Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Ghirah yang Kian Gersang

JUMAT, 01 AGUSTUS 2025 | 06:30 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

ADA yang tak biasa dari raut wajah sang profesor gaek pagi itu. Tatapannya tidak menatap buku, bukan pula meresapi tafsir; melainkan memandangi anak-anak muda di sekitar masjid, yang tampak lebih khusyuk memperbaiki filter wajah ketimbang memperbaiki wudhu mereka.

Tangannya yang sepuh menggenggam tasbih, tetapi pikirannya sibuk mencatat gejala sosial yang kian hari makin sulit disangkal: hilangnya ghirah beragama di tengah generasi yang katanya religius. Kesimpulan ini ditulisnya dengan singkat, lalu disebarnya ke media sosial.

Prof. Asep Usman Ismail bukan orang baru dalam dunia pendidikan Islam. Ia telah makan asam garam dari ibtidaiyah hingga senat akademik. Tapi kali ini ia turun langsung ke medan umat, bukan untuk memberi seminar, melainkan untuk mengamati lebih dalam.


Ia menyimak denyut nadi iman yang perlahan-lahan terdengar seperti detak baterai handphone tua: nyaris habis. “Saya temukan penyakit yang krusial di kalangan anak muda generasi baru,” katanya dengan nada lirih, “dan bisa kronis kalau dibiarkan.”

Ia menyebutnya penyakit hilangnya ghirah beragama, sebuah istilah yang barangkali kini jarang terdengar di mimbar Jumat, apalagi dalam keseharian kita. Ini jenis penyakit sosial yang menghantui masyarakat dari zaman ke zaman.

Ghirah, kata Buya Hamka dalam bukunya Ghirah: Cemburu Karena Allah, adalah “semangat batin yang membuat seorang mukmin merasa gelisah bila syariat ditinggalkan, dan bangga bila ia bisa menegakkan agama.” Dalam satu kalimat terkenalnya, ia menulis:

“Orang yang tak lagi cemburu bila agamanya diabaikan, sejatinya telah hilang rasa cinta kepada-Nya.”

Sayangnya, cinta yang hilang itu kini disembunyikan dalam balutan konten Islami. Abai terhadap agama bukan lagi karena tidak tahu, tapi karena tak terasa penting. Maksudnya: abai dalam menjalankan perintah agama, sambil tetap merasa religius.

Para milenial bisa hafal nama-nama ulama dari thumbnail YouTube, tapi gemetar mencari arah kiblat saat baterai mati. Salat bukan lagi dimaknai sebagai dialog ruhani, tapi sekadar jeda beberapa menit di antara dua notifikasi.

Profesor Asep mencatat yaitu generasi sekarang tahu agama, tapi sebatas wacana. Mereka bisa menjelaskan fikih tayamum dengan tiga dalil, tapi tetap memilih skip salat magrib karena nonton drama Korea yang “tinggal dikit lagi tamat.”

Bahkan ada yang dengan mantap berkata, “Nanti saya salat kalau sudah dapat feel-nya.” Entah sejak kapan ibadah harus menunggu mood. Seolah perasaan dan kewajiban agama bisa jadi variabel fleksibel untuk menentukan arah: ke jurang neraka Wail atau ke taman Surga.

Fenomena ini tidak muncul dari ruang hampa. Ia lahir dari pergeseran fungsi pendidikan agama. Yang tadinya menanamkan iman, kini sekadar menyampaikan informasi. Guru-guru agama dipaksa menyelesaikan silabus, bukan menyalakan hati.

Salat akhirnya hanya menjadi soal pilihan ganda, bukan panggilan suci. “Saya temukan,” katanya, “anak-anak bisa menjelaskan rukun iman, tapi tidak merasakan iman. Mereka tahu Allah Maha Melihat, tapi lupa bahwa kamera CCTV masjid juga melihat mereka rebahan waktu azan.”

Di rumah, agama diajarkan seperti menyuruh makan sayur: wajib tapi tidak disukai. Alih-alih mengajak anak ke masjid, orang tua justru berkata, “Kamu saja yang salat, Bapak masih capek.” Maka jangan heran bila ghirah itu menguap, karena yang ditiru lebih kuat dari yang diajarkan.

Kang Asep, sambil menghela napas panjang dan memandangi kalender Hijriah yang makin ditinggalkan, menawarkan jalan keluar yang tak muluk-muluk. Ia bilang, “Kita tidak butuh program hebat. Kita butuh hati yang terus dinyalakan agar senantiasa hidup.”

Ia memberi contoh: para guru di madrasah, atau ibu-ibu di rumah, hendaknya rajin menceritakan kisah-kisah yang menghidupkan iman. Kisah para pahlawan Muslim yang dulu membakar semangat umat sepanjang zaman patut jadi santapan anak-anak.

Salahuddin Al-Ayyubi yang tak pernah meninggalkan salat malam di tengah medan jihad, atau Muhammad Al-Fatih yang hafal Qur’an sebelum menaklukkan Konstantinopel, jangan sampai kalah pamor oleh tokoh anime yang bisa berubah bentuk kalau sedang marah.

Menurut Asep, generasi kita butuh kisah nyata, bukan sekadar fiksi manhwa. Di sebuah sore yang senyap, setelah berjamaah hanya berdua dengan marbot masjid, tak jarang ia menatap bangku-bangku kosong dan berbisik: “Kita sedang kekurangan bukan jamaah, tapi ghirah.”

Barangkali, sudah waktunya kita bertanya: mengapa generasi ini tahu agama, tapi tidak menghayatinya? Mengapa mereka hafal nama-nama surah, tapi tak tergugah oleh maknanya? Jawabannya, kata Buya Hamka, mungkin sesederhana ini:

“Iman yang tak diberi cinta akan menjadi beku. Dan ghirah yang tak dipelihara akan menjadi debu.”

Di zaman ketika semua hal bisa dijadwal dan dijeda, hanya satu yang tidak boleh ikut-ikutan, iman. Karena jika ghirah itu benar-benar mati, jangan salahkan mereka bila suatu hari nanti bertanya, “Salat itu wajib, ya? Masih relevan nggak sih?”

Dan ketika itu terjadi, barangkali satu-satunya yang bisa kita katakan hanyalah ungkapan penyesalan yang terlambat: “Maaf, kami terlalu sibuk mengajarkan agama, sampai lupa menghidupkan dan menyalakan iman di dada.”

Esai ini saya tulis sebagai bentuk keprihatinan, bukan cercaan. Didedikasikan kepada Prof. Asep Usman Ismail, Buya Hamka, dan setiap guru kehidupan yang terus menyalakan ghirah di tengah gelombang gawai dan ghibah.

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya