Berita

Ilustrasi/RMOL

Dunia

China Bantah Tuduhan Trump Langgar Kesepakatan Dagang

SABTU, 31 MEI 2025 | 07:28 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

China dengan tegas membantah tudingan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, bahwa Beijing melanggar kesepakatan dagang dengan Washington.

Pada Jumat, 30 Mei 2025, Trump menulis di platform media sosial Truth Social bahwa tarif yang diberlakukan saat ia menjabat telah membuat China berada dalam posisi sulit. Ia mengklaim bahwa kesepakatan dagang saat itu justru menyelamatkan China dari kondisi yang lebih buruk.

"Semua orang senang! Itu kabar baiknya!!! Tapi kabar buruknya adalah China, mungkin tidak mengejutkan bagi sebagian orang, telah sepenuhnya melanggar perjanjiannya dengan kita. Jadi begini akhirnya kalau kita jadi orang baik!" tulis Trump, dikutip dari BBC.


Meski Trump tidak memberikan rincian, Duta Perdagangan AS, Jamieson Greer, menjelaskan kepada CNBC bahwa China belum sepenuhnya mencabut pembatasan dagangnya terhadap AS.

Menurut Greer, saat membalas tarif dari AS, China juga menerapkan tindakan lain seperti memasukkan perusahaan-perusahaan AS ke daftar hitam dan membatasi ekspor logam tanah jarang?"komponen penting dalam industri mobil, pesawat, dan semikonduktor.

“Mereka memang mencabut sebagian tarif seperti yang kami lakukan, tapi belum melaksanakan sepenuhnya langkah-langkah lainnya,” kata Greer.

Ia menegaskan bahwa AS terus mengawasi pelaksanaan kesepakatan tersebut dan kini "sangat khawatir" dengan kelambanan China.

“AS sudah memenuhi kewajibannya sesuai kesepakatan, tapi China belum menunjukkan komitmen yang sama. Ini tidak bisa dibiarkan dan harus segera diselesaikan,” ujarnya.

Pemerintah China menanggapi pada hari yang sama, namun tidak langsung menjawab tuduhan AS. Dalam pernyataannya, Beijing meminta Washington menghentikan pembatasan diskriminatif terhadap China.

"Kami mendesak AS untuk segera memperbaiki tindakan-tindakan keliru, menghentikan pembatasan diskriminatif terhadap China, dan bersama-sama menjaga kesepakatan yang telah dicapai dalam pembicaraan tingkat tinggi di Jenewa," demikian pernyataan resmi dari pemerintah China.

Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Pengyu Liu, juga menyatakan bahwa China telah berulang kali menyampaikan kekhawatiran kepada AS mengenai penyalahgunaan aturan ekspor, terutama di sektor semikonduktor.

AS sendiri telah memberlakukan pembatasan ekspor teknologi ke China, dan pada Rabu lalu, kembali menghentikan penjualan chip serta ekspor bahan kimia dan mesin terkait teknologi tersebut.

Liu mengatakan bahwa kedua negara masih terus berkomunikasi sejak pertemuan di Jenewa pada 11 Mei lalu, yang saat itu berlangsung dalam suasana positif.

Namun, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada Kamis menyatakan bahwa pembicaraan dagang kini "mengalami hambatan".

“Melihat besarnya skala dan kompleksitas isu ini, dibutuhkan campur tangan langsung dari para pemimpin kedua negara,” ujar Bessent kepada Fox News.

Kebijakan Trump terkait perdagangan global juga telah mengalami hambatan. Pada Rabu, pengadilan menyatakan bahwa ia telah melebihi kewenangannya. Meski begitu, rencana tarif global itu masih tetap berlaku sementara, karena pemerintah AS mengajukan banding.

Pemerintah AS juga mulai secara agresif mencabut visa mahasiswa China di AS. Saat ini, jumlah mahasiswa China di AS diperkirakan sekitar 280.000 orang.

Dalam pertemuan di Jenewa, AS dan China sebelumnya sepakat untuk mengurangi tarif impor masing-masing. Beberapa tarif dibatalkan, sementara sisanya ditangguhkan selama 90 hari.

Pernyataan keras dari kedua pihak menimbulkan kekhawatiran bahwa ketegangan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia ini bisa kembali memanas, meskipun ada upaya negosiasi terbaru.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Kembali Bongkar Peran Dirjen Bea Cukai dalam Skandal Suap Blueray Cargo

Kamis, 27 Agustus 2026 | 01:46

UPDATE

Kemenkum Tegas Pertahankan Pembatalan Status Badan Hukum PLK

Selasa, 01 September 2026 | 16:28

Rebranding Dukcapil di Tarakan Tembus 1.387 Layanan Adminduk

Selasa, 01 September 2026 | 16:22

WNI Jadi Tentara Rusia Gegara Diiming-imingi Gaji Besar

Selasa, 01 September 2026 | 16:11

Pengamat Wanti-wanti BLU Batu Bara: Efisien Boleh, Pembangkit Jangan Terganggu

Selasa, 01 September 2026 | 15:53

UBakrie's Week 2026 Persiapkan 1.147 Mahasiswa Baru untuk Dunia Kampus dan Industri

Selasa, 01 September 2026 | 15:41

Bukan Cuma Cari Juara, Kemenag Bidik Kader Ulama dari MTQN XXXI

Selasa, 01 September 2026 | 15:39

DPR: Usut Tuntas Kematian Warga Pejompongan Korban Kerusuhan Demo

Selasa, 01 September 2026 | 15:34

Destry Resmi Pimpin BI, Perry Titip Pesan di Tengah Gejolak Global

Selasa, 01 September 2026 | 15:30

BNI Tawarkan Sukuk Ritel SR025 Lewat wondr, Imbal Hasil hingga 6,9 Persen

Selasa, 01 September 2026 | 15:25

Bawa Program "Klasterku Hidupku", BRI Ajak Pengusaha Ikan Kering Sorong Naik Kelas

Selasa, 01 September 2026 | 15:24

Selengkapnya