Berita

Presiden RI Prabowo Subianto didampingi Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar menyerahkan penghargaan kepada lima pesantren salafiyah transformatif/Ist

Politik

Lima Pesantren Salaf Transformatif Dianugerahi Penghargaan oleh PKB

JUMAT, 25 JULI 2025 | 11:01 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Dalam puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-27 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang berlangsung meriah di JCC Senayan, Jakarta, Presiden RI Prabowo Subianto didampingi Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar menyerahkan penghargaan kepada lima pesantren salafiyah transformatif yang dinilai berhasil menggabungkan tradisi, inovasi, dan kemandirian di era Revolusi Industri 4.0.

Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi PKB terhadap pesantren yang terus menjaga akar tradisi sambil secara adaptif dan inklusif menjawab tantangan zaman. 

Melalui program ini, PKB ingin menegaskan bahwa pesantren adalah pilar penting dalam membangun Indonesia yang berkarakter, mandiri, dan siap menghadapi masa depan.


“Kita butuh pesantren yang tidak hanya menjaga nilai, tapi juga membentuk generasi tangguh untuk Indonesia yang mandiri dan maju," kata Presiden Prabowo dalam sambutannya di puncak peringatan Harlah PKB, Rabu malam, 23 Juli 2025.

Sementara itu, Ketua Panitia Harlah PKB ke 27 Ahmad Iman Syukri menyatakan, penghargaan ini adalah bagian dari ikhtiar PKB memperkuat ekosistem pendidikan pesantren yang modern namun tetap berakar kuat pada tradisi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

"Peran pesantren-pesantren di Indonesia itu sangat besar, terutama dalam konteks pendidikan. PKB sadar akan hal itu, ditambah lagi mayoritas pengurus dan kader PKB itu santri," kata Iman lewat keterangan resminya, Jumat, 25 Juli 2025.

Lima Pesantren Transformatif penerima penghargaan yakni Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Cidahu, Pandeglang, Banten. Diasuh oleh Abuya Muhtadi Dimyathi, pesantren ini tetap kokoh dalam mengajarkan kitab kuning sekaligus terbuka pada digitalisasi sumber-sumber keilmuan. Dikenal dengan program dakwah terintegratif dan semangat kemandirian sosial, pesantren ini menjadi simbol pengabdian yang adaptif dan membumi.

Lalu Pondok Pesantren Internasional Asy-Syifa Al Mahmudiyah, Sumedang, Jawa Barat?Dipimpin oleh Abuya Prof. Dr. KH. Muhyiddin Abdul Qodir Almanafi, pesantren ini menonjol dengan kurikulum karakter berbasis nilai Islam, integrasi ilmu pengetahuan, dan lingkungan belajar yang kondusif. Pesantren ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai salafiyah mampu berdialog dengan semangat globalisasi pendidikan.

Kemudian Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah?Dirintis oleh almaghfurlah Syaikhina KH. Maimun Zubair, pesantren ini tetap istiqamah menjaga sistem pendidikan salafiyah yang kuat, namun terus mengikuti perkembangan zaman. Maqalah beliau yang terkenal, “Wajib bagi orang yang berakal mengetahui situasi zamannya,” menjadi dasar filosofi transformasi pesantren ini.

Selanjutnya Pondok Pesantren Salafy Terpadu Ar-Risalah Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Pesantren ini memadukan kekuatan salafiyah dengan inovasi teknologi melalui sistem informasi akademik berbasis aplikasi. Bahasa asing seperti Arab, Inggris, Jepang, dan Mandarin diajarkan, serta keterampilan abad 21 yang relevan. Alumni pesantren ini tersebar di berbagai universitas dalam dan luar negeri.

Terakhir, Pondok Pesantren Nahdliyin Agrobisnis, Gunung Lerang, Bone, Sulawesi Selatan. Mengembangkan konsep kemandirian ekonomi, pesantren ini membina santri dalam agribisnis; dari bercocok tanam, beternak, hingga pengolahan produk pangan. Dengan demikian, para santri tak hanya alim secara keilmuan, tapi juga mandiri secara ekonomi.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Mantan Menpora Dito Ariotedjo Hadir Bersama Habib Jindan di Safari Sholawat Lombok

Senin, 12 Oktober 2026 | 22:08

PLN Siapkan Integrasi EBT PLTP Wayang Windu Unit 3 ke Sistem Kelistrikan Jabar

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:54

Gaduh Dugaan Aturan Selundupan, Doli Sentil Hasyim: Jabatan Komisaris Hadiah dari Siapa?

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:44

Sertijab Menlu, Arrmanatha Tegaskan Arah Polugri Indonesia Tidak Berubah

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:28

Kades Ciangsana Bakal Mediasi Polemik Bangunan 480 Meter Persegi di Coatesville

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:07

Bank Jakarta dan PAM Jaya akan Melantai di Bursa, Ini Respons Senator Fahira

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:37

Berat Langkah IHSG Kembali ke 9.000, Saham Konglo Tak Akan Bangkit?

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:28

Danantara Diandalkan Pacu Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:22

AMDK dan Komoditas Mamin Harus Dikecualikan dalam Pelarangan Truk Sumbu 3

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:21

Komisi II Buka Peluang RDP Bahas Putusan MK pada Gibran

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:02

Selengkapnya