Berita

Aktivis Hariman Siregar/RMOL

Publika

Hariman, Realitas Reformasi, dan Hikmah 27 Tahun Kemudian

SENIN, 26 MEI 2025 | 09:33 WIB | OLEH: AGUSTO SULISTIO*

TULISAN ini saya buat bukan di tengah gegap gempita peringatan 21 Mei, bukan pula di saat euforia dan keramaian forum-forum aktivis pasca-upacara reformasi 2025. 

Tapi justru beberapa hari setelah semuanya mereda. Setelah spanduk dilipat, mikrofon dimatikan, dan media sosial perlahan kembali ke rutinitasnya. 

Bukan tanpa alasan. Saya percaya, opini yang ditulis dalam jeda setelah peringatan akan lebih netral, jernih, dan objektif. Karena hanya dalam diam, kita bisa menimbang dengan nalar yang tidak dibutakan oleh keramaian.


Dalam momentum peringatan 27 tahun reformasi, tokoh pergerakan realistis, dr. Hariman Siregar menyampaikan pesan yang singkat dan mengandung kedalaman sejarah dan kesadaran politik.

"21 Mei 1998 lalu kalian berhasil melahirkan reformasi, tapi 27 tahun kemudian mantu mantan Presiden ke-2 RI, kini menjadi Presiden kita. Apapun itu, inilah faktanya. Ini sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Esa," pesan Hariman di depan ratusan perwakilan simpul aktivis gerakan lintas organisasi, generasi dan ideologi.

Pernyataan itu mungkin membuat sebagian telinga panas, terutama mereka yang mengharapkan arah sejarah berjalan lurus sesuai kehendak idealisme. Tapi justru di sinilah keistimewaannya Hariman. Ia bukan sedang memutihkan realitas, tapi menunjukkan bahwa realitas harus dihadapi dengan jujur dan kehilangan prinsip.

Sebagian generasi hari ini mengenal Hariman hanya dari catatan sejarah Malari 1974. Tapi sesungguhnya, ia adalah bagian dari arus besar perlawanan sipil sebelumnya (Budi Utomo, Syarikat Islam, Soekarno, Hatta, Syahrir, dll) terhadap dominasi modal asing dan kekuasaan yang anti kebangkitan nasional dan demokrasi. 

Hariman di usianya saat itu yang masih sangat muda sudah bicara tentang kemandirian ekonomi dan nasionalisme bahkan bergerak dan melawan tirani secara konkret. Sementara saat itu sebagian besar elite politik justru sedang sibuk memupuk ketergantungan terhadap asing.

Dari peristiwa 15 Januari 1974, akhirnya Hariman digiring ke dalam sel tahanan politik, satu blok dengan tokoh-tokoh militer, komunis, dan aktivis yang dianggap membahayakan negara. 

Tapi penjara tak mengubah jalur hidupnya. Setelah keluar, ia semakin berisi dan realistis dalam berfikir dan bertindak di tengah rakyat. Tak pernah ia rebut jabatan politik. Tak pernah ia gila kekuasaan. Dan justru dari ketidakberpihakannya kepada kekuasaan, suara Hariman tetap didengar sampai sekarang. 

Kembali ke 2025. Kini, Prabowo Subianto, "menantu" Presiden Soeharto, menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Sebuah ironi? Mungkin. Tapi sekaligus sebuah realitas demokrasi. Bahwa dalam sistem yang terbuka, siapa pun bisa menang. 

Demokrasi memang bukan mesin penghasil pemimpin ideal, tapi ruang kompromi sosial. Dan selama proses itu berjalan sesuai hukum dan konstitusi, maka hasilnya adalah kehendak rakyat, bukan kehendak elite.

Sebagian pihak mungkin kecewa, karena nama yang terasosiasi dengan masa lalu Orde Baru kini berada di puncak kekuasaan. 

Saya menilai bahwa Hariman tengah memberi kita pelajaran penting, kita jangan terpaku pada nama, lihat pada tindakan. Sebab nama bisa menjadi beban sejarah, tapi tindakan adalah bukti keberpihakan yang nyata.

