Berita

Presiden dan Wakil Presiden RI Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka/Ist

Politik

Enam Bulan Berjalan, Pemerintahan Prabowo Harus Segera Lakukan Perbaikan-perbaikan

SENIN, 12 MEI 2025 | 01:42 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Forum Tanah Air (FTA) merilis hasil evaluasi atas kinerja 6 bulan pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Setidaknya ada empat aspek yang disorot, yaitu bidang hukum dan HAM, politik, ekonomi, serta Hankam.

Berdasarkan temuan FTA, penanganan sejumlah kasus hukum masih bersifat dangkal dan tidak menyentuh akar permasalahan. Meskipun ada pengungkapan kasus besar dan mutasi di lingkungan peradilan, upaya pembersihan menyeluruh belum tampak jelas.

Dalam survei persepsi publik yang dilakukan FTA, sebanyak 44.196 responden menilai penegakan hukum kurang baik, 39.544 menilai tidak baik, dan hanya 11.496 yang menilai baik.


Selain penegakan hukum, FTA menekankan pentingnya perlindungan terhadap kebebasan berbicara dan kebebasan pers. Kebebasan berekspresi dinilai sebagai bagian penting dari demokrasi dan kontrol terhadap pemerintah.

Sorotan juga diberikan terhadap buruknya komunikasi publik dan komunikasi politik pemerintahan Prabowo. Minimnya sosialisasi kebijakan dinilai dapat mengurangi dukungan masyarakat terhadap pemerintah.

Dewan Pakar FTA, Hersubeno Arief, menilai banyak survei yang beredar saat ini menyesatkan, karena menyimpulkan bahwa rakyat puas terhadap kinerja pemerintah. 

Menurutnya, hasil FTA yang mencakup empat sektor di atas lebih komprehensif dan perlu dijadikan catatan bagi pemerintah. 

"Rapornya memburuk, tapi ini baru enam bulan. Mudah-mudahan ke depan ada perbaikan," ujar Hersubeno seperti dikutip redaksi melalui zoom meeting, Minggu 11 Mei 2025.

Hersubeno merekomendasikan agar hasil evaluasi ini tidak hanya dipublikasikan melalui media, tetapi juga disampaikan langsung kepada pemangku kepentingan di pemerintahan sebagai masukan perbaikan ke depan.

Sementara itu, dewan pakar lainnya, Chusnul Mariyah mempertanyakan metodologi survei kepuasan publik yang menyebut angka hingga 80 persen.

"Saya pasti bertanya, Indikatornya apa? Variabelnya apa?" ucapnya.

Lalu dewan pakar sekaligus ahli hukum tata negara, Refly Harun, menyoroti paradoks dalam komitmen pemberantasan korupsi Presiden Prabowo. 

Menurut Refly, meski Prabowo menyatakan akan memberantas korupsi, banyak figur di lingkaran pemerintahannya merupakan orang-orang dari pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang diduga terlibat kasus korupsi.

"Soal penegakan hukum ini, tidak bisa biasa-biasa saja. Harus extraordinary," kata Refly.

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

UPDATE

ASEAN di Antara Badai Geopolitik

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:44

Oknum Brimob Bunuh Pelajar Melewati Batas Kemanusiaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:32

Bocoran Gedung Putih, Trump Bakal Serang Iran Senin atau Selasa Depan

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:24

Eufemisme Politik Hak Dasar Pendidikan

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:22

Pledoi Riva Siahaan Pertanyakan Dasar Perhitungan Kerugian Negara

Minggu, 22 Februari 2026 | 18:58

Muncul Framing Politik di Balik Dinamika PPP Maluku

Minggu, 22 Februari 2026 | 18:22

Bank Mandiri Perkuat UMKM Lewat JuraganXtra

Minggu, 22 Februari 2026 | 17:51

Srikandi Angudi Jemparing

Minggu, 22 Februari 2026 | 17:28

KPK Telusuri Safe House Lain Milik Pejabat Bea Cukai Simpan Barang Haram

Minggu, 22 Februari 2026 | 16:43

Demi Pengakuan, Somaliland Bolehkan AS Akses Pangkalan Militer dan Mineral Kritis

Minggu, 22 Februari 2026 | 16:37

Selengkapnya