Berita

Tentara Junta Myanmar/Net

Global

Junta Myanmar Bebaskan 93 Tentara Anak usai Dikecam PBB

JUMAT, 04 JULI 2025 | 15:23 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Junta militer Myanmar mengumumkan pembebasan 93 anak di bawah umur dari dinas militer. 

Langkah tersebut diambil setelah PBB menuduh mereka dan sekutunya merekrut ratusan anak, banyak di antaranya digunakan dalam pertempuran bersenjata.

Surat kabar resmi junta militer Global New Light of Myanmar pada Jumat, 4 Juli 2025 menyebut keputusan mereka memberhentikan 93 anak yang direkrut secara ilegal dari militer.


“Sampai saat ini, hanya 18 kasus dugaan anak di bawah umur yang masih menunggu verifikasi,” ujar Komite Pemerintah yang menangani isu ini dalam laporan resminya. 

Mereka menambahkan bahwa anak-anak yang diberhentikan juga telah menerima bantuan keuangan.

Langkah ini muncul setelah laporan Sekretaris Jenderal PBB bulan lalu yang menyatakan bahwa militer Myanmar dan kelompok bersenjata yang berafiliasi telah merekrut 467 anak laki-laki dan 15 anak perempuan sepanjang tahun lalu. 

Lebih dari 370 anak di antaranya dikonfirmasi telah digunakan dalam operasi tempur, terutama di negara bagian Rakhine yang bergolak.

PBB juga mencatat bahwa meskipun kelompok anti-junta juga merekrut anak-anak, skalanya jauh lebih kecil dibandingkan militer Myanmar dan sekutunya.

Myanmar telah berada dalam kekacauan sejak kudeta militer tahun 2021 yang menggulingkan pemerintahan sipil pimpinan Aung San Suu Kyi. Aksi unjuk rasa damai yang semula meluas berubah menjadi konflik bersenjata di hampir seluruh penjuru negeri. 

Saat ini, militer hanya mampu mempertahankan kendali atas wilayah dataran tengah negara tersebut, setelah kehilangan banyak daerah perbatasan ke tangan kelompok etnis dan milisi rakyat.

Pada 2024, junta kembali mengaktifkan undang-undang wajib militer demi mengisi kekuatan tempurnya yang terus terkuras. Anak-anak muda menjadi target utama perekrutan paksa, memicu keprihatinan internasional.

Data UNICEF menunjukkan hampir 3,5 juta warga Myanmar kini hidup mengungsi di dalam negeri akibat konflik, dan sepertiga dari mereka adalah anak-anak.

Menurut laporan PBB, wilayah Rakhine menjadi pusat tertinggi perekrutan anak, di mana sekitar 300 anak di bawah umur dipaksa bergabung dengan militer atau kelompok sekutu. 

Reuters sebelumnya juga melaporkan bahwa anak-anak Rohingya, bahkan yang berusia 13 tahun, telah dikerahkan ke garis depan pertempuran.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Hari Bakti, Lapas Cianjur Gelar Aksi Bersih-Bersih melalui Imipas Peduli

Jumat, 06 November 2026 | 22:35

Kejagung Sita Rp11,7 Miliar dalam Kasus Nikel Arif Kurniawan

Jumat, 06 November 2026 | 22:31

Kapolri Banjir Dukungan Bongkar Kasus Penyadapan

Jumat, 06 November 2026 | 22:21

Bank Mandiri Bukukan Laba Bank Only Rp46,5 Triliun

Jumat, 06 November 2026 | 22:19

Aturan Berubah, Ekspor ke Jepang hingga Uni Eropa Masuk Daftar Relaksasi

Jumat, 06 November 2026 | 22:06

11 Kreator Indonesia Siap Bersaing di TikTok Awards Southeast Asia 2026

Jumat, 06 November 2026 | 21:48

Singgung Jokowi-Gibran, Penyadapan Prabowo Diduga Bermuatan Politik

Jumat, 06 November 2026 | 21:39

Pegasus di Indonesia: Sekadar Mitos atau Ancaman Nyata?

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

MedcoEnergi Umumkan Penerbitan Obligasi Senilai 300 Juta Dolar AS

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

Ketika Listrik Membuka Peluang: Dari Rumah Tangga hingga Ekonomi Desa

Jumat, 06 November 2026 | 21:03

Selengkapnya