Berita

Ilustrasi/AI

Publika

Baterai Nuklir Lipat, Energi Menjanjikan Masa Depan

MINGGU, 04 MEI 2025 | 07:00 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

BAYANGKAN sebuah baterai. Tapi bukan sembarang baterai. Ini baterai nuklir. Dan bukan cuma nuklir, tapi juga bisa dilipat seperti sarung atau baju rompi. Selamat datang di energi masa depan yang tampaknya diciptakan oleh gabungan antara profesor jenius, ahli origami, peneliti muslim, dan penggemar kartun Jepang.

Baru-baru ini, para peneliti dari Daegu Gyeongbuk Institute of Science and Technology (DGIST), Korea Selatan --yang tampaknya punya terlalu banyak waktu luang dan keberanian main-main dengan radioisotop-- mengklaim telah menciptakan baterai nuklir generasi baru. Hasil temuan mereka menggemparkan dunia energi.

Dipimpin oleh Prof. Su-Il In (yang namanya kalau dibaca cepat bisa terdengar seperti “suilin” alias ‘sulit lin’ dalam logat Betawi), tim ini membuat dunia kaget dengan satu kalimat: “56.000 kali peningkatan mobilitas elektron.” Tak heran jika Tesla dan NASA mungkin sedang menggelar pengajian syukuran kecil-kecilan malam ini.


Bersama rekan-rekannya --Chol Hyun Kim, Muhammad Bilal Naseem, Junho Lee, Hong Soo Kim, dan Sanghun Lee-- mereka merilis makalah berjudul cukup bersahaja untuk sesuatu yang bisa mengubah dunia: “Novel perovskite-based betavoltaic cell: dual additive strategy for enhanced FAPbI3 ?-phase stability and performance.”

Ya, judulnya memang lebih cocok untuk mantra kuno atau password Wi-Fi. Tapi inti temuan ini serius. Mereka menggabungkan lapisan perovskite dengan isotop radioaktif karbon-14 berbentuk quantum dot. Lalu diberi aditif berbasis klorin, bukan untuk rasa atau aroma seperti mi instan, tapi untuk stabilitas kristal dan efisiensi konversi daya.

Hasilnya? Baterai kecil yang tahan puluhan tahun tanpa perlu di-charge. Bahkan katanya bisa bekerja selama dekade --mirip semangat PNS menjelang pensiun: stabil, tak tergoyahkan, dan tetap menyala. Ini temuan penelitian luar biasa, yang sayangnya tidak lahir dari kamar-kamar penelitian BRIN.

Perovskite, dalam konteks energi, bukan nama merek teh botol atau karakter anime, tapi sejenis struktur kristal yang sangat menjanjikan dalam dunia teknologi surya dan kini --kejutan!-- baterai nuklir. Bahan utama yang digunakan tim peneliti DGIST adalah formamidinium lead iodide (FAPbI?).

Senyawa material ini mampu menyerap cahaya dan mentransfer muatan listrik secara luar biasa. Untuk memperkuat stabilitas fase alfa-nya -- yang adalah bentuk paling efisien tapi juga paling “moody” -- mereka menambahkan dua bahan berbasis klorin sebagai semacam “pengasuh molekuler” agar kristalnya tidak mogok kerja.

Nah, agar makin spektakuler, mereka juga memasukkan isotop radioaktif karbon-14 dalam bentuk nanopartikel dan quantum dot. Buat yang belum kenal, karbon-14 biasanya dikenal sebagai bahan utama penanggalan fosil di laboratorium arkeologi.

Tapi di tangan para ilmuwan Korea ini, karbon-14 berubah dari pelacak masa lalu yang biasa digunakan para arkeolog, menjadi penggerak masa depan. Ia melepaskan partikel beta —elektron berenergi tinggi— yang bisa disulap jadi arus listrik oleh si perovskite tadi.

Jadi, bukan cuma nostalgia radioaktif, tapi benar-benar energi dari sisa-sisa kehidupan purba yang diubah menjadi tenaga zaman ultra-modern. Sebuah penggabungan antara Jurassic Park dan Tesla, dalam ukuran saku.

Lalu, apa gunanya buat kita? Kalau kamu sedang mencari baterai untuk remote TV yang tahan seumur hidup, sayangnya ini belum untuk itu. Teknologi ini lebih cocok untuk misi luar angkasa, operasi militer, atau mungkin untuk memasang CCTV di rumah mantan tanpa takut baterainya habis.

Tapi tetap saja, gagasan bahwa kita bisa punya sumber energi mini, stabil, dan tahan lama, adalah lonceng kematian bagi industri colokan listrik dan charger KW. Kalangan industri bisa ketar-ketir dengan investasi mereka di perusahaan energi.

Tentu, ada pertanyaan kritis. Apakah kita siap menyebarkan baterai yang berisi isotop radioaktif ke mana-mana? Kita yang masih bingung membedakan baterai AA dan AAA mungkin belum cukup matang untuk menyimpan baterai berkekuatan reaktor di saku celana.

Dan ini juga jadi momen untuk merenung. Jepang berambisi jadi negara mandiri energi berbasis perovskite pada 2030. Tapi Korea langsung melesat ke depan dengan menjadikannya radioaktif. Ini seperti kamu baru saja beli sepeda motor listrik, lalu tetanggamu keluar rumah naik Gundam bertenaga atom.

Yang pasti, teknologi ini memang luar biasa. Tapi seperti semua inovasi berbasis radioaktif, iblisnya ada di detail. Kita perlu regulasi, pemahaman publik, dan tentu saja --kesadaran bahwa tak semua yang bisa dilipat harus disimpan di lemari.

Baterai ini mungkin akan mengubah dunia, tapi mari kita pastikan dunia tetap bisa dibagi rata. Sementara itu, mungkin ide terbaik hari ini tetap: Jangan taruh baterai nuklir di saku baju koko saat shalat. Siapa tahu nanti jamaah sebelah meleleh karena kamu terlalu bercahaya.


*Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al Quran




Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya