Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Koperasi Top Down Salah Konsep

Oleh: Suroto*
SELASA, 27 MEI 2025 | 06:50 WIB

KEBIJAKAN pengembangan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dengan pendekatan atas-bawah (top down), yang distimulasi Instruksi Presiden (Inpres) hari ini tidak hanya akan menambah jumlah koperasi papan nama, koperasi di atas kertas. Juga  sesatkan pikiran masyarakat atas konsep koperasi. Sebab masyarakat kita  akan terus berfikir bahwa koperasi itu alat pemerintah, hidup dan matinya andalkan stimulasi kebijakan pemerintah. 

Padahal, koperasi di seluruh dunia itu berjalan sukses justru karena ditempatkan sebagai entitas organisasi bisnis yang dikembangkan secara otonom oleh masyarakat untuk menjawab kebutuhan mereka sendiri. Dikembangkan secara mandiri, dan dikelola secara demokratis. 

Koperasi sukses di berbagai belahan dunia hari ini telah muncul sebagai kekuatan besar untuk menggeser perusahaan kapitalis yang hanya berorientasi profit bagi pemegang saham ke tangan masyarakat luas. Koperasi bertumbuh karena masyarakat dunia mulai paham bahwa sistem perusahaan koperasi itu bisa jadi solusi atasi masalah distribusi kesejahteraan melalui sistem pengelolaan demokratis oleh masyarakat secara mandiri. 


Jadi, kebijakan pengembangan Kopdes Merah Putih ini bukan hanya salah dalam strategi kebijakan, tapi  pengembangan Kopdes secara top down menunjukkan bahwa pemerintah itu tidak memahami apa itu koperasi serta tidak memiliki kapasitas untuk mengembangkan kebijakan koperasi yang baik.

Koperasi itu dalam sistem ekonomi politik adalah lahir sebagai jawaban atas kegagalan sistem distribusi kesejahteraan model kapitalis dan oleh negara. Jadi menempatkan urusan koperasi dengan bertumpu pada pemerintah itu sudah salah teori, salah konsep, dan bahkan tidak memiliki cantolan di dalam sistem konstitusi dan regulasi perkoperasian kita yang berlaku. 

Koperasi di seluruh dunia hari ini sedang dihargai dan dihormati perananya dengan dijadikannya tahun 2025 ini sebagai Tahun Koperasi Internasional (International Year Cooperative) oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Dihargai karena sistem koperasi itu mampu menjadi sistem bisnis dan organisasi unggul karena otonomi, kemandirian dan demokrasinya. Apa yang dilakukan oleh Pemerintah hari ini adalah sangat mencoreng nama gerakan koperasi di mata dunia. 

Koperasi mandiri yang ingin diciptakan oleh masyarakat di Purwokerto pada masa era kolonial akhir abad 19 dulu dihancurkan oleh pemerintah kolonial dengan digelontori dana besar dari pemerintah. Tujuannya agar prakarsa masyarakat untuk membangun kemandirian ekonomi mati. Agar ekonomi kapitalis dan imperialis tetap berjaya. Inpres 9 tahun 2025 ini hanya akan memperpanjang trauma kegagalan koperasi di masyarakat. 

Apa yang dilakukan oleh pemerintah ini sebetulnya ditengarai justru merupakan bagian dari proyek kongkalikong dengan para elite kapitalis untuk hancurkan citra koperasi. Menumpuk numpuk jumlah koperasi papan nama. Pembentukan Kopdes Merah Putih yang mengulang sistem kebijakan Kolonial ini sama artinya dengan penghancuran koperasi. Pembinaan koperasi yang sebetulnya justru bertujuan membinasakan koperasi. 

Menteri BUMN, Erick Thohir, salah satu konglomerat kapitalis yang berpengaruh dalam pemerintahan yang keluarkan pernyataan jika Kopdes Merah Putih gagal tidak perlu bicarakan koperasi lagi itu juga sebagai sebuah pernyataan mewakili kelompok kepentingan kapitalis bukan sebagai pejabat publik. Dia seperti sedang mengkampanyekan kepada masyarakat agar masyarakat berkoperasi secara serampangan dan menyalahi teori dengan diminta mengafirmasi Kopdes Merah Putih yang sengaja dibangun untuk merusak dan memperparah kerusakan citra koperasi. 

Saat ini, ada 1,3 miliar jumlah anggota koperasi di seluruh dunia yang mempercayai bahwa sistem demokrasi di perusahaan itu penting. Kepemilikan rakyat dan juga otonomi dan kemandirian ekonomi itu menjadi sangat berharga. Dari 300 koperasi besar dunia yang dirilis lembaga riset Euricse  hasilkan putaran ekonomi sebesar 36 ribu triliun rupiah. Mereka menjadi perusahaan yang mampu hancurkan monopoli korporat kapitalis di banyak sektor.


*Penulis adalah Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES)

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

Laksma TNI Salim Usul Konsep Hybrid Maritime Security dalam Forum CADTE di China

Minggu, 12 Juli 2026 | 00:01

Pengurus Dekranas Diminta Fokus Bina Kualitas Perajin buat Tembus Pasar Global

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:47

Kitab KH Zulfa Mustofa jadi Inspirasi Lanjutkan Tradisi Keilmuan Ulama

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:22

Kasus Korupsi Batu Bara Jangan Cuma Berhenti di Febrie Adriansyah!

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:55

Polri Bareng Jurnalis Trunojoyo Gelar Padel Bhayangkara Cup 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:45

Universitas Bakrie Ajak Pelajar Tingkatkan Kemampuan Komunikasi Digital

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:31

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Purbaya Terbitkan Aturan Baru, Permudah Impor Senjata hingga Bahan Baku Industri Pertahanan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:42

Kasus Blackout Tanggung Jawab Kementerian ESDM

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:51

Ini Alasan Polri Limpahkan Berkas Perkara Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:20

Selengkapnya