Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Ukraina Luncurkan Buku Sejarah Baru, Israel Digambarkan Sebagai Korban

MINGGU, 15 JUNI 2025 | 11:38 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Ukraina akan segera meluncurkan buku teks sejarah terbaru untuk siswa sekolah menengah yang menggambarkan Israel sebagai korban dalam konflik Arab-Israel, menuai kritik atas narasi yang dianggap berat sebelah. 

Buku tersebut secara eksplisit menyebut Israel sebagai pihak yang menghadapi perang yang diprakarsai Arab dan menekankan perjuangan eksistensial Israel sejak berdirinya pada 1948.

Buku setebal 300 halaman itu didesain untuk siswa kelas 11 dan mencakup 11 halaman khusus mengenai sejarah Israel. 


Dikutip dari The Jerusalem Post pada Minggu, 15 Juni 2025, buku tersebut menggambarkan konflik Arab-Israel sebagai pertempuran eksistensial melawan negara-negara Arab yang dipersenjatai oleh Uni Soviet.

Ketika membahas serangan 7 Oktober 2023, buku tersebut menyatakan bahwa serangan itu dilakukan oleh anggota Hamas dan warga Gaza yang bergabung untuk melakukan pembantaian massal, pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan.

Lebih lanjut, buku ini menuduh warga Gaza merayakan kekejaman tersebut, dan menggambarkan perang balasan Israel di Jalur Gaza sebagai sesuatu yang dapat dimengerti, meskipun telah menewaskan lebih dari 55.000 warga sipil.

"Penduduk sipil Gaza dengan gembira menyambut berita pembantaian ini. Para teroris juga menangkap dan membawa ratusan sandera ke Jalur Gaza, termasuk warga negara lain, orang tua, dan anak-anak," demikian tertulis dalam buku tersebut.

Penulis buku, Igor Shchupak, yang juga menjabat sebagai Direktur Institut Studi Holocaust Ukraina Tkuma mengungkapkan bahwa sekitar 165.000 eksemplar buku ini telah dicetak. 

Ia menyatakan bahwa buku ini bertujuan untuk mempromosikan keterlibatan kritis siswa dan menawarkan refleksi sejarah tentang konflik yang berkelanjutan di Timur Tengah.

“Melalui narasi ini, kami mencoba menunjukkan bagaimana sebuah negara kecil mampu bertahan dan membangun identitas nasionalnya meski dikelilingi ancaman eksistensial. Ini pelajaran penting bagi Ukraina,” ujar Shchupak.

Namun, isi buku tersebut menimbulkan keprihatinan di kalangan pengamat dan aktivis karena dianggap mereproduksi narasi sepihak dan mengabaikan aspek penting dalam sejarah konflik, termasuk peristiwa Nakba pada 1948, di mana ratusan ribu warga Palestina diusir dari rumah mereka oleh milisi Zionis, kejadian yang membuka jalan bagi berdirinya Israel dan menciptakan krisis pengungsi Palestina hingga kini.

Selain itu, buku ini juga menuding Hamas mencuri bantuan kemanusiaan, meski klaim tersebut belum didukung bukti konkret. Buku ini bahkan menyatakan bahwa negara-negara Arab lah yang bertanggung jawab atas krisis pengungsi Palestina, dengan menuduh mereka menjadikan warga Palestina sebagai pengungsi demi alasan politik.

Kementerian Pendidikan Ukraina telah memilih dan merekomendasikan buku ini melalui sebuah kompetisi nasional, dan negara turut membiayai penerbitannya. Hal ini menunjukkan dukungan resmi pemerintah Ukraina terhadap narasi sejarah yang disajikan buku tersebut.

Hubungan antara Ukraina dan Israel memang dikenal kompleks. Di satu sisi, Ukraina mempertahankan hubungan diplomatik yang kuat dengan Israel. 

Namun di sisi lain, Israel sempat dikritik karena lambat mengecam invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Meskipun Ukraina mendesak dukungan militer, Israel hanya menyediakan bantuan kemanusiaan, demi menjaga stabilitas hubungannya dengan Moskow.

Sementara itu, Ukraina juga menjalin hubungan baik dengan Palestina. Kiev mengakui kemerdekaan Palestina, menyuarakan dukungan untuk solusi dua negara, dan menunjukkan kesiapan memberikan bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Dengan diluncurkannya buku ini, pemerintah Ukraina berisiko dianggap menyederhanakan sejarah kompleks Timur Tengah untuk kepentingan narasi domestik.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Potongan Ojol 8 Persen Belum Jalan, Menaker: Nanti Ya...

Senin, 22 Juni 2026 | 20:22

OTT Bea Cukai Belum Ungkap Pengendali Sistem Impor

Senin, 22 Juni 2026 | 19:50

Pertamina Bantu Pedagang Kuliner Jakarta Fair dengan Bright Gas

Senin, 22 Juni 2026 | 19:48

Keterlambatan RKAB Biang Krisis Batu Bara

Senin, 22 Juni 2026 | 19:42

Kejari Jaksel Ungkap Alasan Tidak Menahan Roy Suryo dan Dokter Tifa

Senin, 22 Juni 2026 | 19:32

PM Inggris Keir Starmer Resmi Mundur, Andy Burnham Siap Gantikan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:20

Kritik Sejumlah Parpol untuk PDIP Bentuk Loyalitas ke Prabowo

Senin, 22 Juni 2026 | 19:16

Geruduk Kantor Gubernur, Ribuan Relawan Minta MBG Dilanjutkan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:15

Penahanan Ditangguhkan, Dokter Tifa: Alhamdulillah Bisa Pulang

Senin, 22 Juni 2026 | 19:09

Sinopsis House of the Dragon Season 3, Perang Targaryen Kian Brutal,

Senin, 22 Juni 2026 | 19:05

Selengkapnya