Berita

Ilustrasi/RMOL

Olahraga

Sepak Bola Kelompok Umur, Potensi Industri Olahraga Penggerak Ekonomi

SENIN, 04 AGUSTUS 2025 | 20:19 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Sepak bola merupakan olahraga yang paling digemari di Indonesia. Dengan banyaknya event kelompok umur yang digelar, ternyata potensi ekonomi dari industri olahraga tersebut cukup besar. 

Kompetisi sepak bola usia muda tak lagi sekadar ajang pencarian bakat. Di balik semangat sportivitas dan pembinaan atlet masa depan, geliat turnamen kelompok usia ini kini menjelma menjadi mesin penggerak industri olahraga nasional.

Ratusan turnamen kelompok usia, dari U-9, U-11, U-13, hingga U-17 digelar rutin setiap tahun di berbagai daerah. 


Di balik persaingan yang sengit di lapangan, kompetisi ini menciptakan efek ekonomi berantai. Perputaran uang terjadi dalam berbagai bentuk: sewa lapangan, akomodasi, transportasi tim, konsumsi, penjualan merchandise, hingga belanja perlengkapan tim dan kontribusi UMKM lokal.

Melihat potensi ekonominya, Deputi Bidang Industri Olahraga Kemenpora R. Isnanta mengakui biaya yang dikeluarkan oleh para operator kompetisi usia muda itu tidaklah kecil. Namun, melihat event-event tersebut bisa berjalan, dia menilai potensi keuntungannya juga ada. 

"Berbicara soal industri, pasti bicara faktor ekonomi. Menggelar jika tidak menguntungkan, tentu tidak akan dilanjutkan. Namun, ini bisa berlanjut, berarti ada potensi keuntungan ekonomi di situ," kata Isnanta dalam keterangan tertulis, Senin 4 Agustus 2025.

Dikatakan Isnanta, jika satu klub dalam satu event membayar biaya pendaftaran di kisaran Rp500 ribu saja, sementara ada ribuan klub yang ikut serta. Maka sudah bisa dilihat ada potensi puluhan miliar uang berputar dari situ saja. 

Secara tidak langsung, event ini mampu menggeliatkan ekonomi di bawah. Berapa kamar hotel yang dipesan, berapa banyak warung atau usaha penyedia makanan yang dibeli produknya, kemudian ada berapa ratus mobil yang disewa untuk membawa tim bertanding. 

"Jika dihitung kasar, dibuat satu tim mengeluarkan Rp25 juta per kompetisi. Dan ada sekitar 5.000 tim kelompok umur yang ikut, maka bisa dilihat Rp125 miliar berputar karena kompetisi kelompok umur tersebut," kata Isnanta. 

"Saya yakin, jumlah itu bisa lebih besar, karena ada ratusan kompetisi kelompok umur yang digelar di Indonesia," bebernya. 

Menurut Jalu, dari Liga Anak Indonesia, registrasi dari regional sampai nasional saja bisa memutar uang Rp2 miliar, belum tenant UMKM, tiket penonton, sampai dengan pemasukan lainnya. 

"Hitungan itu belum termasuk hotel, transportasi, dan juga konsumsi peserta, tidak salah jika dilihat bahwa potensi industri olahraga di sepak bola kelompok umur ini sangat besar," tuturnya. 

Berbeda lagi Piala Soeratin Jawa Timur 2025. Sekretaris Jenderal PSSI Jatim, Djoko Tetuko, mengungkapkan bahwa selain sebagai ajang pencarian talenta muda, turnamen ini juga terbukti menggairahkan ekonomi daerah.

Djoko menyebutkan, biaya operasional PSSI Jatim untuk tiga kategori usia mencapai Rp3,5 miliar, termasuk pengadaan lapangan, wasit, keamanan, dan akomodasi. 

"Jika ditambah dengan pengeluaran klub dan konsumsi penonton, nilai total perputaran uang diperkirakan bisa mencapai Rp10 miliar lebih" katanya.

Fenomena ini membuktikan bahwa kompetisi usia muda adalah sektor strategis dalam industri olahraga. 

Selain meningkatkan angka partisipasi olahraga masyarakat, event ini juga mampu menggerakkan ekonomi lintas sektor, mulai dari olahraga, pariwisata, hingga UMKM.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Biodigester Komunal Sampah Organik Dibangun di Rusunawa

Rabu, 12 Agustus 2026 | 06:11

Polisi Harus Usut Promosi Miras Berkedok Challenge Hafalan Al-Qur'an

Rabu, 12 Agustus 2026 | 06:06

Wisata Probolinggo Jadi Alternatif Usai Bromo Ditutup

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:48

Peluang Besar Jakarta Gaet Investor Lewat JAFEX 2026

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:25

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Layanan Publik Pemda Harus Tetap Berjalan Meski Keadaan Sulit

Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:31

Jangan-jangan Gibran Punya Ijazah Sarjana Tanpa Ijazah SMA

Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:27

Challenge Hafalan Qur'an demi Miras Melukai Hati Umat Islam

Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:10

Abdoel Moeis: Sastrawan, Wartawan, Pahlawan

Rabu, 12 Agustus 2026 | 03:34

Dokter Tifa Ajak Rakyat Hadiri Sidang Praperadilan di PN Jaksel

Rabu, 12 Agustus 2026 | 03:06

Selengkapnya