Berita

Donald Trump dan Xi JinpingNet

Bisnis

China dan AS Damai Soal Tarif, Ekonom Menilai Xi Jinping Menang Besar

SELASA, 13 MEI 2025 | 10:53 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Keputusan Presiden China Xi Jinping untuk menentang kebijakan impor Presiden AS Donald Trump, dinilai tepat oleh sejumlah pengamat ekonomi. Hal ini terutama setelah kedua negara mengadakan negosiasi intensif selama akhir pekan di Swiss.

Dalam pertemuan dua hari tersebut, perwakilan dagang dari dua ekonomi terbesar dunia akhirnya sepakat pada Senin, 12 Mei 2025, untuk memangkas tarif secara besar-besaran.

Berdasarkan pernyataan bersama, AS setuju menurunkan tarif atas produk China dari 145 persen menjadi 30 persen selama 90 hari ke depan. Sebagai balasan, China juga memangkas tarif atas sebagian besar barang impor menjadi hanya 10 persen.


Langkah ini mengejutkan banyak pihak di China karena jauh melebihi ekspektasi. Dampaknya, nilai Dolar AS dan pasar saham naik tajam. Ini menjadi angin segar bagi Trump yang tengah tertekan oleh kenaikan inflasi di dalam negeri. Pasar saham China pun ikut melonjak.

Kesepakatan ini juga menguntungkan China karena hampir semua tuntutan utamanya terpenuhi. Tarif “timbal balik” sebesar 34 persen yang diberlakukan Trump sejak 2 April kini ditangguhkan. Sebagai gantinya, China hanya dikenai tarif 10 persen, sama seperti yang diberlakukan kepada Inggris.

Sebagai bagian dari kesepakatan, AS juga membentuk tim negosiasi yang dipimpin Menteri Keuangan Scott Bessent. Keduanya sepakat mengambil langkah tegas untuk mengatasi penyelundupan fentanil, sebuah isu penting bagi AS. Jika berhasil, tarif tambahan 20 persen atas produk China bisa dihapus.

Analis menyoroti bahwa hasil kesepakatan tersebut menunjukkan China masih memegang kendali, membuat ASakhirna mau mengalah. 

“Ini mungkin hasil terbaik yang bisa didapat China. AS pada akhirnya mau mengalah,” kata Trey McArver dari Trivium China, dikutip dari Japan Times. 

Ia menambahkan bahwa hal ini membuat China semakin percaya diri dalam negosiasi apa pun di masa depan.

"Ke depannya, ini akan membuat pihak China yakin bahwa mereka memiliki pengaruh terhadap AS dalam negosiasi apa pun," kata McArver.

Sejak Trump mulai menaikkan tarif hingga ke level tertinggi dalam 100 tahun terakhir, Xi telah bersikap keras. Tidak seperti pemimpin dunia lainnya, ia menolak beberapa kali ajakan presiden AS untuk berbicara lewat telepon, bahkan ketika tarif semakin tinggi. China bahkan menyebut kebijakan tarif itu sebagai “lelucon”.

Alih-alih tunduk, pemerintah China justru menurunkan suku bunga dan mengambil langkah lain untuk memperkuat ekonominya. Mereka juga aktif mengirim diplomat ke berbagai negara demi mencari pasar baru, sambil mengecam “intimidasi” dari AS.

Meski China mulai merasakan dampak perlambatan ekonomi, termasuk penurunan aktivitas pabrik, nasionalisme dalam negeri justru meningkat. Ini membuat Xi semakin kuat dalam menolak tekanan dari AS. Sementara itu, Trump makin ditekan oleh kalangan bisnis, pasar, dan partai politiknya sendiri yang khawatir kehilangan kursi di pemilu mendatang.

“Pelajarannya adalah bahwa kekuatan ekonomi itu penting,” kata Gerard DiPippo dari Rand China Research Center. Menurutnya, langkah Xi memperkuat industri dan kemandirian ekonomi kini makin sulit diperdebatkan.

