unggah 25 Juli, saya mendadak ingin bertanya -pakai nada setengah bercanda, setengah bertanya sungguhan:

Apakah yang dimaksud "kemandirian energi" cuma berarti mandiri dalam mengeduk minyak dari perut bumi sendiri, tapi tetap membakar masa depan dengan energi fosil?


Atau barangkali: Apakah bisa disebut “kemandirian” kalau fondasi energinya tetap dari sumur tua, bukan dari sinar baru seperti matahari, angin, banyu, dan panas bumi?

Dalam esai itu, kawan Denny menyulap nostalgia tentang kejayaan Pertamina era Ibnu Sutowo ke dalam visi revivalis: satu juta barel per hari! Fantastis. Kita seolah diajak naik mesin waktu -bukan ke masa depan, tapi ke masa lalu yang dilapisi irisan-irisan semangat baru.

Betul bahwa produksi migas kita pernah tembus 1,2 juta barel. Tapi jangan lupa, itu zaman ketika energi dunia memang masih dikuasai minyak mentah, dan pemanasan global belum jadi momok. Sekarang? Tahun 2025 ini, bahkan Shell, BP, dan TotalEnergies pun sedang migrasi ke energi terbarukan.

Maka pertanyaannya yang patut kita renungkan: Apakah Indonesia ingin kemandirian energi, atau ingin mandiri dalam menyusul ketertinggalan -dengan bahan bakar abad 20?

Tentu, ada logika di balik ambisi satu juta barel: enhanced oil recovery, teknologi baru, percepatan perizinan, kerja sama SKK Migas, dan seterusnya. 

Baiklah, itu sudah pasti jadi bagian dari tugas BUMN PHE. Tapi kemandirian energi seharusnya bukan semata mandiri menggali dan mengolah.

Karena bagaimana pun, minyak dan gas adalah energi yang menyusut. Hari ini kita temukan ladang baru, besok dia habis. Energi fosil itu ibarat beras dalam karung: kita bisa hemat, bisa beli karung baru, tapi tetap akan habis juga.

Sedangkan energi surya, angin, dan panas bumi, ibarat matahari pagi -selalu datang besok, tak peduli geopolitik dan mafia migas.

Pasalnya, banyak negara lain sudah menyebarang jauh. Mari tengok Norwegia. Hampir seluruh listriknya dari hidro. Costa Rica? 98% dari energi terbarukan. Islandia? Geothermal is king. 

Bahkan Tiongkok, negara penguasa batu bara, kini malah jadi produsen terbesar panel surya di dunia.

Lalu kita, bangsa maritim yang katanya suryanya 12 jam sehari, anginnya kencang di 17.000 pulau, dan panas buminya memuncak dari Sabang sampai Merauke -masih sibuk mempercepat izin sumur, baik yang muda maupun yang tua. 

Dan, itu semua dibungkus dalam semangat "kemandirian energi". Bersama itu, kawan Denny menulis tentang festival budaya dalam CSR. Bagus, tentu saja. Tapi maaf, bumi tak bisa disejukkan dengan festival budaya saja. Kita butuh revolusi kebijakan energi, bukan sekadar narasi peradaban.

Tentu, saya tak bermaksud menertawakan. Saya ingin mengingatkan. Justru karena Bung Denny kini di dalam, saya berharap ia bisa mendorong ke arah energi masa depan. Bukan hanya menggali energi yang lama-lama bisa menggali lubang.

Karena kalau hanya mengejar 1 juta barel tanpa satu panel surya pun di halaman kilang -maka itu bukan "Make Pertamina Great Again," tapi "Make Pertamina Fossil Forever."

Kemandirian energi sejati hanya bisa lahir jika negeri ini tak sekadar mandiri mengebor, tapi juga berdaulat dalam membangun masa depan energi bersih.

Kemandirian itu baru tulen jika ia tahan menghadapi badai geopolitik, tahan krisis iklim, dan tahan dari generasi yang kelak bertanya: "Kenapa dulu kita terus menggali, padahal matahari bersinar di atas kepala?"

Kritik ini bukan sinisme. Ini ajakan reflektif. Saya yakin, masih ada jalan. Saya percaya, orang seperti Denny JA, yang bisa menulis ratusan esai  filsafat dan puisi esai, pasti bisa juga menulis ulang narasi Pertamina -dengan bab baru tentang transisi energi.

Kalau ingin benar-benar menjadikan Pertamina sebagai gerakan nasional, maka mari mulai dari gerakan ke arah energi berkelanjutan. Karena gerakan yang hanya memutar sumur tua, cuma akan menghasilkan mimpi lama dengan seragam baru.

Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

UPDATE

Habib Syakur Kritik Elite Politik: Demokrasi Jangan Dijadikan Arena Gaduh

Senin, 18 Mei 2026 | 10:20

MK Tegaskan Jakarta Masih Ibu Kota, Pengamat Sebut IKN Hanya Ambisi Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 10:02

Pakar Soroti Masalah Struktural yang Hambat Investasi Asing ke RI

Senin, 18 Mei 2026 | 09:56

Polemik Muktamar Mathla’ul Anwar Berlanjut ke Pengadilan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:51

IHSG Ambles 190 Poin, Rupiah Terpukul ke Rp17.661 per Dolar AS

Senin, 18 Mei 2026 | 09:47

Emas Antam Turun di Awal Pekan, Termurah Rp1,4 Juta

Senin, 18 Mei 2026 | 09:32

Prabowo Tekankan Pangan Harga Mati, Siap Disalahkan Jika Rakyat Kelaparan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:22

Awal Pekan, Dolar AS Masih Perkasa di Level 99 Setelah Reli Sengit Akhir Pekan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:14

Harga Minyak Dunia Makin Naik, Kembali Sentuh 110 Dolar AS

Senin, 18 Mei 2026 | 08:44

Bursa Asia Tertekan, Kospi Paling Merah

Senin, 18 Mei 2026 | 08:18

Selengkapnya