Berita

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Din Syamsuddin/Net

Dunia

Din Syamsuddin: Iran Berhak Membalas, Israel Harus Dilumpuhkan Demi Perdamaian

JUMAT, 20 JUNI 2025 | 12:09 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Din Syamsuddin, menyuarakan sikap tegas terhadap eskalasi konflik antara Iran dan Israel. 

Menurutnya, dunia tidak boleh tinggal diam menyaksikan ketidakadilan dan kekejaman yang terus terjadi di Timur Tengah. 

Ia menekankan bahwa meskipun perdamaian selalu menjadi harapan umat manusia, perlawanan terhadap kezaliman adalah suatu keharusan moral dan kemanusiaan.


"Sebagai warga dunia yang cinta damai, kita harus mendesakkan perang dihentikan karena hanya membawa malapetaka bagi dunia. Tapi, sebagai warga dunia yang cinta keadilan, kita mendukung perang terhadap kezaliman sampai perdamaian terwujud demi kemanusiaan yang adil dan beradab," tegas Din dalam pernyataannya, Jumat, 20 Juni 2025.

Ia menilai serangan Iran terhadap Israel bukan tindakan agresi sepihak, melainkan respons terhadap serangkaian serangan Israel sebelumnya, termasuk pembunuhan tokoh Hamas, Ismail Haniyah, di wilayah Iran.

"Serangan Iran atas Israel merupakan balasan atas serangan Israel terhadap Iran beberapa kali sebelumnya. Sebenarnya banyak pihak menunggu balasan Iran, terutama sejak Pemimpin Hamas Ismail Haniyah dibunuh Israel di wilayah Iran, tapi Iran masih bersabar dan baru sekarang membalas setelah serangan lanjutan Israel," jelasnya.

Din juga menyampaikan bahwa meski banyak yang berharap damai tanpa peperangan, agresi militer Israel terhadap Gaza, Lebanon, dan Iran telah melampaui batas. Oleh sebab itu, menurutnya, perlawanan Iran dan kelompok lain seperti Houthi di Yaman adalah hal yang dapat dipahami dan patut didukung.

"Walau hati sebagian kita menginginkan perdamaian tanpa perang, namun mengamati ulah Israel yang meluluhlantakkan Gaza, dan menyerang Lebanon (Selatan) dan Iran, maka balasan Iran termasuk Houthi di Yaman dapat dipahami, dan harus kita dukung. Kekejaman harus dilawan," tegasnya.

Terkait upaya Israel yang kini meminta dukungan Amerika Serikat, Din menyebut hal itu sudah terlambat. Ia bahkan menyatakan Israel harus dilumpuhkan sepenuhnya agar perdamaian yang sejati bisa tercipta.

"Kalau sekarang Israel seperti mengemis meminta tolong Amerika Serikat untuk membantu atau menghentikan serangan Iran, hal itu sudah terlambat. Israel harus dilumpuhkan dan dihancurkan sampai menyerah dan baru perdamaian di Timur Tengah terwujud," ucap Din, sambil mengutip adagium Latin, “si vis pacem, para bellum” yang berarti jika ingin damai, bersiaplah untuk perang.

Din juga memperingatkan bahwa keterlibatan lebih jauh dari Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya bisa memicu Perang Dunia Ketiga, terutama jika Iran mendapat dukungan dari negara-negara besar seperti Rusia, China, dan Pakistan.

Lebih lanjut, ia mendesak negara-negara Arab dan Dunia Islam untuk tidak berpangku tangan, dan agar menghentikan pengaruh sektarian yang melemahkan solidaritas Islam. 

"Saatnya untuk tidak melihat Iran sebagai Negara Syiah yang harus dikecam, tapi sebagai negara yang diserang secara kejam," ujarnya.

Ia mengkritik keras strategi lama Amerika Serikat yang disebutnya telah lama mengadu domba negara-negara Sunni dengan Iran Syiah dalam skenario perang perwakilan (proxy war) untuk menghancurkan Dunia Islam dari dalam.

"Sudah waktunya Dunia Islam mengesampingkan masalah ideologis/teologis antara Sunni dan Syiah, dan memusatkan kepentingan menghadapi Israel yang menjajah Palestina dan melakukan genosida atas rakyat Palestina," tambah Din.

Di akhir pernyataannya, Din menyerukan agar Indonesia mengambil langkah nyata sesuai amanat konstitusi untuk menegakkan perdamaian abadi dan menghapus penjajahan.

"Indonesia sebagai negara cinta damai dan keadilan, untuk bertindak nyata (bukan hanya dengan kata-kata), yaitu: menekan Israel menghentikan genosida; menekan Amerika Serikat untuk berhenti mendukung Israel; menghentikan kerja sama ekonomi langsung atau tidak langsung dengan Israel; serta menggalang solidaritas ASEAN dan OKI untuk mendukung kemerdekaan Palestina," tandasnya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya