Berita

Menlu Malaysia, Mohamad Hasan/Net

Global

ASEAN Bahas Penunjukan Utusan Permanen untuk Tangani Krisis Myanmar

SENIN, 26 MEI 2025 | 12:51 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Para menteri luar negeri ASEAN tengah mempertimbangkan langkah signifikan dalam menangani krisis Myanmar dengan menunjuk utusan khusus tetap selama masa jabatan tiga tahun, menggantikan sistem saat ini yang merotasi utusan setiap tahun.

Usulan ini mencuat dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AFMM) yang digelar di Kuala Lumpur, dan telah mendapat dukungan luas dari negara-negara anggota.

Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, yang memimpin pertemuan tersebut, mengatakan bahwa sistem rotasi tahunan telah menghambat kemajuan diplomatik dalam menyelesaikan konflik yang berlangsung sejak kudeta militer Myanmar pada Februari 2021.


"Bagi kami, setiap tahun kami harus mengganti utusan khusus, lalu kami harus memulai dari awal lagi dan tidak ada habisnya," ujar Mohamad dalam konferensi pers usai rapat, seperti dimat FMT pada Senin, 26 Mei 2025.

Ia menambahkan bahwa semua negara anggota ASEAN setuju untuk menjajaki gagasan ini, dan tidak ada keberatan yang diajukan selama pertemuan.

“Kami telah sepakat bahwa kami ingin menjajaki (proposal ini) dan tidak ada yang mengatakan sebaliknya. Dan ini hanya masalah siapa yang akan menjadi utusan khusus tetap, mungkin untuk masa jabatan tiga tahun,” kata dia.

Dalam kerangka yang ada saat ini, utusan khusus ASEAN untuk Myanmar ditunjuk oleh negara yang memegang kursi ketua ASEAN setiap tahunnya. Sebagai ketua ASEAN untuk tahun 2025, Malaysia telah menunjuk Othman Hashim sebagai utusan khusus kelima sejak krisis Myanmar dimulai.

Ketika ditanya mengenai keterbatasan prinsip non-intervensi ASEAN dalam menghadapi konflik internal Myanmar, Mohamad Hasan menegaskan bahwa ASEAN tidak berniat mencampuri urusan domestik negara anggotanya.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa krisis Myanmar telah berdampak langsung ke kawasan, menjadikannya masalah regional yang tak bisa diabaikan.

“Kita sekarang harus menghadapi kejahatan transnasional, pencucian uang melalui penipuan pekerjaan, jutaan orang mengungsi, dan krisis pengungsi yang terus meningkat,” kata dia.

“Malaysia sendiri sedang menangani 200.000 pengungsi Rohingya,” tambahnya, menekankan bahwa beban krisis ini telah meluas ke negara-negara tetangga.

Gagasan tentang utusan khusus tetap diharapkan dapat memberikan konsistensi dan kesinambungan diplomatik dalam upaya ASEAN mendukung proses perdamaian dan pemulihan di Myanmar.

Dengan utusan yang tidak berganti setiap tahun, ASEAN diharapkan dapat membangun hubungan yang lebih erat dengan para pemangku kepentingan di Myanmar dan mendorong implementasi Five-Point Consensus, rencana perdamaian yang disepakati sejak 2021 namun masih minim kemajuan.

Diskusi lanjutan mengenai sosok yang akan ditunjuk sebagai utusan tetap tengah berlangsung. Para pengamat menilai, langkah ini menandai pergeseran penting dalam pendekatan ASEAN terhadap krisis Myanmar, sekaligus ujian terhadap fleksibilitas prinsip-prinsip dasar organisasi di tengah tantangan geopolitik yang kompleks.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggerebekan Pesantren

Senin, 02 November 2026 | 18:26

DPR Gandeng Kementerian PPPA Dorong Gerakan Nasional Antibullying

Senin, 02 November 2026 | 18:20

Gibran Ingatkan Ancaman Hoaks terhadap Kerukunan Masyarakat

Senin, 02 November 2026 | 18:06

Antisipasi Gangguan Selat Hormuz, Chandra Asri Bangun Fasilitas Pengganti Nafta

Senin, 02 November 2026 | 18:02

Program Kemenag Harus Sejalan dengan Visi-Misi Prabowo

Senin, 02 November 2026 | 17:41

Kemenhaj Rekrut Tenaga Pendukung untuk Urus Visa Haji 2027

Senin, 02 November 2026 | 17:34

Ahmad Doli Harap Pimpinan Parpol Segera Bertemu Bahas Gibran

Senin, 02 November 2026 | 17:31

Gibran Tetap Blusukan ke Daerah di Tengah Polemik Putusan MA dan MK

Senin, 02 November 2026 | 17:25

Kesejahteraan Rakyat di Daerah Tambang Nikel Harus jadi Perhatian Pemerintah

Senin, 02 November 2026 | 17:09

Cegah Kekerasan di Pesantren, Kemenag Buka Pelatihan Daring melalui MOOC Pintar

Senin, 02 November 2026 | 17:02

Selengkapnya