Berita

Ilustrasi obat antibiotik (AI/AT)

Publika

Ribuan Ton Antiobiotik Mengancam Kehidupan Sungai

RABU, 21 MEI 2025 | 08:28 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

BAYANGKAN Anda sedang batuk-pilek, lalu sang dokter dengan penuh kasih sayang menuliskan resep antibiotik. Anda pun menenggaknya, berharap si jahat bernama bakteri langsung tewas terbakar. Selesai? Sayangnya, tidak sesederhana itu.

Antibiotik yang baru saja Anda telan tidak langsung lenyap dari tubuh seperti sulap. Mereka justru memulai petualangan baru -keluar melalui air seni, menyusuri saluran got, masuk ke sistem pengolahan limbah (kalau ada), dan akhirnya bermuara ke sungai-sungai yang tenang di dunia.

Sebelum kita buru-buru menuding antibiotik sebagai biang kerok kerusakan sungai, mari kita kenali dulu siapa mereka. Antibiotik, dari kata 'anti' yang berarti melawan dan 'bios' yang artinya kehidupan, memang secara harfiah berarti “melawan kehidupan.” Tapi tenang, mereka bukan zombie pembunuh. Mereka jagoan -pasukan elit yang dikirim hanya ketika tubuh kita diserbu oleh bakteri penyebab penyakit.


Sayangnya, para jagoan ini sering dipanggil bukan pada waktunya. Banyak orang menganggap antibiotik seperti camilan kesehatan: dikonsumsi setiap kali merasa tidak enak badan, tanpa peduli apakah penyebabnya virus atau bakteri. Padahal, flu biasa atau batuk ringan seringkali tak butuh antibiotik sama sekali.

Akibatnya, antibiotik kerap dipaksa tampil di panggung meski bukan gilirannya. Dampaknya? Selain melatih bakteri menjadi lebih kebal, residu antibiotik itu tak benar-benar hilang dari tubuh. Mereka keluar bersama urin kita, lalu menyapa dunia luar.

Dan di sinilah cerita menjadi semakin dramatis.

Penelitian terbaru dari McGill University, Kanada, mengungkapkan bahwa sekitar 8.500 ton antibiotik mengalir ke sungai-sungai di dunia setiap tahun -bahkan setelah melewati sistem pengolahan limbah sekalipun. Ya, delapan ribu lima ratus ton, itu tidak sedikit.

Studi ini dipimpin oleh Dr. Sebastian Sauvé, profesor kimia lingkungan di McGill. Ia mengatakan: “Kami menemukan jejak antibiotik di 258 dari 258 sungai yang kami teliti di 104 negara. Artinya, tidak ada satu pun sungai yang benar-benar bersih dari paparan antibiotik.”

Saking halus dan larutnya, residu ini tak kasatmata. Tapi efeknya sangat nyata. Sungai kini menjadi arena magang bagi bakteri-bakteri yang sedang naik pangkat ?"menjadi superbug alias bakteri kebal antibiotik. Akan berbahaya jika superbug ini masuk ke tubuh makhluk.

Dan salah satu aktor utama dalam kisah ini adalah Amoksisilin, antibiotik sejuta umat. Ia menjadi “penghuni tetap” air sungai di Asia Tenggara ?"kawasan dengan pertumbuhan konsumsi antibiotik yang sangat tinggi. Ironisnya, banyak negara di kawasan ini belum memiliki sistem pengolahan limbah yang memadai.

Sungai pun menjadi semacam laboratorium terbuka, tempat residu obat dan mikroorganisme berpesta pora. Ikan-ikan kecil yang tadinya hidup damai di antara lumut dan bebatuan, kini harus berenang di air bercampur antibiotik dosis mikro. Bukan tambah sehat, malah stres: ini makanan atau racun?

Sejumlah penelitian bahkan mencatat perubahan perilaku dan sistem biologis makhluk air akibat paparan antibiotik jangka panjang. Jika ikan-ikan ini naik ke meja makan, apa tidak berbahaya? Tapi ya, siapa peduli? Asal manusia cepat sembuh dan makan kenyang, urusan ekosistem bisa ditunda, katanya.

Padahal, studi McGill ini bahkan belum menghitung limbah antibiotik dari industri peternakan dan farmasi ?"dua sektor yang juga menyumbang residu besar ke lingkungan. Jadi, yang kita lihat hari ini, baru pucuk dari gunung es yang terapung di sungai.

Kalau sungai bisa bicara, mungkin ia akan berkata: “Cukup sudah aku jadi tempat pelampiasan ambisi manusia.”

Tentu, kita tidak sedang mengatakan bahwa antibiotik adalah musuh. Kita butuh mereka. Dunia akan kacau tanpa antibiotik. Tapi kita juga harus ingat, bahwa kekuatan besar datang bersama tanggung jawab besar.

Edukasi publik harus lebih masif: kapan antibiotik dibutuhkan, dan kapan cukup teh jahe saja serta istirahat. Dan kalau Anda punya sisa antibiotik di rumah, tolong, jangan dibuang ke toilet sambil menyenandungkan lagu nasional.

Kita perlu sistem manajemen limbah medis yang cerdas -bukan sekadar saling lempar tanggung jawab antara rumah tangga, industri, dan pemerintah. Negara butuh regulasi yang tegas dan dijalankan sungguh-sungguh.

Tapi di atas segalanya, kita -para peminum antibiotik musiman- harus sadar bahwa kesehatan pribadi dan kesehatan ekosistem itu bukan dua hal yang bisa dipisahkan.

Kalau sungai kita rusak, air bersih menghilang, dan kita kembali sakit… siapa yang akan menyelamatkan kita? Antibiotik? Mungkin ia sudah pensiun, kelelahan karena terlalu sering disalahgunakan.

Maka rawatlah tubuh dengan bijak. Tapi lebih dari itu, rawatlah sungai kita. Karena antibiotik yang masuk dari mulut Anda, bisa berdampak panjang hingga ke ekor ikan yang bahkan tak pernah kenal dokter.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya