Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Kopdes Merah Putih dan Paksaan

Oleh: Suroto*
SELASA, 08 JULI 2025 | 04:41 WIB

DUNIA hari ini memang banyak yang terkena efek myopik untuk melihat sesuatu itu hanya yang dekat dengannya, seperti melihat koperasi dalam keseharian yang hanya dipahami sebagai organisasi - mikro, bahkan hanya sebagai  jenis jenis badan usaha semata. 

Padahal, koperasi itu bukan hanya urusan imanen, penuhi kebutuhan pragmatis sehari hari tapi juga yang spiritual, transendental...penuhi kewajiban alam untuk ciptakan keadilan dan kemanusiaan.

Koperasi desa yang dari sejak awal bertentangan dengan  prinsip dan nilai koperasi seperti kemandirian, otonomi, demokrasi, partisipasi sadar warga  sebagai kekuatan koperasi agar langgeng, justru sesungguhnya berfungsi meruntuhkan ideologi koperasi. Ciptakan koperasi palsu, quasi koperasi. 


Negara yang ciptakan tekanan struktural untuk melegitimasi Koperasi Desa yang top down dan koersif, memaksa sebagai bentuk koperasi itu sudah cacat dari sejak dikonsep dan teori. Sehingga tak layak disebut sebagai koperasi. 

Salah seorang insan yang pernah mengabdikan diri pada Credit Union (CU) dan posisi sekarang menjadi Kepala Desa mengaku sangat dilematis dengan Koperasi Merah Putih. Di satu sisi ia sangat paham tentang Perkoperasian, tapi di sisi lain sebagai Kepala Desa, pihaknya mendapat tekanan agar tetap membentuk Kopdes Merah Putih. Jika tidak membentuk Kopdes Merah Putih maka Dana Desa tidak dicairkan tahap berikutnya. 
 
Saya pun menyarankan untuk buat perlawanan. Mereka tidak punya hak untuk menahan hak anda dan anda tidak melanggar apapun. Mereka yang berani mengancam anda yang  melanggar Konsitusi dan UU. Kalau  anda berani menyatakan secara terbuka maka akan banyak yang membela anda...Saat ini, bangsa ini  butuh keberanian untuk melawan kebobrokan....jangan remehkan diri anda, anda sangat kuat. Lawan!

Ini hanya pernyataan salah satunya. Di berbagai forum lain saya mendengar ancaman ancaman serupa. Beginikah cara mengelola republik ini?

*Penulis adalah Ketua Asosiasi Kades Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) 

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Jamaika Nilai Otonomi Sahara Maroko Solusi Paling Layak Ditempuh

Jumat, 25 September 2026 | 10:16

Dibayangi Ketidakpastian Global, Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Jumat, 25 September 2026 | 10:15

Wacana Pileg dan Pilpres Dipisah, Pengamat Ingatkan Konsekuensi Konstitusional

Jumat, 25 September 2026 | 10:06

KPK Telusuri Aset TPPU Milik Walikota Madiun Maidi, Periksa Sejumlah Saksi

Jumat, 25 September 2026 | 09:58

Syahganda Nazar Gunduli Kepala dan Umrah Jika Gibran Didiskualifikasi MK

Jumat, 25 September 2026 | 09:50

Impor Produk Halal Capai 31 Miliar Dolar AS, Indonesia Kejar Pasar Global

Jumat, 25 September 2026 | 09:48

IHSG Kembali Menguat, Tembus Level 6.300

Jumat, 25 September 2026 | 09:34

Gibran Masih Bocil, Lebih Cocok Jadi Camat Ketimbang Wakil Presiden

Jumat, 25 September 2026 | 09:30

Prabowo Bangga Indonesia Raih Emas Pertama di Asian Games 2026

Jumat, 25 September 2026 | 09:28

Bertemu Trump, Xi Jinping Ingatkan Bahaya Jebakan Thucydides

Jumat, 25 September 2026 | 09:00

Selengkapnya