Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Menjaga Marwah Kepemimpinan

Oleh: Muchamad Andi Sofiyan*
SELASA, 13 MEI 2025 | 19:33 WIB

DI tengah arus perubahan yang kian deras, satu hal yang tak boleh pudar dari kesadaran kolektif kita sebagai masyarakat adalah pentingnya menjunjung tinggi dan menaati kepemimpinan yang sah. Dalam struktur sosial, baik dalam lingkup keluarga, organisasi, hingga negara, kepemimpinan bukan sekadar simbol kekuasaan, tetapi fondasi arah dan keberlanjutan.

Pemimpin yang baik adalah mereka yang bertindak sebagai pelayan rakyat, bukan penguasa yang haus kendali. Namun, kepemimpinan yang baik sekalipun tidak akan berarti tanpa dukungan dan loyalitas dari mereka yang dipimpin. Inilah simbiosis sosial yang seringkali terlupakan: bahwa pemimpin butuh legitimasi bukan hanya dari proses pemilihan, tetapi dari ketundukan kolektif yang ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Kepemimpinan Bukan Sekadar Kursi Kekuasaan


Sosiolog Jerman, Max Weber, mengklasifikasikan otoritas kepemimpinan menjadi tiga: tradisional, kharismatik, dan rasional-legal. Di era modern, kita berada dalam dominasi rasional-legal, di mana sistem dan hukum menjadi fondasi legitimasi. Namun demikian, legitimasi hukum akan kehilangan maknanya jika tidak disertai legitimasi sosial, yaitu pengakuan dan dukungan dari masyarakat.

Sayang dalam praktiknya, budaya tunduk kepada kepemimpinan kerap digeser oleh semangat oposisi yang tak berdasar. Bukan kritik membangun yang tumbuh, melainkan sinisme dan sabotase moral yang subversif. Ini bukan sekadar merugikan pemimpin, tetapi menggerogoti fondasi kepercayaan sosial.

Kepatuhan Bukan Berarti Membabi Buta

Penting digarisbawahi bahwa menjunjung tinggi kepemimpinan bukan berarti menihilkan kritik. Kepatuhan sejati adalah yang dilandasi kesadaran, bukan ketakutan. Kita mencontoh dari Nabi Muhammad SAW, seorang pemimpin par excellence yang tidak pernah memerintahkan sesuatu tanpa menjadi teladan terlebih dahulu. Kepemimpinan beliau ditaati bukan karena tekanan, tapi karena cinta dan kepercayaan.

Syekh Ibnu Taimiyah pernah mengatakan, "Sesungguhnya kekuasaan itu ada bersama keadilan, sekalipun pelakunya kafir. Dan tidak akan tegak negara dengan kezaliman, walau pelakunya muslim". Artinya, loyalitas kepada kepemimpinan tidak didasarkan semata pada identitas, tetapi pada nilai-nilai keadilan, integritas, dan tanggung jawab sosial.

Data Sosial: Ketika Kepemimpinan Tidak Didukung

Sebuah studi dari Pew Research Center (2021) menunjukkan bahwa negara-negara dengan tingkat kepercayaan masyarakat tinggi terhadap pemimpinnya cenderung memiliki indeks kebahagiaan dan stabilitas politik yang tinggi. Sebaliknya, negara-negara dengan kepemimpinan yang dirongrong terus-menerus dari dalam, seperti beberapa negara di Timur Tengah pasca-Arab Spring, justru terjebak dalam konflik dan kekacauan berkepanjangan.

Di Indonesia sendiri, laporan Indikator Politik (2024) menunjukkan bahwa 78,6 persen masyarakat menginginkan pemimpin yang tegas dan bersih, namun hanya 53 persen yang menyatakan siap mendukung keputusan sulit yang diambil oleh pemimpin. Ada jurang antara harapan dan dukungan nyata, dan di sanalah akar lemahnya transformasi.

Saatnya Membudayakan Dukungan Aktif

Dukungan kepada pemimpin bukan berarti menyerah pada sistem, melainkan menjadi bagian aktif dari solusi. Sikap ini mencakup tiga hal utama. 

Pertama, ta’dzim atau menghormati, yaitu tidak mencemooh atau merendahkan kepemimpinan yang sah, karena penghormatan adalah dasar dari stabilitas sosial. 

Kedua, taat dalam kebaikan, yakni mendukung kebijakan dan arah strategis yang membawa manfaat publik, selama itu selaras dengan prinsip-prinsip keadilan dan kesejahteraan. 

Ketiga, menegur dengan adab, yaitu menyampaikan kritik atau koreksi terhadap kesalahan dengan cara yang menjaga marwah kepemimpinan, bukan dengan cara yang merusak atau membakar jembatan komunikasi. 

Kita bisa belajar dari budaya Jepang, di mana penghormatan kepada pemimpin melekat kuat dalam etos kerja dan sosial. Bahkan di perusahaan, loyalitas pada pemimpin menjadi energi untuk produktivitas, bukan beban psikologis.

Menjaga Marwah Kepemimpinan Adalah Menjaga Negeri

Ketika pemimpin bersungguh-sungguh memikul amanah, maka rakyat pun seharusnya bersungguh-sungguh mendukungnya. Sebab tanpa dukungan, pemimpin akan jadi petarung sendirian dalam arena yang penuh aral.

Negara ini tidak dibangun oleh satu orang, tapi tidak akan selamat tanpa satu orang yang kita akui dan hormati sebagai pemimpin. Maka, jika kita ingin melihat kemajuan, stabilitas, dan keadilan, kita harus mulai dari satu hal: menghormati, menaati, dan mendukung pemimpin yang kita pilih sendiri.


*Penulis adalah penggiat literasi dari Republikein StudieClub

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya