Berita

Bill Gates dan Prabowo Subianto/Ist

Publika

Ketika Bill Gates Mengetuk Pintu Istana

MINGGU, 11 MEI 2025 | 07:00 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

BAYANGKAN Anda sedang duduk santai di beranda rumah, menyeruput teh sambil menikmati hujan sore. Tiba-tiba, datang seorang pria asing, tajir melintir, membawa suntikan, biji-bijian rekayasa genetik, dan sekantong tepung ulat. “Selamat sore, saya Bill Gates. Boleh saya eksperimen sedikit di sini?”

Dan seperti itulah suasana hati sebagian rakyat Indonesia pekan ini, ketika raja software, Bill Gates --yang dikenal karena Windows--nya dulu sering crash -- kini datang ke Istana Negara. Tapi kali ini bukan untuk memperbaiki komputer Presiden, melainkan membawa janji penyembuhan TBC dan kemungkinan investasi triliunan.

Dia tidak datang sendiri, tapi didampingi oleh Kimia Farma, segenggam GMO, dan bayang-bayang sejarah kelam dari India.


Ada yang menyambut Bill Gates layaknya nabi teknologi, tapi ada juga yang mengernyit, “Kok kesannya kita ini negara uji coba?” Mungkin mereka ingat bahwa di India, vaksin polio yang didanai yayasan Gates pernah berujung petaka.

Lebih dari 490.000 anak dilaporkan mengalami kelumpuhan pasca program vaksinasi tersebut, hingga Gates dan timnya sempat digugat di pengadilan India. Apakah kita sedang membuka pintu bagi keselamatan, atau malah celaka?

Dokter Tifa Fauzia, yang sering disebut “dokter plus-plus” (plus cemas, plus kritis, plus getol mengingatkan), sudah menulis surat terbuka yang berbunyi tajam: “He is a pure businessman, not Santa Claus.” Ringkas, padat, dan menohok.

Memang, Bill Gates bukan Sinterklas. Dia tidak datang membawa hadiah cuma-cuma, melainkan investasi sebesar 159 juta dolar AS. Dan seperti kata para bankir, “tidak ada makan siang gratis.”

Sementara dunia sibuk berdebat soal etika medis, Gates dengan gesit juga disebut-sebut sedang mengincar sistem QRIS --alat pembayaran digital Indonesia yang konon tidak disukai Amerika.

Wah, dari Windows ke Wallet. Mungkin nanti muncul produk baru: Windows Pay --bayar cukup dengan tatapan mata, sambil Anda tak sadar sedang ditawari vaksin varian mRNA, bonus bubur tepung ulat maggot.

Belum cukup? Gates juga membawa bibit tanaman GMO dan rencana produksi daging sintetis dari maggot alias belatung. Jika sukses, semua hasil uji coba itu akan dijual ke dunia. Sementara kita? Mungkin akan tinggal cerita di buku catatan eksperimen.

Kementerian Kesehatan berusaha menenangkan publik. Mereka bilang uji klinis vaksin TBC ini profesional, diawasi WHO, BPOM, dan para ahli.

Tapi publik bertanya: “Kalau efek samping muncul, siapa tanggung jawab?” Lalu muncul saran khas netizen: “Coba dulu ke Presiden, Menteri, DPR. Kalau mereka masih hidup dan sehat, baru kami mau.”

Kemenkes menjelaskan bahwa vaksin M72 ini sudah diuji sejak awal 2000-an. Tapi seperti kata pepatah, “Bekas luka lama, maksudnya kasus vaksin polio India, tak mudah hilang.” Apalagi kalau bekasnya berbentuk gugatan hukum internasional.

Mari kita refleksi. TBC memang masalah serius?"Indonesia termasuk lima negara dengan beban tertinggi. Solusi dibutuhkan. Tapi solusi tak bisa diburu-buru. Apalagi kalau rakyat diposisikan sebagai ‘populasi uji coba’ dengan informasi yang minim, edukasi yang lemah, dan perlindungan hukum yang rapuh.

Informed Consent itu bukan hanya selembar kertas. Itu hak untuk tahu, menolak, atau menerima dengan sadar dan bebas dari tekanan. Jangan sampai rakyat hanya tahu bahwa mereka ikut program ‘kesehatan’, dibayar, padahal sebenarnya jadi sampel.

Alakulli hal, Bill Gates jenius dalam software. Tapi ketika dia beralih ke soft flesh alias tubuh manusia, kita butuh kehati-hatian ekstra. Negara yang besar bukan negara yang berani coba-coba, tapi yang melindungi warganya dari jadi obyek percobaan.

Prabowo harus ingat, menjadi pemimpin bukan berarti membuka pintu selebar-lebarnya untuk siapa saja yang membawa investasi. Tapi menjaga agar investasi itu tidak menjadikan rakyat sebagai collateral damage demi data klinis dan keuntungan global.

Kita ingin sehat, bukan sekadar jadi sehat-sehat-an di laporan uji coba.

 
*Penulis adalah Wartawan Senior


Catatan: Artikel ini ditulis sebagai bentuk kritik sosial yang berbasis data dan fakta yang telah tersebar luas di media arus utama. Jika ada kekeliruan, mohon koreksi dengan kasih sayang, bukan suntikan mRNA

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Konversi LPG Ke CNG Jangan Sampai Jadi "Luka Baru" Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:11

Apa Itu Love Scamming? Waspada Ciri-Cirinya

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:04

Rano Karno Ingin JIS Sekelas San Siro

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Geram Devisa Hasil Ekspor Sawit-Batu Bara Tak Disimpan di Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:42

KPK Didesak Tetapkan Tersangka Baru Kasus Korupsi DJKA

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:38

Ini Strategi OJK Jaga Bursa usai 18 Saham RI Dicoret MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:35

Cot Girek dan Ujian Menjaga Kepastian Hukum

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:27

Prabowo Bakal Renovasi 5 Ribu Puskesmas dari Duit Sitaan Satgas PKH

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:25

Prabowo Siapkan Satgas Deregulasi demi Pangkas Keruwetan Izin Usaha

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:11

Kementerian PU Bangun Akses Tol, Maksimalkan Konektivitas Kota Salatiga

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:02

Selengkapnya