Berita

Ilustrasi/RMOL

Publika

Membuka Sekat Mazhab Ekonomi

Oleh: Muchamad Andi Sofiyan*
JUMAT, 30 MEI 2025 | 02:59 WIB

DALAM dunia ilmu ekonomi, terjadi perseteruan panjang antara dua mazhab besar: ortodoks dan heterodoks. Keduanya menawarkan cara pandang yang nyaris bertolak belakang dalam memahami bagaimana ekonomi seharusnya dijalankan. 

Namun, sejarah tidak selalu berpihak pada teori. Negara-negara yang sukses membangun kekuatan ekonominya justru sering kali meninggalkan dogma dan memilih pendekatan pragmatis dan tak ada contoh yang lebih mencolok daripada Tiongkok.

Dua Mazhab, Dua Dunia


Mazhab ekonomi ortodoks, yang berakar pada pemikiran Adam Smith, David Ricardo, dan Milton Friedman, percaya pada kekuatan pasar bebas, efisiensi alokasi, dan rasionalitas individu. Negara hanya bertugas menjaga kerangka hukum dan stabilitas moneter, selebihnya pasar dianggap akan menyelesaikan semuanya.

Sebaliknya, mazhab heterodoks justru menantang narasi itu. Mereka menekankan pentingnya keadilan distributif, peran negara yang aktif, serta memasukkan dimensi sosial-politik dalam analisis ekonomi. Tokoh-tokohnya seperti Karl Marx, John Maynard Keynes, dan Hyman Minsky menyoroti bahwa pasar bukanlah entitas netral, melainkan arena konflik kepentingan yang kerap memicu krisis dan ketimpangan.

Dalam dunia akademik, dua mazhab ini sering diposisikan seolah saling meniadakan. Tapi dalam dunia nyata, siapa yang bilang kita harus memilih salah satu?

Tiongkok: Pragmatisme di Atas Ideologi

Tiongkok adalah contoh ekstrem dari keberhasilan pendekatan ekonomi pragmatis. Sejak era Deng Xiaoping, Tiongkok tidak tunduk pada teori-teori Barat maupun terkungkung oleh komunisme ekonomi ortodoks. Deng secara gamblang menyatakan: "Tidak masalah apakah kucing itu hitam atau putih, selama ia menangkap tikus".

Dengan prinsip ini, Tiongkok mengadopsi mekanisme pasar tanpa melepaskan kendali strategis negara. Mereka membiarkan munculnya zona ekonomi khusus (SEZ), investasi asing, dan kepemilikan swasta, sambil tetap mempertahankan sektor kunci seperti keuangan, energi, dan telekomunikasi di bawah kontrol negara.

Hasilnya? Ratusan juta orang keluar dari kemiskinan, ekonomi tumbuh dua digit selama puluhan tahun, dan Tiongkok berubah dari negara agraris terbelakang menjadi raksasa manufaktur dan teknologi dunia.

Apakah model ini sesuai mazhab ortodoks? Tidak. Apakah murni heterodoks? Juga tidak. Ini adalah mazhab pragmatis: menggunakan apa yang bekerja.

Pragmatisme dalam Ekonomi: Kekuatan, Bukan Kekeliruan

Dalam ilmu ekonomi, pragmatisme bukan tanda kelemahan, tapi indikator kecerdasan strategis. Dunia terus berubah–disrupsi teknologi, krisis iklim, pandemi, dan geopolitik tidak bisa dijawab oleh model-model ekonomi lama yang dogmatis. Negara-negara yang bertahan dan tumbuh adalah mereka yang bisa berimprovisasi, menggabungkan pendekatan pasar dengan intervensi negara, memakai kebijakan fiskal dan moneter secara sinergis, serta mendahulukan kebutuhan rakyat dibanding memenuhi "formula" dari luar.

Namun penting dicatat: pragmatisme ini tepat untuk ekonomi, bukan untuk hukum. Dalam ekonomi, fleksibilitas bisa menyelamatkan sistem dari krisis.
Tapi dalam hukum, pragmatisme membuka ruang penyalahgunaan dan ketidakpastian hukum. Hukum menuntut konsistensi dan prinsip, sedangkan ekonomi menuntut adaptasi dan hasil nyata.

Saatnya Indonesia Menyusun Mazhab Ekonominya Sendiri

Indonesia tidak harus mengikuti mazhab mana pun secara membabi buta. Kita bisa belajar dari presisi dan efisiensi ortodoks, tapi juga tidak boleh melupakan kepekaan sosial heterodoks. Kita bisa menyerap mekanisme pasar untuk mendorong inovasi, sambil tetap mempertahankan kontrol atas sektor strategis demi kedaulatan ekonomi nasional.

Apa yang kita butuhkan adalah mazhab ekonomi Indonesia, yang berakar pada realitas bangsa, sejarah kolonialisme ekonomi, kekuatan sumber daya alam, serta potensi demografis dan budaya gotong royong.

Ekonomi bukan sekadar soal angka dan teori. Ekonomi adalah soal nasib rakyat. Dan dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat, tidak ada ruang untuk dogmatisme.


*Penulis adalah penggiat literasi dari Republikein StudieClub

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya