Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Pentingnya Pergaulan di Era Digital

Oleh: Muchamad Andi Sofiyan*
SELASA, 17 JUNI 2025 | 06:10 WIB

DI tengah era serba digital, pertanyaan lama ini kembali relevan: masihkah perlu kita memperluas pergaulan? Jawaban umum biasanya "ya", karena konon dari pergaulan luas datanglah peluang, ilmu, bahkan rezeki. 

Namun, realitas hari ini tampaknya tidak sesederhana itu lagi. Ada kelompok-kelompok yang justru berperan besar dalam perekonomian tanpa perlu pergaulan luas. Bahkan, sebagian dari mereka bisa dibilang nyaris hidup dalam lingkar sosial yang sangat terbatas.

Lihatlah para pedagang sembako di pasar tradisional. Mereka memulai hari ketika kota masih tidur. Pagi-pagi kulakan, lalu menggelar dagangan di kios. Tengah hari melayani pembeli, dan menjelang petang berkemas untuk pulang. Besoknya, mereka mengulang rutinitas yang sama. Waktu mereka habis untuk kerja dan keluarga. Pergaulan mereka terbatas, paling hanya antar sesama pedagang dan pelanggan tetap. Tapi merekalah denyut ekonomi lokal. Para pedagang seperti inilah yang seringkali menggerakkan sembilan dari sepuluh roda perekonomian di pasar-pasar tradisional seluruh negeri.


Hal serupa juga berlaku bagi para produsen dan pengrajin. Entah itu pengrajin rotan di Cirebon, pembuat batik di Pekalongan, atau UMKM kuliner di Bandung. Mereka tak punya waktu bersosialisasi ke sana kemari. Fokus mereka adalah produksi. Pemasaran? Lewat HP, WhatsApp, marketplace, atau reseller. Mereka menjual kepada orang-orang yang bahkan belum pernah mereka temui. Pergaulan? Minim, tapi kontribusinya ke ekonomi maksimal.

Lalu, muncul pertanyaan besar: apakah pergaulan luas memang masih penting di era seperti ini? Tentu, tidak ada yang menyangkal pentingnya jejaring sosial. Tapi konteksnya kini berubah. Dulu, pergaulan luas adalah satu-satunya jalan untuk membuka pintu-pintu peluang. Sekarang, teknologi telah memediasi banyak hal. Jejaring bisa dibangun secara digital, tanpa tatap muka. Peluang bisa datang dari komentar di media sosial, bukan hanya dari kopi darat atau acara komunitas.

Di sisi lain, kita tak bisa menutup mata terhadap sisi gelap pergaulan yang terlalu luas dan tanpa batas. Penipuan, manipulasi sosial, pencurian data, hingga kecanduan validasi sosial di media digital. Banyak orang yang akhirnya lelah secara mental, hilang fokus, bahkan kehilangan identitas demi menjaga "pergaulan" yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Kita perlu meninjau ulang makna pergaulan. Jangan-jangan yang lebih dibutuhkan hari ini bukan pergaulan yang luas, tapi pergaulan yang berkualitas dan relevan. Lingkar sosial yang kecil namun sehat. Jejaring digital yang fungsional, bukan artifisial. Komunitas yang dibangun atas dasar tujuan, bukan sekadar eksistensi sosial.

Artinya, pergaulan tetap penting. Tapi bukan demi "dikenal luas", melainkan demi mendukung produktivitas, integritas, dan ketenangan hidup. Pergaulan bukan lagi soal berapa banyak yang kita kenal, tapi seberapa bermakna hubungan itu terhadap hidup dan pekerjaan kita.

Jadi, kalau ada pedagang sembako yang setiap hari hanya bergaul dengan sesama pedagang, tapi bisa menyekolahkan anaknya dan menyumbang pada ekonomi daerah, mungkin kita harus berhenti menilai sempitnya pergaulan sebagai kekurangan. Bisa jadi, justru itu bentuk fokus dan efisiensi sosial yang paling relevan di zaman ini.


*Penulis adalah penggiat literasi dari Republikein StudieClub

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Kampus Demokrasi Obama

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:54

Presiden Prabowo Kemudikan Kapal Indonesia Menuju Ekonomi Pancasila

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:36

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:18

Keberadaan DSI Perlu Dievaluasi Ulang dalam Tata Niaga Sawit

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:59

Usaha Jufriyah Terus Keruk Cuan Bersama BRI

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:34

Perdamaian AS-Iran Tanpa Israel

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:16

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:55

BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Berbagai Solusi Finansial

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35

Koperasi Menjaga Keseimbangan

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:15

Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan Harus jadi Kebutuhan

Selasa, 23 Juni 2026 | 02:55

Selengkapnya