Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Religius Tapi Korupsi

RABU, 30 JULI 2025 | 06:44 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

NEGERI ini katanya negeri beragama. Azan lima waktu bersahut-sahutan, masjid megah berdiri di setiap blok, dan khutbah Jumat seringkali terdengar lebih panjang daripada rapat DPR yang gagal kuorum. Tapi entah mengapa, angka korupsi kita tetap saja melesat seperti harga cabai saat Lebaran.

Saya tidak mengatakan agama tak berguna. Tapi seperti SIM, agama itu ada yang asli, ada pula yang “nembak”. Banyak warga negeri ini yang tampaknya hanya lulus “tes fikih”, tapi tak pernah menyentuh pelajaran “akhlak lanjutan”.

Seperti kata Profesor Mahmud Erol Kilic dari Turki, dalam suatu diskusi di Jakarta belum lama ini, agama yang diajarkan di negeri-negeri Muslim terlalu fokus pada syariat teknis seperti salat, puasa, zakat.


Soal larangan mencuri uang rakyat? Jarang disentuh, apalagi dikhutbahkan. Seolah-olah selama sujudnya mendalam dan sedekahnya mengalir deras, maka rekening siluman pun dianggap halal.

Ajaibnya, kadang uang hasil rampokan berjamaah justru dijadikan modal mendekati surga. Bangun masjid pakai dana haram, lalu bangganya setengah mati: “Biar uang saya dulu gelap, sekarang sudah dibersihkan lewat program wakaf.” Maaf, Pak, itu bukan dibersihkan, tapi dicuci, dan dalam hukum, itu disebut money laundering.

Survei Pew Research 2024 menobatkan Indonesia sebagai negara paling religius. Saya tidak kaget. Soal jumlah masjid, hafalan doa, dan peziarah kuburan wali, kita mungkin memang nomor satu.

Tapi mari bandingkan dengan CPI (Corruption Perception Index) dari Transparency International: tahun 2024, Indonesia ada di peringkat 99 dari 180. Syukurlah, naik dari posisi 115. Berarti masih banyak ruang untuk turun lagi.

Tapi ini sungguh ironi bertingkat: kita menjadi negara yang paling rajin berdoa, tapi juga paling rajin mengambil uang yang bukan haknya. Kita percaya pada hari Kiamat, tapi seringkali lebih takut audit BPK daripada azab Tuhan. Kita takut makan babi, tapi santai makan uang bansos.

Mari kita jujur: korupsi kita bukan cuma soal sistem. Ini soal etos, atau lebih tepatnya, kehilangan etos. Kalau ibadah dijadikan jubah untuk menutupi kejahatan, maka religiusitas bukan lagi alat penyucian diri, tapi kosmetik sosial.

Kita berdoa, tapi sambil mencurangi pajak. Kita menangis dalam zikir, lalu bersorak saat memenangkan tender fiktif.

Kadang saya heran, mungkin di neraka ada jalur khusus untuk para koruptor religius: antrean panjang lengkap dengan peci dan gamis, masing-masing bawa tasbih dan daftar proyek siluman. Lalu malaikat bertanya: “Ini pahala dari sedekah, atau hasil dari markup paving block kantor desa?”

Kita tidak kekurangan ustaz, kiyai, atau penceramah motivasional. Tapi kita kekurangan pemuka yang berani bicara korupsi sebagai kejahatan akhlak, bukan sekadar dosa ringan yang bisa dimaafkan dengan umrah VIP.

Kita butuh ulama yang membahas soal ghulul (penggelapan harta umat) lebih dari sekadar hukum potong tangan pencuri sandal.

Bayangkan, kalau setiap khutbah Jumat di negeri ini menyelipkan ayat tentang kejujuran, ancaman neraka bagi pengkhianat amanah, dan larangan keras menilep dana bansos, mungkin negeri ini akan lebih cepat beres daripada harus nunggu reshuffle kabinet.

Agama adalah cahaya, begitu kata para sufi. Tapi kalau lampu itu dicolokkan ke kabel korup, maka cahayanya cuma ilusi. Kita tak bisa terus membanggakan religiusitas jika akhlak kolektif kita macet di simpang etik.

Mungkin, negeri ini bukan kekurangan agama, tapi kelebihan dalih. Kita terlalu sering mencari pembenaran, bukan pertobatan. Dan sampai kita mengakui bahwa korupsi itu bukan sekadar pelanggaran hukum, tapi pengkhianatan iman, maka negeri religius ini akan terus jadi ironi, tempat surga dijanjikan, tapi neraka yang dibangun.

Maaf, catatan ini bukan untuk mereka yang jujur dan diam-diam bekerja tanpa pamrih. Ini untuk yang merasa dirinya “wakil Tuhan”, tapi ternyata hanya wakil dari rekening gelap.


Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya