Berita

Perang Israel-Iran/Ist

Publika

Saintis Tak Mati-mati

MINGGU, 15 JUNI 2025 | 07:04 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

PERANG Israel-Iran kembali pecah. Kali ini, Israel mengambil inisiatif menyerang Iran. Serangan ini secara resmi digambarkan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF), dan oleh Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, sebagai “serangan preemptif” -- tindakan yang diambil sebelum ancaman berubah menjadi kenyataan hancur-hancuran.

Menurut Kepala Staf IDF, Letjen Eyal Zamir, serangan yang disiapkan delapan bulan ini muncul karena situasi telah “mencapai titik tanpa jalan kembali.” Intelijen Israel meyakini bahwa program senjata nuklir Iran telah berkembang pesat hingga menjadi ancaman eksistensial. Israel ketakutan eksistensinya dilenyapkan oleh Iran.

Netanyahu yakin, Iran punya cukup uranium yang diperkaya untuk membuat sembilan bom nuklir, dan mungkin lebih banyak dari yang dilaporkan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Iran diduganya sedang mempercepat langkah menuju weaponization -- yakni membangun senjata nuklir itu sendiri.


Ditambah dengan program misil balistik Iran yang berkembang pesat, negara kecil Israel makin ketakutan. Jika dibiarkan, misil-misil ini pun akan menjadi ancaman eksistensial tersendiri karena kemampuan mereka untuk menembus sistem pertahanan Israel. Dan ini terbukti dalam serangan balasan Iran, dengan menarget Tel Aviv.

Maka, dalam serangan Jumat 13 Juni 2025, Israel membuat target membunuh 25 ilmuwan nuklir Iran, yang keberadaan mereka sudah dipetakan. Namun, dari 25 target, hanya dua orang saja yang “berhasil” mereka bunuh. Ini berarti hanya 8 persen keberhasilan, alias gagal total. Bayangkan, betapa besar kerugian Israel dalam perang kali ini.

Israel, dalam narasi yang sering diperdengarkan ke dunia internasional, menyerang Iran karena ketakutan jika program senjata nuklir Iran membuahkan “cendol plutonium” yang bisa menyasar Tel Aviv. Masalahnya, pendekatan ini seperti mencoba mematikan listrik sebuah kota dengan menembaki bola lampu satu per satu.

Padahal, saintis boleh mati, tapi pengetahuan tak pernah bisa dibunuh. Menurut data yang dikutip dari Bulletin of the Atomic Scientists, edisi 27 November 2020, William Tobey menyebutkan bahwa pembunuhan ilmuwan nuklir Iran yang sudah dilakukan banyak negara dengan beragam cara, termasuk meracun, selama ini tidak membuat program nuklir mereka mandek.

Faktanya, program nuklir Iran tetap jalan terus. Tak ada kamus berhenti, sebab negara lain juga tak berhenti. Para saintis mereka banyak, pasti lebih dari 25 orang. Jadi, membunuh dua saintis mereka tak ubahnya seperti memotong satu kabel USB di kantor Google. Besoknya, ada 50 kabel baru yang muncul —dan lebih cepat, lebih aman, lebih efisien.

Strategi “serang otak, bukan bom” ini sudah tua dan usang. Bahkan sejak era Perang Dunia II, Sekutu sudah mencoba membunuh Werner Heisenberg -- ilmuwan Jerman yang dicurigai jadi otak bom atom Nazi. Tapi bahkan Moe Berg, agen OSS yang disuruh menembaknya, memutuskan tidak jadi menembak.

Moe Berg beralasan, ia tak yakin apakah Heisenberg benar-benar membuat bom. Dia masih pakai akal sehat, dengan menelusuri fakta-fakta yang dituduhkan kepada target. Hasil akhirnya? Nazi sendiri tak pernah pakai bom. Justru bom atom Amerika Serikat yang kemudian menghanguskan Hiroshima dan Nagasaki.

Jadi, siapa yang berhenti? Tidak ada. Malahan Amerika yang tampil. Yang menarik, jika tujuan utama pembunuhan saintis adalah menghentikan proliferasi senjata nuklir, maka dunia adalah saksi kegagalan monumental strategi ini. Serangan Israel terhadap Iran hanya akan mempercepat kehancuran mereka sendiri.

Lagi pula, Iran bukan satu-satunya negara yang bikin dunia deg-degan. Di Asia saja, ada India dan Pakistan yang punya senjata nuklir, dan dua negara ini saling melotot di atas garis Kashmir seperti dua kucing lapar di dapur sempit. Korea Utara? Punya senjata nuklir, parade misil, dan kadang meluncurkan roket seperti main petasan tahun baru.

Israel sendiri? Tidak pernah secara resmi mengakui. Istilahnya: “Saya tak punya, tapi jangan coba-coba!” Diperkirakan, Israel punya 90+ hulu ledak nuklir. Bahkan, sebanyak 200 senjata nuklir pernah dilaporkan berada dalam persenjataan mereka.

Bagaimana dengan Rusia, AS, Tiongkok, Prancis, Inggris? Mereka ini klub elit yang bukan cuma punya bom atom, tapi punya langganan perawatan dan upgrade tahunan. Bahkan US Nuclear Posture Review 2022 mengisyaratkan modernisasi arsenal nuklir -- karena tampaknya bom nuklir tahun 80-an sudah tak sesuai tren.

Jadi, kalau kita bicara menghentikan proliferasi persenjataan nuklir seperti yang dituduhkan Israel terhadap Iran dengan cara membunuh ilmuwan, hasilnya seperti menyemprot air ke kebakaran hutan -- dengan parfum. Gagal total. Malahan, Tel Aviv langsung menerima serangan balasan tanpa ampun.

Ada juga pertanyaan penting: Di mana moralitas kita saat membunuh orang-orang yang, secara teknis, bukan kombatan? Pembunuhan ilmuwan -- yang bekerja di laboratorium, bukan di medan perang— menunjukkan bahwa batas etika dalam geopolitik makin kabur. Hari ini saintis, besok siapa? Guru matematika? Pakar AI?

Kenyataan pahitnya adalah: dunia ingin hidup tanpa ancaman nuklir, tapi tak ada satu pun yang mau jadi negara pertama yang meletakkan bomnya di museum. Israel sendiri masih menyembunyikan bom mereka seolah tak punya.

Semua pihak bicara tentang non-proliferasi, tapi semua juga bilang, “Tapi jangan saya duluan ya, jaga-jaga aja.” Ini seperti pesta makan malam di mana semua tamu bawa pisau, tapi semua bilang niatnya hanya untuk memotong steak.

Maka, jika ada satu pelajaran dari aksi Israel terhadap Iran, dan sejarah panjang percobaan pembunuhan saintis nuklir dari Heisenberg hingga Fakhrizadeh, adalah ini: Pengetahuan tidak bisa dibunuh. Ia menyebar, berkembang, dan bahkan ketika otaknya disingkirkan, tubuhnya terus melangkah.Perang Israel-Iran 

Dan satu hal lagi: Jika kamu ilmuwan nuklir, mungkin sebaiknya jangan pakai sepeda motor atau terlalu dekat dengan mobil. Tapi lebih penting lagi, jika kamu pengambil kebijakan, cobalah berhenti berpikir bahwa dunia akan lebih aman hanya karena kamu menghapus satu nama dari daftar saintis.

Karena pada akhirnya, dunia ini bukan soal siapa yang bisa membunuh paling cerdas, walau dengan alasan mengada-ada. Tapi, siapa yang bisa berpikir paling berani —dan benar-benar ingin perdamaian, bukan sekadar ilusi kontrol dalam bentuk ledakan nuklir miniatur.

Penulis adalah Wartawan Senior




Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

MNC Siap Lawan Putusan CMNP Lewat Banding hingga PK!

Selasa, 28 April 2026 | 20:09

Menyambut Hardiknas 2026: Mengupas Makna Tema, Filosofi Logo, dan Harapan Pendidikan Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 20:06

RUPS bjb Angkat Susi Pudjiastuti Jadi Komut, Ayi Subarna Dirut

Selasa, 28 April 2026 | 20:02

KAMMI Ingin Perempuan jadi Penggerak Kedaulatan Energi

Selasa, 28 April 2026 | 20:01

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar ke-35

Selasa, 28 April 2026 | 19:59

Prabowo Sempatkan Ziarah ke Makam Sang Kakek Margono Djojohadikusumo

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Jamaluddin Jompa Kembali Jabat Rektor Unhas

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Legislator Golkar Desak Dirut KAI Mundur

Selasa, 28 April 2026 | 19:44

RUPST bank bjb, Susi Pudjiastuti Komut Independen

Selasa, 28 April 2026 | 19:42

Polri Unjuk Gigi, Timnas Silat Sapu Emas di Belgia

Selasa, 28 April 2026 | 19:34

Selengkapnya