Berita

President Barack Obama awards psychologist Daniel Kahneman with the Presidential Medal of Freedom, 20 November 2013.

Publika

From Reaction to Reflection: Belajar Berpikir Lambat di Tengah Krisis Global

RABU, 18 JUNI 2025 | 12:17 WIB | OLEH: R. MUHAMMAD ZULKIPLI*

“Nothing in life is as important as you think it is, while you are thinking about it.” - Daniel Kahneman, Thinking, Fast and Slow.

DALAM menghadapi dinamika global yang begitu kompleks dan penuh tekanan -mulai dari konflik Timur Tengah hingga pertarungan pengaruh antar kekuatan besar dunia seperti G7 dan BRICS- ada satu pendekatan yang menurut saya layak kita gunakan kembali: berpikir lambat.

Pemikiran ini saya pinjam dari Daniel Kahneman, seorang peraih Nobel di bidang ekonomi perilaku, dalam bukunya yang telah menjadi rujukan lintas disiplin: Thinking, Fast and Slow. Kahneman membagi cara manusia berpikir dalam dua sistem: Sistem 1 yang cepat, intuitif, dan emosional; serta Sistem 2 yang lambat, penuh pertimbangan, dan rasional.


Dalam tataran kebijakan publik, terutama dalam geopolitik, kita tidak selalu dapat (dan tidak selalu perlu) bereaksi secara instan. Terlalu sering, keputusan strategis tergiring oleh tekanan opini publik atau dinamika digital global yang serba cepat. Padahal, seperti diingatkan Kahneman, keputusan yang terlalu mengandalkan Sistem 1 rawan terhadap bias kognitif: anchoring, availability bias, hingga groupthink. Semua itu dapat menyesatkan arah kebijakan, bukan karena niat buruk, tapi karena keterbatasan perspektif dan waktu.

Saya menyampaikan hal ini bukan sebagai kritik, melainkan sebagai bagian dari upaya reflektif dalam memperkuat bangunan kolektif kita sebagai bangsa. Saya percaya, Presiden Prabowo dan seluruh jajaran pemerintahan memiliki niat yang tulus dan arah visi yang kuat untuk membawa Indonesia tampil sebagai kekuatan yang berdaulat dan disegani di tengah peta dunia yang berubah. Justru karena kepercayaan itulah, kita semua yang turut berperan -baik di dalam birokrasi maupun di ruang publik- perlu saling mengingatkan bahwa kehati-hatian bukanlah kelemahan, dan menunda keputusan bukanlah kelambanan, melainkan bentuk kedewasaan strategis.

Indonesia tidak pernah dibentuk oleh kecepatan semata. Proklamasi 17 Agustus 1945 bukanlah hasil dari ledakan spontan, tetapi puncak dari proses panjang kesadaran dan perjuangan kolektif. Dari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, hingga kecermatan para pendiri bangsa membaca konstelasi global pasca-Perang Dunia II. Bung Karno dan Bung Hatta memilih waktu yang paling tepat, setelah mempertimbangkan seluruh variabel -baik dari dalam maupun dari luar. Itu adalah keputusan bersejarah yang lahir dari Sistem 2: tenang, strategis, dan selamat.

Dalam suasana internasional saat ini, kita pun bisa belajar dari warisan itu. Bahwa dalam banyak hal, kemampuan tidak segera menjawab adalah kemewahan intelektual yang harus dipelihara. Tidak semua isu global harus kita sikapi dengan reaksi cepat. Kadang, menunggu dan mendengarkan lebih dahulu memberi ruang untuk melihat apa yang belum tampak di permukaan.

Kita patut terus membangun posisi Indonesia di panggung global dengan kehormatan dan keteguhan, tanpa terombang-ambing oleh logika blok atau tekanan sesaat. Diplomasi yang matang bukanlah diplomasi yang keras suara, tapi yang kuat akal dan dalam pertimbangannya.

Kahneman, dalam penutup bukunya, menulis: “Our comforting conviction that the world makes sense rests on a secure foundation: our almost unlimited ability to ignore our ignorance.”

Kita perlu rendah hati untuk menyadari bahwa kita tidak selalu tahu semua. Tapi justru dari sanalah kita bisa mulai membangun keputusan yang benar.

Dan untuk itu, saya mengajak kita semua menghidupkan kembali warisan etika berpikir bangsa ini. Seperti diingatkan oleh Sutan Sjahrir: “Pikiran manusia tidak akan cukup luas untuk menampung seluruh kebenaran, tetapi cukup untuk menolak kesalahan yang nyata.”

Di tengah krisis global hari ini, barangkali itu yang paling kita butuhkan: bukan kepastian, tetapi kerendahan hati untuk menolak tergesa, dan keberanian untuk memilih berpikir lebih lambat -agar kita bisa selamat, bukan hanya hari ini, tetapi untuk masa depan yang panjang.

*Penulis adalah praktisi di bidang manajemen.

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

AS Siapkan Operasi Militer Jangka Panjang Terhadap Iran

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:15

Tips Menyimpan Kue Keranjang Agar Awet dan Bebas Jamur Hingga Satu Tahun

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:09

10 Ribu Warga dan Polda Metro Siap Amankan Ramadan

Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:54

Siap-Siap Cek Rekening! Ini Bocoran Jadwal Pencairan THR PNS 2026

Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:50

TNI di Ranah Terorisme: Ancaman bagi Supremasi Hukum

Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:44

KPK Melempem Tangani Kasus CSR BI

Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:37

MD Jakarta Timur Bersih-Bersih 100 Mushola Jelang Ramadhan

Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:18

Rapor IHSG Sepekan Naik 3,49 Persen, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp14.889 Triliun

Sabtu, 14 Februari 2026 | 10:55

Norwegia dan Italia Bersaing Ketat di Posisi Puncak Olimpiade 2026

Sabtu, 14 Februari 2026 | 10:49

Bareskrim Ungkap Peran Aipda Dianita di Kasus Narkoba yang Jerat Kapolres Bima Kota Nonaktif

Sabtu, 14 Februari 2026 | 10:27

Selengkapnya