Berita

Ilustrasi/birokratmenulis.org

Publika

Narasi Indonesia Maju dan Ilusi Pertumbuhan

Oleh: Muchamad Andi Sofiyan*
RABU, 18 JUNI 2025 | 06:55 WIB

NARASI “Indonesia Maju” menjadi jargon resmi negara dalam dua dekade terakhir. Jalan tol menjalar, kawasan industri dibuka, ekonomi digital tumbuh. Namun, di balik narasi pertumbuhan ini, tampak jelas sebuah ironi nasional: rakyat kian tertinggal.

Alih-alih menjadi pelaku kemajuan, mayoritas rakyat justru menjadi korban struktur ekonomi yang timpang. Mereka terdorong untuk merantau ke luar negeri, terjebak pinjaman online, menjadi target pasar digital asing, hingga kehilangan daya tawar sebagai warga negara.

Fakta di Balik Kemajuan Semu


Data dari BP2MI (2024) menunjukkan bahwa lebih dari 4,6 juta warga Indonesia bekerja di luar negeri, mayoritas sebagai pekerja rumah tangga dan buruh kasar. Sementara itu, menurut BPS (2023), terdapat lebih dari 9 juta lulusan perguruan tinggi yang bekerja di sektor informal. Ini termasuk sebagai ojek online, penjaja daring, dan jasa freelance tanpa jaminan sosial.

Di sisi lain, Survei PISA 2022 menempatkan Indonesia di peringkat ke-72 dari 81 negara dalam aspek literasi dan numerasi. Kualitas pendidikan nasional tidak hanya tertinggal, tapi stagnan. Pendidikan gagal menjadi jalan mobilitas sosial karena negara abai memperbaiki sistem dari hulu ke hilir.

Lebih buruk lagi, industri digital yang semestinya menjadi penopang kemandirian ekonomi justru memperparah ketimpangan. Studi Katadata Insight Center (2024) mencatat bahwa 80 persen pengguna aplikasi e-commerce, ride-hailing, dan pinjol di Indonesia hanya sebagai konsumen dan tenaga kerja rendahan. Keuntungan lari ke luar negeri, sementara rakyat menanggung risiko sosial dan ekonomi.

Kutipan yang Menyentak

Ekonom senior Kwik Kian Gie pernah mengatakan, “Pertumbuhan ekonomi Indonesia terlalu banyak menguntungkan para pemilik modal, terlalu sedikit yang mengalir ke bawah.” Pernyataan ini makin relevan hari ini. Kemajuan hanya milik segelintir, sementara mayoritas rakyat ditinggalkan.

Senada, ekonom heterodoks Prof. Stephanie Kelton–pengusung Modern Monetary Theory menegaskan: “Deficits can be used to improve people’s lives, not to harm them.” Defisit negara seharusnya diarahkan untuk memperkuat pendidikan, menciptakan lapangan kerja hijau, dan membangun industri nasional, bukan dipersempit oleh mitos keuangan yang konservatif.

Lawan Mitos Defisit, Bangun Ekonomi Berdaulat

Indonesia adalah negara dengan mata uang berdaulat (sovereign currency). Dalam kerangka Modern Monetary Theory (MMT), negara seperti Indonesia tidak pernah “kehabisan uang” selama utangnya dalam mata uang sendiri. Justru, defisit fiskal dapat digunakan untuk menciptakan lapangan kerja penuh, membangun industri strategis, dan mendorong pendidikan berkualitas.

Sayangnya, mitos defisit (deficit myth) masih mendominasi narasi kebijakan publik. Pemerintah lebih takut “melanggar disiplin fiskal” ketimbang membiayai program rakyat secara langsung. Akibatnya, banyak kebijakan sosial hanya berbentuk insentif konsumsi jangka pendek, bukan transformasi struktural yang dibutuhkan.

Menuju Kemajuan yang Membebaskan


Kemajuan sejati bukan tentang gedung pencakar langit, investasi asing, atau kecanggihan aplikasi. Kemajuan sejati adalah saat rakyat tidak lagi dijadikan buruh di luar negeri, tidak tergantung pada pinjol untuk bertahan, dan tidak menjadi pengguna pasif sistem digital yang tak mereka miliki.

Sudah waktunya kita menggugat makna “kemajuan” itu sendiri. Jika rakyat hanya dijadikan target pasar, tanpa kontrol atas alat produksi, tanpa akses terhadap pendidikan dan kesehatan bermutu, maka “Indonesia Maju” hanya tinggal slogan kosong. Narasi pembangunan tanpa kedaulatan fiskal dan keadilan struktural adalah jebakan. Bukan jalan keluar.


*Penulis adalah penggiat literasi dari Republikein StudieClub

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Meluruskan Hari Lahirnya Pancasila: Dari Piagam Jakarta Hingga Dekrit Presiden

Selasa, 02 Juni 2026 | 20:01

Kuasa Hukum Gus Yaqut Sebut Tidak Ada Konfirmasi Aliran Dana

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:46

RI Impor Emas 2,5 Ton pada April 2026, Australia jadi Pemasok Terbesar

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:16

Saksi Perkara Maluku, Thobahul Aftoni Akui Mardiono Ketum PPP

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:13

BEM PTMA: MBG adalah Investasi Jangka Panjang Menuju Indonesia Emas

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:09

Gerinda Sebut Lawatan Prabowo Perkokoh Posisi Indonesia di Kancah Dunia

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:08

KPK Tahan Tiga Tersangka Korupsi Pembangunan Gedung Pemkab Lamongan

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:05

Habiburokhman: Zaman Pak Dino Sehebat Apa sih?

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:50

Daftar Harga LPG 5,5 kg dan 12 Kg Terbaru, Cek Tiap Provinsi

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:47

SPI: Nasionalisme dan Kepastian Hukum Harus Seimbang

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:46

Selengkapnya