Konstitusi kita adalah panglima. Pasal 1 Ayat (2) UUD 1945 menyatakan: “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.” Maka siapa pun yang naik ke kursi presiden melalui mekanisme "pemilu yang sah", dapat dimaknai sebagai produk demokrasi. 

Namun, pemaknaan itu tidak berarti pembiaran. Kita tetap wajib mengawasi. Wajib mengkritik. Karena demokrasi bukan hanya tentang memilih, tapi juga tentang memastikan kekuasaan berjalan dalam bingkai keadilan sosial dan supremasi hukum.

Pesan Hariman dalam peringatan Reformasi tahun ini bukan ajakan untuk menyerah pada kenyataan. Tapi seruan agar kita tak kehilangan akal sehat dalam membaca kenyataan. Di tengah masyarakat yang semakin terbelah karena fanatisme politik dan ilusi moral, Hariman justru menawarkan sikap yang dewasa, yakni menerima realitas, tanpa kehilangan prinsip perjuangan.

Sikap ini hanya mungkin muncul dari seorang tokoh yang telah mengalami hidup dalam pengasingan politik, memahami pahitnya pengkhianatan ideologi, dan tetap memilih untuk berada di tengah rakyat. Hariman bukan legenda. Ia nyata. Justru karena itulah, ia menjadi kompas moral bagi bangsa ini, khususnya seluruh aktivis pergerakan.

Penutup

Pertanyaan pentingnya bukan siapa yang kini berkuasa. Tapi apakah rakyat masih punya daya kritis untuk mengawasi kekuasaan. Apakah semangat reformasi masih hidup dalam gerakan sipil, media, kampus, dan ruang publik?

Saya memilih menulis tulisan ini setelah semuanya tenang. Agar pembaca bisa merenung tanpa sorak-sorai. Agar kita semua kembali menyadari bahwa sejarah tidak pernah berhenti. Dan reformasi, sejatinya, bukan tentang mengubah semata siapa yang duduk di atas. Tapi tentang memastikan bahwa siapa pun yang duduk, melewati aturan yang benar dan berlaku serta diikat oleh konstitusi dan kehendak rakyat.

Semoga Bang Hariman Siregar senantiasa diberi kesehatan dan keselamatan oleh Tuhan YME, dan kelak lahir Hariman-Hariman berikutnya yang senantiasa ikhlas menjaga nilai-nilai persatuan dan kedamaian bangsa dan negara kita dengan penegakan demokrasi, civil society yang kuat, pers yang berimbang serta aparat negara yang tunduk pada konstitusi dan berpihak pada rakyat menuju kemakmuran rakyat.

*Penulis adalah pendiri The Activist Cyber, penulis sosial-politik, dan pegiat ruang publik digital

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Cinema XXI Bukukan Pendapatan Rp5,86 Triliun Sepanjang 2025

Jumat, 06 Maret 2026 | 12:13

Trump Ketahuan Bohong 30 Ribu Kali Selama Empat Tahun Berkuasa

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:59

Fandi Ramadan Divonis 5 Tahun, Komisi III DPR Akan Panggil Penyidik dan Jaksa

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:59

Youth Choice Award 2026: Sinyal Pergeseran Fokus Asuransi ke Generasi Muda

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:54

Emas Antam Turun ke Rp3,02 Jutaan Hari Ini

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:46

Vonis 5 Tahun untuk ABK Fandi Disambut Lega Komisi III DPR

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:33

Komisaris TASPEN Pastikan Penyerahan THR Pensiunan Berjalan Baik

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:31

Pemprov DKI Buka Posko THR Jelang Idulfitri

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:30

Prabowo Tegaskan BoP Masih Jadi Ikhtiar Indonesia Dorong Perdamaian Palestina

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:23

Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Jabodetabek

Jumat, 06 Maret 2026 | 11:21

Selengkapnya