Trump sendiri mengatakan bahwa ia mungkin akan berbicara dengan Xi pada akhir pekan ini. Ia menyebut kesepakatan tarif ini sebagai awal dari "pemulihan hubungan" dengan China. Namun, ia mengingatkan bahwa kesepakatan ini belum mencakup tarif untuk sektor mobil, baja, aluminium, dan farmasi.

“Hubungan kami dengan China sangat baik,” kata Trump pada jumpa pers Senin.

“Kami tidak bermaksud menyakiti China. Mereka memang sedang kesulitan. Banyak pabrik tutup dan terjadi keresahan. Jadi mereka senang bisa bekerja sama dengan kami,” tambahnya.

China kini memiliki waktu tiga bulan untuk merundingkan kesepakatan dagang yang lebih luas, yang bisa menyeimbangkan neraca perdagangan sekaligus melindungi kepentingan mereka.

Selama masa jabatan Trump sebelumnya, China sudah berusaha mengurangi ketergantungan pada produk AS dengan mengalihkan impor pertanian ke negara-negara berkembang seperti Brasil.

Menurut Song Hong dari Akademi Ilmu Sosial China, Beijing tetap tidak akan mau berkompromi dalam hal-hal prinsip seperti pengelolaan BUMN. Namun, untuk isu-isu seperti tarif, hak kekayaan intelektual, dan subsidi, masih bisa dibicarakan.

Dong Yan, pejabat dari lembaga yang sama, menilai perkembangan ini positif, tapi tetap mengingatkan bahwa Trump bisa saja mengubah sikapnya sewaktu-waktu. 

“Kita sudah belajar dari masa lalu, bahwa negosiasi tarif dengan Trump sering maju-mundur dan butuh waktu lama,” ujarnya.

Kesepakatan ini juga diperkirakan akan membantu China mencapai target pertumbuhan ekonomi 5 persen tahun ini. Bank ING pun menaikkan prediksi pertumbuhan ekonomi China menjadi 4,7 persen, dengan harapan ekspor ke AS di bulan Mei dan Juni akan meningkat.

Namun, Robin Xing dari Morgan Stanley mengingatkan bahwa penyelesaian jangka panjang tetap akan sulit karena hubungan AS-China yang kompleks. Hal senada disampaikan Alicia Garcia Herrero dari Natixis yang menilai, meskipun ini kabar baik, dunia tetap sedang bergerak menjauh dari era globalisasi.

“Lebih baik kita berpisah perlahan dan damai,” katanya.

“Daripada bertengkar seperti sebelum pembicaraan ini dimulai di Jenewa," demikian Herrero.

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

UPDATE

Utang Luar Negeri RI Tembus Rp7.309 Triliun pada Kuartal IV-2025, Naik Rp69 Triliun

Kamis, 19 Februari 2026 | 12:12

Perdamaian Masih Impian

Kamis, 19 Februari 2026 | 12:06

Ini Penjelasan DPR Soal Kembalinya Ahmad Sahroni sebagai Wakil Ketua Komisi III

Kamis, 19 Februari 2026 | 11:54

Bahlil Dorong Kemandirian Energi Lewat Revitalisasi Sumur Tua

Kamis, 19 Februari 2026 | 11:50

DPR Tegaskan Tak Ada Usulan Revisi UU KPK yang Diklaim Jokowi

Kamis, 19 Februari 2026 | 11:43

Prabowo Yakinkan Pebisnis AS, RI Kompetitif dan Terbuka untuk Investasi

Kamis, 19 Februari 2026 | 11:40

Meski Sahroni Kembali, Satu Kursi Pimpinan Komisi III DPR Masih Kosong

Kamis, 19 Februari 2026 | 11:32

Kolaborasi Indonesia-Arab Saudi: Misi Besar Menyukseskan Haji 2026

Kamis, 19 Februari 2026 | 11:27

Prabowo Saksikan Penandatanganan 11 MoU Rp649 Trilun di Forum Bisnis US-ABC

Kamis, 19 Februari 2026 | 11:18

Paripurna DPR Setujui Kesimpulan Komisi III soal Pemilihan Hakim Konstitusi Adies Kadir

Kamis, 19 Februari 2026 | 11:16

Selengkapnya