Berita

Gibran Rakabuming Raka dan Goenawan Mohamad/Ist

Publika

Saran GM: Fokus ke Gibran Saja

KAMIS, 08 MEI 2025 | 07:13 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DI tengah publik yang ramai-ramai mengusut kebenaran klaim soal ijazah palsu Joko Widodo, terdengar suara jernih dari sesepuh bangsa. Jurnalis dan budayawan senior Goenawan Mohamad (GM) memang tak pernah berteriak, tapi kata-katanya seperti palu godam: “Sudahi sajalah soal ijazah palsu Jokowi, fokus ke Gibran saja.”

Di sebuah negeri yang konon demokratis --dengan catatan kaki panjang yang selalu diselipkan di belakang brosur kampanye-- kita sedang menyaksikan sebuah pertunjukan intelektual kelas sirkus. Para pesulap sibuk mengalihkan perhatian dari panggung utama, sementara badut-badut politik melontarkan lelucon lama: “Mana ijazahmu, Pak?”

Ijazah Jokowi? Ah, itu sudah seperti sinetron Netflix: panjang, repetitif, tapi tetap ditonton walau semua sudah tahu akhirnya. Tak ada dampak nyata dari membuka atau menutup misteri selembar kertas ijazah Jokowi itu. Pemiliknya sudah turun panggung, tak lagi menjabat sebagai presiden. Kekuasaannya sudah tanggal.


Entah ijazahnya benar atau palsu, dalam logika GM, toh negara ini sudah terlanjur dipimpin olehnya. Keputusan-keputusan sudah ditandatangani atas namanya. Mau dibatalkan semuanya? Mau disuruh ngulang jadi wali kota lagi? Kalau memang salah, kenapa dari dulu Anda tidak awas? Kenapa membiarkannya terpilih?

Kembali ke seruan GM --yang jelas bukan karena dendam-- ini soal logika dasar. Kita sedang bicara tentang masa depan republik, bukan nostalgia drama konspirasi. Coba lihat Gibran: tampan, muda, pewaris tahta, dan tentu saja… misterius. Ia muncul di panggung nasional secepat mi instan matang, lengkap dengan topping elektabilitas dari bapaknya.

Latar pendidikannya? Siapa yang benar-benar tahu, selain dirinya sendiri dan mungkin orang tuanya? Katanya, ia sekolah bisnis di luar negeri, di Singapura dan Australia. Katanya juga, dia hanya ikut paket persiapan masuk perguruan tinggi di luar negeri, yang entah bagaimana bisa diakui setara SMA oleh pemerintah?

Tapi mari kita pakai standar warganet: “Katanya” bukan bukti. Maka kita perlu menagih kepadanya: Mana ijazahmu? Tunjukkan. Jangan mengumpet seperti meniru bapak. Jika lulus SMP atau SMK, mana buktinya? Jika pernah kuliah, apakah pernah ikut sidang skripsi? Pernah disidang dosen atau hanya disidang netizen?

Dan gugatan-gugatan ini bukan sekadar soal selembar kertas ijazah. Ini soal jalur legitimasi kekuasaan yang dia genggam. Gibran adalah Wakil Presiden. Wakil dari Prabowo Subianto, yang --nama juga manusia-- bisa saja sewaktu-waktu sakit atau berhalangan, dan sesuai konstitusi, kekuasaan akan berpindah ke wakilnya.

Maka, demikian logika GM, penting --bukan sekadar wajar-- bagi publik untuk tahu dasar intelektual Gibran. Apa rekam jejak akademiknya? Apakah ia sampai di sana karena kompetensi, atau semata karena relasi dan revisi konstitusi? Tentu, kalau kita bertanya begini, akan ada buzzer yang berkata, “Kamu iri, ya?”

Tidak, Bung. Kami bukan iri. Kami cuma sadar, walau sedikit terlambat, bahwa republik yang kita cintai ini terlalu mahal untuk ditukar dengan ijazah misterius dan politik keluarga. Bayangkan, jika semua anak pejabat bisa langsung masuk istana hanya bermodal nama belakang. Republik atau dinasti?

Di negeri ini, kalau Anda menjual bakso di lokasi tertentu tanpa izin, bisa disita gerobak Anda, atau paling tidak diusir dari sana. Tapi kalau Anda menjual kekuasaan tanpa transparansi, malah diberi panggung dan pengawal.

GM tak sedang nyinyir. Ia sedang mengingatkan. Dalam sunyi, ia menyodorkan cermin ke wajah kita semua. Supaya kita bertanya: kenapa kita lebih sibuk membongkar masa lalu yang tak bisa diubah, daripada menguliti masa kini yang sedang menentukan masa depan?

Masa kini dan juga masa depan--maksudnya Gibran. Dan jangan salah: ini bukan hanya soal Gibran. Ini tentang siapa pun yang merasa bisa melompat tangga kekuasaan tanpa memperlihatkan tangga yang dipijaknya. Tentang sistem yang memberi jalan pintas bagi yang punya nama, tapi jalan buntu bagi yang hanya punya otak dan etika.

Maka mari kita usut. Bukan karena benci, tapi karena cinta. Cinta pada republik yang sehat, adil, dan percaya bahwa jabatan bukan warisan, tapi amanat. Sebab, kalau pertanyaan kritis terus dianggap sebagai fitnah, jangan salahkan jika suatu hari kita memilih presiden dari hasil undian arisan keluarga.

Fokus ke Gibran. Dan kalau nanti terbukti ijazah Gibran valid? Hebat. Rasa penasaran publik terbayar. Demokrasi menang. Dan kita semua bisa tepuk tangan --bukan karena sirkusnya, tapi karena akal sehatnya.

Tapi kalau ternyata tidak? Maka kita bukan sekadar menonton sirkus. Kita sedang tinggal di dalamnya. Selamat datang di Republik Ijazah. Di mana gelar adalah jubah, dan kejujuran hanyalah ilusi panggung.
*Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya