Berita

Sebuah pesawat menjatuhkan bantuan kemanusiaan melalui udara di atas Gaza, Jalur Gaza utara/Net

Global

IDF Jatuhkan Bantuan ke Gaza dari Udara, PBB: Tidak Efisien dan Berisiko

MINGGU, 27 JULI 2025 | 10:33 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Militer Israel mengumumkan telah memulai pengiriman bantuan kemanusiaan melalui udara ke Jalur Gaza di tengah meningkatnya krisis kelaparan yang melanda wilayah tersebut. 

Dalam pernyataan resmi yang dirilis Minggu pagi, 27 Juli 2025, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan bahwa penerjunan bantuan telah dilakukan baru-baru ini dan mencakup tujuh paket berisi tepung, gula, serta makanan kaleng.

"Pengiriman bantuan dilakukan dengan koordinasi bersama organisasi-organisasi internasional dan dipimpin oleh COGAT," ujar IDF, merujuk pada badan militer Israel yang menangani urusan sipil di wilayah pendudukan Palestina. 


IDF juga merilis sebuah video yang diklaim menunjukkan pesawat militer menjatuhkan bantuan ke wilayah Gaza, meskipun rekaman itu belum diverifikasi secara independen.

Langkah ini diambil menyusul tekanan internasional yang kian meningkat terhadap Israel agar membuka akses kemanusiaan ke Gaza, tempat sekitar dua juta penduduk mengalami kekurangan pasokan makanan dan air sejak perang dimulai. 

Meskipun demikian, militer Israel membantah tuduhan bahwa mereka sengaja menciptakan kelaparan massal. 

"Kami menolak klaim palsu tentang kelaparan yang disengaja di Gaza," tegas IDF, seperti dimuat BBC. 

Israel sebelumnya juga telah menyatakan kesiapannya untuk membuka koridor kemanusiaan dan menerapkan "jeda kemanusiaan di daerah-daerah padat penduduk". 

IDF mengklaim telah memulihkan pasokan listrik ke salah satu pabrik desalinasi utama di Gaza yang akan melayani sekitar 900.000 penduduk.

Namun, langkah-langkah tersebut dipandang belum cukup oleh komunitas internasional dan badan-badan bantuan. 

Kepala UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina, Philippe Lazzarini, menyebut penerjunan udara sebagai solusi yang tidak tepat. 

"Pengiriman bantuan melalui udara mahal, tidak efisien, dan bahkan dapat membunuh warga sipil yang kelaparan jika tidak dilakukan dengan tepat," ujarnya.

Lazzarini juga mengungkapkan bahwa lebih dari 6.000 truk bermuatan bantuan saat ini tertahan di perbatasan Yordania dan Mesir, menunggu izin masuk ke Gaza. 

"Kami mendesak Israel untuk mencabut pengepungan, membuka gerbang, dan menjamin akses yang aman dan bermartabat bagi orang-orang yang membutuhkan," tegasnya.

Kekhawatiran serupa disuarakan oleh warga Gaza. Seorang penduduk di Gaza utara mengatakan kepada BBC bahwa metode penerjunan udara justru berisiko tinggi. 

"Bantuan bisa jatuh di atas tenda-tenda dan menyebabkan cedera serius, bahkan kematian," ujarnya.

Sementara itu, krisis kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas melaporkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, setidaknya 125 orang, termasuk 85 anak-anak, telah meninggal akibat kekurangan gizi. 

Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menggambarkan situasi ini sebagai "kelaparan massal buatan manusia".

Israel dan sekutunya, termasuk Amerika Serikat, juga mendukung Gaza Humanitarian Foundation (GHF) untuk menyalurkan bantuan ke wilayah tersebut. Namun, sejak beroperasi akhir Mei, organisasi itu juga dikaitkan dengan insiden mematikan. 

Laporan menyebut warga Palestina terbunuh saat berkerumun di titik distribusi bantuan. Saksi mata menyalahkan pasukan Israel, namun IDF mengklaim hanya melakukan tembakan peringatan dan menyalahkan Hamas atas kekacauan yang terjadi.

Israel memulai perang di Gaza sebagai respons atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya di wilayah Israel selatan. Sejak itu, lebih dari 59.000 orang dilaporkan tewas di Gaza, menurut otoritas kesehatan lokal.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggerebekan Pesantren

Senin, 02 November 2026 | 18:26

DPR Gandeng Kementerian PPPA Dorong Gerakan Nasional Antibullying

Senin, 02 November 2026 | 18:20

Gibran Ingatkan Ancaman Hoaks terhadap Kerukunan Masyarakat

Senin, 02 November 2026 | 18:06

Antisipasi Gangguan Selat Hormuz, Chandra Asri Bangun Fasilitas Pengganti Nafta

Senin, 02 November 2026 | 18:02

Program Kemenag Harus Sejalan dengan Visi-Misi Prabowo

Senin, 02 November 2026 | 17:41

Kemenhaj Rekrut Tenaga Pendukung untuk Urus Visa Haji 2027

Senin, 02 November 2026 | 17:34

Ahmad Doli Harap Pimpinan Parpol Segera Bertemu Bahas Gibran

Senin, 02 November 2026 | 17:31

Gibran Tetap Blusukan ke Daerah di Tengah Polemik Putusan MA dan MK

Senin, 02 November 2026 | 17:25

Kesejahteraan Rakyat di Daerah Tambang Nikel Harus jadi Perhatian Pemerintah

Senin, 02 November 2026 | 17:09

Cegah Kekerasan di Pesantren, Kemenag Buka Pelatihan Daring melalui MOOC Pintar

Senin, 02 November 2026 | 17:02

Selengkapnya