Berita

Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong didampingi istri keluar dari di Rutan Cipinang, Jakarta Timur, Jumat 1 Agustus 2025. (Jawapos.com/Mohammad Sugianto)

Publika

Pembebasan Tom Lembong: Sinyal Rekonsiliasi Nasional Post-Jokowi

Oleh: M. Isa Ansori*
MINGGU, 03 AGUSTUS 2025 | 22:23 WIB

PRESIDEN Prabowo Subianto memberi kejutan politik ketika memutuskan memberikan abolisi kepada Thomas Lembong, mantan Menteri Perdagangan dan mantan anggota tim sukses Anies Baswedan. Tom divonis bersalah oleh pengadilan dalam kasus yang disebut bermuatan politis. Namun Prabowo, dengan hak prerogatifnya sebagai kepala negara, menyatakan bahwa tuduhan jaksa tidak terbukti secara faktual dalam persidangan.

Langkah ini bukan semata soal hukum, tetapi sinyal politik yang sangat penting: Indonesia tengah bergerak menuju rekonsiliasi nasional pasca era Jokowi, yang selama dua periode kepemimpinannya dikenal dengan praktik hukum yang dinilai sering dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan.

Apa yang dilakukan oleh Prabowo ini bukanlah sesuatu yang baru, karena dalam sejarah politik pernah terjadi dibeberapa tempat demi menyelamatkan negara dari perpecahan serta menjadikan hukum sebagai panglima dalam menyelamatkan demokrasi. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh BJ Habibie ketika menjabat sebagai presiden, memberi ruang kepada mereka yang pernah berseberangan dengan orde baru untuk bersama membangun pemerintahan yang demokratis. Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Gus Dur bagaimana menyelesaikan masa lalu dengan Rekonsilasi dengan memberi kesempatan setara kepada mereka yang pernah dituduh sebagai bagian dari aktivis yang beraliran kiri.


“Pembebasan Tom Lembong bukan sekadar keputusan hukum, melainkan isyarat bahwa Presiden Prabowo ingin menata ulang lanskap keadilan dan rekonsiliasi nasional.”

Politik Dendam Era Jokowi

Selama 10 tahun kepemimpinan Jokowi, tak sedikit politisi oposisi yang merasakan tajamnya alat negara. Anies Baswedan adalah salah satunya. Kasus Formula E yang tak kunjung jelas ujungnya, tekanan terhadap KPK untuk terus menyidik, dan kriminalisasi politisi kritis menjadi catatan gelap demokrasi era Jokowi.

"Politik Jokowi adalah politik eliminasi: siapa yang tak tunduk akan disingkirkan, bahkan dipenjara."

Namun rakyat melawan. Publik membela Anies dalam Pilpres 2024, dan meski tak menang, suara oposisi tetap signifikan. Prabowo yang saat itu didukung penuh oleh Jokowi, justru kini tampak mengambil jarak.

Isu Pemakzulan Gibran: Jalan Menuju Transisi?

Di tengah dinamika ini, isu pemakzulan Gibran Rakabuming Raka, putra Jokowi, mulai ramai diperbincangkan. Usulan sudah masuk ke DPR. Gibran menjadi Wapres dengan cara kontroversial?"putusan Mahkamah Konstitusi yang diubah demi meloloskannya, dengan pamannya, Anwar Usman, sebagai aktor utama.

Jika pemakzulan ini berlanjut, maka posisi wakil presiden akan kosong, dan Prabowo punya peluang konstitusional menunjuk pendamping baru. Banyak yang berspekulasi: mungkinkah Anies Baswedan, sahabat lama Prabowo yang sempat ia dukung saat Pilgub DKI Jakarta, akan diajak kembali ke dalam satu barisan?

“Rekonsiliasi Prabowo-Anies bisa menjadi jembatan menuju demokrasi yang lebih beradab dan inklusif.”

Jejak Rekonsiliasi Politik di Indonesia

Rekonsiliasi bukan hal baru dalam sejarah politik kita. Presiden Abdurrahman Wahid, misalnya, pernah mengangkat Laksamana Sukardi dari PDIP sebagai menteri meski sebelumnya berseberangan tajam. Presiden SBY bahkan merangkul tokoh-tokoh Golkar saat ia memenangi Pilpres 2004. Jokowi pun?"meski kemudian berubah?"pernah mengajak Prabowo masuk kabinet pasca Pilpres 2019.

Namun semua itu tampak transaksional. Prabowo kini berpotensi menorehkan rekonsiliasi yang lebih otentik, yaitu rekonsiliasi yang berpijak pada penghormatan hukum, penghentian kriminalisasi politik, dan pembukaan ruang baru untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap demokrasi.

“Rekonsiliasi bukan sekadar berbagi kekuasaan, tapi merajut kembali benang kusut bangsa akibat politik dendam.”

Menuju Indonesia Baru

Jika benar Gibran dimakzulkan dan Anies masuk sebagai wapres, Indonesia akan memasuki fase baru: gabungan kekuatan nasionalis, Islam moderat, dan masyarakat sipil progresif. Gabungan ini bisa menjadi motor penggerak demokrasi yang substantif?"bukan hanya prosedural.

“Post-Jokowi adalah momentum koreksi. Prabowo punya peluang besar menulis sejarah sebagai pemimpin rekonsiliator, bukan penerus politik intimidasi.”

Sebuah Renungan

Kebijakan abolisi Tom Lembong membuka pintu diskursus baru: bahwa demokrasi bisa tumbuh dari keberanian mengoreksi masa lalu. Rekonsiliasi bukan kelemahan, tetapi jalan menuju kekuatan sejati sebuah bangsa: konsensus dan keadilan.

*Pegiat Pendidikan dan Perlindungan Anak, Wakil Ketua ICMI Jawa Timur, Dosen di STT Multimedia Internasional Malang dan Dewan Pakar LHKP PD Muhammadiyah Surabaya.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Utang dan Delusi Pembangunan

Rabu, 16 September 2026 | 05:52

Tak Ulangi Kesalahan Purbaya, Suahasil Diharapkan Terus Gelorakan Ekonomi Konstitusi

Rabu, 16 September 2026 | 05:22

Pengukuhan Pengurus PERKAPI Bakal Dihadiri Menhum dan Ketua Komisi XIII DPR

Rabu, 16 September 2026 | 04:44

Fungsi KDKMP yang ‘Disabotase’

Rabu, 16 September 2026 | 04:24

Menhan Sjafrie Apresiasi Bantuan Jepang dalam Atasi Karhutla

Rabu, 16 September 2026 | 03:57

Politikus Senior PKS: PPHN Jangan jadi RPJPN Kedua

Rabu, 16 September 2026 | 03:30

38 Aset Senilai Rp846 Miliar Disita Kejagung dalam Kasus Febrie

Rabu, 16 September 2026 | 03:03

Kegiatan Belajar di SMPN 16 Medan Pulih 100 Persen Usai Dilanda Banjir

Rabu, 16 September 2026 | 02:48

WNA Malaysia Laporkan Pamen Polri Terkait Kasus Investasi Emas ke Bareskrim

Rabu, 16 September 2026 | 02:24

Kemensos Apresiasi Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Sulsel Mulai Beroperasi

Rabu, 16 September 2026 | 01:59

Selengkapnya