Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Ribuan Mahasiswa Asing Harvard Khawatiri Kebijakan Trump: Kami Patah Hati

SABTU, 24 MEI 2025 | 21:40 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Ribuan mahasiswa asing di Harvard University kini hidup dalam ketidakpastian setelah pemerintah AS berupaya melarang Harvard menerima dan menampung mahasiswa asing.

Keputusan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump itu membuat banyak mahasiswa khawatir akan kemungkinan visa mereka dicabut, riset ditangguhkan, hingga dilarang kembali masuk ke AS bila mereka bepergian selama musim panas ini.

"Ribuan mahasiswa internasional masih dalam ketidakpastian dan sangat ketakutan, karena mereka tidak mengetahui status hukum mereka saat ini," kata Wakil Presiden Badan Mahasiswa Harvard University Abdullah Shahid Sial yang berasal dari Lahore, Pakistan.


Abdullah menggambarkan kondisi mahasiswa internasional sebagai remaja yang terasing jauh dari rumah dan terpaksa menghadapi tekanan imigrasi secara mendadak.

"Mereka benar-benar seperti remaja yang tinggal ribuan mil jauhnya dari kampung halaman dan harus menghadapi situasi ini," tambah dia.

Harvard saat ini memiliki sekitar 6.793 mahasiswa asing atau sekitar 27 persen dari total populasi kampus. Abdullah menyoroti besarnya kontribusi mahasiswa asing terhadap dunia akademik AS.

"AS mendapatkan banyak keuntungan dari kedatangan orang-orang terbaik di dunia ke universitas untuk belajar. Namun, mereka [mahasiswa internasional] kemudian direndahkan dan tidak dihormati," tegasnya.

Saat ini, pihak universitas, menurutnya, telah berupaya memberikan dukungan. Bahkan, Harvard disebut tengah mendorong paket bantuan keuangan dan kemungkinan perpindahan ke kampus lain bagi mahasiswa yang terdampak. Namun upaya itu terhambat karena sebagian besar kampus telah menutup pendaftaran untuk semester musim gugur.

Sejumlah mahasiswa internasional lain juga angkat bicara terkait kebijakan Trump yang dinilai diskriminatif dan merugikan.

Karl Molden, mahasiswa asal Austria, menyatakan kekhawatirannya karena sedang berada di luar AS dan tidak tahu apakah ia masih diizinkan kembali ke kampus.

"Mahasiswa internasional seperti digunakan sebagai 'bola' dalam pertarungan antara demokrasi dan otoritarianisme," katanya.

Kekecewaan juga datang dari Jared, remaja 18 tahun asal Selandia Baru yang baru saja diterima di Harvard dan berharap memulai perkuliahan musim gugur ini.

"Saya patah hati saat tahu pengumuman Trump yang disampaikan di tengah-tengah pengajuan visa pelajar," ujarnya.

Di sisi lain, isu ras dan agama ikut menyeruak dalam kebijakan ini. Beberapa mahasiswa meyakini Trump menggunakan isu antisemitisme dan ketegangan di lingkungan Harvard sebagai alat politik.

Seorang mahasiswa asal Israel yang tidak ingin disebutkan namanya mengaku yakin bahwa pemerintahan Trump menggunakan Harvard untuk melakukan 'pertempuran dengan dunia akademis yang jauh lebih besar'.

"Jadi saya merasa kami dimanfaatkan," ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, secara resmi mencabut izin Harvard untuk menerima mahasiswa asing per 22 Mei 2025. Langkah ini memicu gugatan dari Harvard ke pengadilan.

Hasilnya, Pengadilan Distrik Massachusetts untuk sementara menangguhkan pelaksanaan kebijakan tersebut sembari meninjau kembali legalitas tindakan Trump. 

Kebijakan ini juga dinilai membahayakan keberlangsungan universitas yang selama ini bergantung pada kontribusi mahasiswa internasional, baik secara akademik maupun finansial.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya