Berita

Presiden China Xi Jinping/Net

Dunia

Hati-hati Tanggapi Konflik Iran-Israel, China Pilih Jalan Tengah

JUMAT, 20 JUNI 2025 | 07:18 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

China dinilai masih sangat berhati-hati dalam menanggapi konflik terbaru antara Iran dan Israel.

Meskipun sejak awal mengutuk serangan Israel ke Iran, Presiden China Xi Jinping belum menunjukkan niat untuk memberi bantuan militer atau senjata ke Teheran dan Beijing hanya menyerukan agar konflik tidak semakin parah dan meminta Amerika Serikat (AS) serta negara-negara lain untuk berdialog.

Sejauh ini, China juga belum memberikan bantuan nyata ke Iran selain menjaga hubungan dagang seperti biasa, pendekatan yang juga mereka terapkan terhadap Rusia.


Misalnya, meskipun China mendukung Rusia secara diplomatik dalam perang di Ukraina dan mengirimkan barang-barang yang bisa digunakan untuk sipil maupun militer, mereka tetap menghindari mengirim senjata langsung demi menghindari sanksi dari AS.

Sikap hati-hati ini juga terlihat ketika konflik antara Pakistan dan India memanas. China menyerukan penurunan ketegangan, tapi tidak ikut campur secara militer.

“China mungkin hanya akan memberi dukungan ekonomi dan retorika (pernyataan politik) kepada Iran, tapi belum sampai pada bantuan militer,” kata Wen-Ti Sung, peneliti di Atlantic Council, dikutip dari Bloomberg, Jumat 20 Juni 2025.

Menurutnya, China tidak ingin terseret dalam perang antara Iran dan Israel yang didukung AS di bawah pemerintahan Trump.

Berbeda dengan AS yang sering terlibat dalam konflik luar negeri, China di bawah kepemimpinan Xi menjalankan prinsip non-intervensi atau tidak ikut campur urusan dalam negeri negara lain. Pendekatan ini membuat China bisa lebih diterima di negara-negara berkembang, karena mereka menawarkan kerja sama ekonomi tanpa syarat politik.

Sikap China terhadap Iran mirip seperti terhadap Rusia. Keduanya dikritik oleh Barat, tapi China memilih mendukung secara terbatas, tanpa keterlibatan langsung.

Pada Kamis, 19 Juni 2025, Xi Jinping berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin lewat telepon membahas konflik Timur Tengah. Xi kemudian mengusulkan empat langkah untuk menyelesaikan konflik, termasuk gencatan senjata dan penghentian perang.

“Negara-negara besar yang punya pengaruh terhadap pihak-pihak yang bertikai harus berusaha menenangkan situasi,” ujar Xi, secara tidak langsung menyindir AS.

China memang punya hubungan diplomatik dan ekonomi yang erat dengan Iran, tapi tidak ada aliansi resmi. China juga mendukung bergabungnya Iran ke dalam Organisasi Kerja Sama Shanghai dan kelompok BRICS — sebagai upaya menantang dominasi AS secara global.

Dari sisi perdagangan, Iran sangat bergantung pada China. Sekitar sepertiga ekspor-impor Iran melibatkan China, sedangkan Iran hanya menyumbang kurang dari 1 persen dari total perdagangan China. Sebagian besar ekspor Iran ke China berupa minyak — sekitar 90 persen ekspor minyak Iran dibeli oleh Beijing, meskipun bertentangan dengan sanksi AS.

Namun, menurut Fitch Ratings, jika suatu saat ekspor minyak Iran terhenti, pasokannya masih bisa digantikan oleh negara-negara anggota OPEC+.

Meski China pernah menjadi penengah saat hubungan Iran dan Arab Saudi membaik tahun 2023, kali ini China tampak memilih untuk tidak terlalu terlibat dalam konflik baru di Timur Tengah.

Iran mungkin butuh bantuan militer seperti sistem pertahanan udara atau jet tempur, tapi kecil kemungkinan China akan memberikannya. China sendiri sejak 2005 sudah tidak menjual senjata utama ke Iran. Meski begitu, AS menuding beberapa perusahaan China dan Hong Kong tetap membantu Iran memperoleh suku cadang drone, dan sudah menjatuhkan sanksi atas hal ini.

Pilihan lain bagi China adalah menjadi penengah. Tapi walaupun Xi siap membantu, belum tentu Israel atau Iran menerima peran China. Israel, misalnya, kurang mungkin mempercayai China karena Beijing mendukung perjuangan Palestina. Selain itu, China lebih nyaman bekerja lewat lembaga internasional seperti PBB daripada tampil sendirian.

“Xi sudah menyatakan siap membantu, tapi pertanyaannya: apa yang bisa dilakukan China?” ujar Zhiqun Zhu, profesor hubungan internasional di Universitas Bucknell.

“Mediasi bukan hal mudah tanpa kerja sama dari pihak-pihak kunci lainnya, terutama AS,” tambahnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ijazah Gibran Jadi Bom Waktu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 02:03

Danantara Gelontorkan Rp4,4 Triliun untuk Masuk Bisnis Migas AS

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:31

PIP dan KIP Kuliah Tak Boleh Lagi Salah Sasaran

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:21

Jangan Korbankan Konektivitas Antar Pulau Gegara Kebijakan Panik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:09

Inilah Beda FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:34

Ahmad Doli Soroti Dugaan Bullying Bocah SD di Pemalang: Mukanya Lucu-lucu, tapi Berstatus Pembunuh

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:21

Gibran Tak Punya Ijazah SMA, Said Didu: Pemakzulan Bisa Lewat Proses Politik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:04

Danantara Penetrasi ke Ekosistem Aviasi Timur Tengah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:43

34 JPU Disiapkan Hadapi Sidang TPPU Febrie Adriansyah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:20

Juara Setelah 35 Tahun Menunggu

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:01

Selengkapnya