Berita

Sidang terbuka promosi doktor Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara di Universitas Padjadjaran. (Foto: dok. pribadi).

Publika

Gemoy dan Membaca Arah Pilpres dari Eklektisisme Perilaku Pemilih

JUMAT, 11 JULI 2025 | 16:06 WIB | OLEH: R. MUHAMMAD ZULKIPLI*

HARI INI, 11 Juli 2025, saya menghadiri sidang terbuka promosi doktor sahabat saya, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, di Universitas Padjadjaran, Bandung. Bukan hanya karena kualitas akademiknya, tetapi karena konteks personalnya: seorang sahabat yang saya kenal sejak masa dinasnya di TNI.

Ia salah satu perwira terbaik angkatan, yang memilih jalan pensiun dini untuk kemudian menyelami ruang publik sebagai pelayan publik, akademisi, dan pegiat demokrasi.

Disertasinya mengangkat tema yang terasa sangat tepat waktu: “Eklektisisme Perilaku Memilih dalam Pilpres 2024.” Ia tidak sekadar menulis dari ruang baca, tapi merekam denyut kenyataan yang kita alami bersama: pemilih Indonesia tak lagi bisa dipahami dengan satu teori saja.


Politik Tak Lagi sekadar Rasional

Dalam risetnya, Iftitah menggunakan pendekatan multidimensi. Ia gabungkan perspektif demografi, psikososial, ekonomi politik, efek media, hingga kekuatan logistik.

Dan kesimpulannya sangat jelas: pemilih Indonesia semakin eklektik: menggabungkan logika dan perasaan, struktur dan simbol, harapan dan keresahan.

Survei Litbang Kompas (Januari 2024) menguatkan hal ini. Lebih dari 37 persen pemilih menyatakan bahwa “kedekatan emosional dan gaya komunikasi kandidat” lebih menentukan pilihan mereka ketimbang program.

Saat 'Gemoy' Menjadi Bahasa Elektoral

Iftitah menyebutnya sebagai pembentukan public mood: suasana batin kolektif yang lahir dari komunikasi, gestur, dan representasi simbolik. Kata-kata seperti blusukan atau gemoy yang dulu dianggap ringan, ternyata membentuk rasa keterhubungan yang tidak bisa diabaikan.

Orang tidak memilih karena data semata. Mereka memilih karena merasa dekat, merasa diajak bicara sebagai manusia.

Inilah apa yang disebut Kahneman sebagai rasionalitas berbasis afeksi. Logika tidak berjalan sendiri; ia berdampingan dengan perasaan. Bahkan dalam pemilu.

Di Antara UU Pemilu dan Realitas Sosial

Kita tahu, secara normatif, Pasal 1 UU 7/2017 menyatakan bahwa pemilu harus langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Tapi realitas sosial punya logikanya sendiri. Bagi banyak rakyat, kehadiran figur, bantuan sosial, hingga bahasa tubuh calon presiden sering lebih nyata dari semua janji tertulis.

KPU mencatat bahwa lebih dari separuh dari 204 juta pemilih 2024 adalah generasi muda: Gen Z dan milenial. Mereka tidak hanya membaca visi misi. Mereka menyerap sinyal, menangkap energi, merespons keaslian. Dunia mereka dibentuk oleh meme, narasi pendek, dan visual yang berbicara cepat.

Tantangan bagi Politikus dan Tim Sukses

Pesan utama dari disertasi ini sangat sederhana tapi tajam: jangan meremehkan kompleksitas rakyat. Tidak ada satu metode kampanye yang bisa menjangkau semua kalangan. Baliho, program ekonomi, bahkan popularitas digital: semuanya penting, tapi tidak cukup sendiri-sendiri.

Yang dibutuhkan hari ini adalah strategi yang lentur dan peka. Politik yang tidak hanya memproduksi janji, tapi juga menghadirkan pengalaman afektif. Figur yang bukan hanya bisa debat, tapi juga bisa dipahami dan dipercaya.

Demokrasi Kita Hari Ini

Pilpres 2024 adalah bukti bahwa demokrasi Indonesia sedang naik kelas. Rakyat tak bisa lagi dimobilisasi begitu saja. Mereka melihat, membandingkan, menunggu, dan: YA, merasa. Di sinilah kekuatan sekaligus kerumitannya.

Disertasi Iftitah bukan sekadar kontribusi akademik. Ia adalah refleksi dari demokrasi yang kita jalani hari ini: demokrasi yang tidak lagi linier, tapi organik. Yang tidak bisa dibaca dengan hitung-hitungan kasar, tapi dengan empati dan pemahaman sosial.

Sebagaimana yang disampaikan Einstein dengan kerendahan hati, “Politics is more difficult than physics.” Dan ternyata benar bahwa Politik Indonesia adalah arena di mana akal dan rasa bertemu, bercampur, dan membentuk keputusan kolektif yang tak mudah ditebak.

Di titik inilah kita diingatkan: jangan menyederhanakan rakyat. Karena justru di dalam kerumitannya, demokrasi menemukan maknanya: bukan dalam keseragaman, tapi dalam keberanian untuk membaca keragaman.

*Penulis adalah praktisi di bidang manajemen

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Roy Suryo: Gibran Copy Paste Jokowi Bahkan Lebih Parah

Kamis, 30 April 2026 | 01:58

Kompolnas dan Agenda Reformasi Aparat Sipil Bersenjata

Kamis, 30 April 2026 | 01:45

Polemik Dugaan Suap Pendirian SPPG di Sulbar Dilaporkan ke Polisi

Kamis, 30 April 2026 | 01:18

HNW: Bila Anggota OKI Bersatu bisa Kendalikan Urat Nadi Perdagangan Dunia

Kamis, 30 April 2026 | 00:55

Menhan: Prajurit jadi Motor Pembangunan Selain Jaga Kedaulatan

Kamis, 30 April 2026 | 00:37

Satgas OJK Blokir 951 Pinjol Ilegal Ungkap Deretan Modus Penipuan Keuangan

Kamis, 30 April 2026 | 00:19

Investasi Bodong dan Bias Sistem Keuangan

Rabu, 29 April 2026 | 23:50

Pelaporan SPT 2025 Masih di Bawah Target Jelang Deadline

Rabu, 29 April 2026 | 23:36

Komunikasi Publik Menteri PPPA Absurd dan Tidak Selesaikan Persoalan!

Rabu, 29 April 2026 | 23:09

Pemanfaatan Listrik Harus Maksimal Dongkrak Kemandirian Desa

Rabu, 29 April 2026 | 22:43

Selengkapnya