Berita

Rosdiansyah/Istimewa

Publika

Refleksi Hari Buruh 1 Mei: Meratapi Nasib di Zaman Kalabendu

OLEH: ROSDIANSYAH
KAMIS, 01 MEI 2025 | 13:56 WIB

FRANCO Berardi yang akrab disapa 'Bifo' merupakan salah satu sosok penting dari organisasi Potere Operaio di Italia. Bersama dengan Antonio Negri, Mario Tronti dan Paolo Virno, mereka membentuk organisasi itu pada 1969. Setahun usai peristiwa Aksi Mahasiswa Mei 1968 di Prancis yang sohor sejagat. Bifo masih berusia 20 tahun saat organisasi berhaluan Kiri radikal itu dibentuk, namun ia punya semangat luar biasa beraktivitas dalam organisasi.

Dalam mengembangkan pemahaman otonomis, meski Bifo berpandangan Marxis, namun pengembangan teorinya justru mengadopsi psikoanalisa, skizofrenia dan teori komunikasi. Bagi Bifo, krisis kapitalisme tak bisa dijelaskan semata dari disiplin ekonomi biasa, melainkan harus menukik pada jantung kapitalisme yang penuh kontradiksi. 

Penyelesaian krisis bukan dengan cara memberi perhatian utama pada buruh, melainkan harus melihat dimensi emosi, kognisi, dan komunikasi yang melandasi proses produksi.


Fase pemikiran Bifo kemudian lebih banyak mengupas fenomena buruh atau pekerja di era pascaindustrial. Baginya, ada dua hal penting dalam era itu terkait perjuangan para buruh. 

Pertama, cognitive labour, yakni kerja kognitif. Segenap kerja yang dilakukan para buruh tak lepas dari kerja kognitif ini, namun definisi sosial dari kerja kognitif ini menyangkut tubuh, hasrat, fisik yang gampang rusak, cepat lelah, serta mudah mengalami ketidaksadaran. 

Oleh karena itu, dibutuhkan pemahaman cognitariat (kognitariat), yaitu kesadaran pada kecerdasan kolektif untuk menghadapi berbagai persoalan dalam hajat hidup.

Masalahnya, dalam era pascaindustrial juga ditandai dengan kemenangan pasar. Lazim disebut neoliberal. Semua tersedia di pasar dan ketersediaan apapun di pasar itu sanggup menggoda, merayu, meninabobokan bahkan mengalihkan perhatian para buruh dari kewajiban utamanya, yakni meraih kebutuhan hidup lebih baik. 

Reproduksi kapitalisme, ujar Bifo, merupakan dampak dari kehendak politik kolektif. Itu terjadi bukan cuma di negara-negara maju, tapi di negara berkembang pun sedang berlangsung.

Wajah kapitalisme abad 21 sudah jauh berbeda dibanding kapitalisme abad 20. Sebab, kapitalisme kini menukik ke kegiatan sosial yang sangat mempengaruhi aktivitas intelektual. Contoh nyata dan gampang bisa dilihat adalah pada pembuatan regulasi yang belum tentu berpihak pada kebutuhan masyarakat luas. Elite kaya berkuasa plus berjejaring ke dalam birokrasi sanggup mempengaruhi hasil proses regulasi. Sehingga aktivitas intelektual di balik regulasi itu menjadi sekadar pelengkap. Kebutuhan pasar adalah kebutuhan elite, bukan pemenuhan kebutuhan orang banyak.

Dua peristiwa gerakan massa yang bergaung sejagat pada 2011, yaitu Occupy Movement dan Arab Spring ternyata belum mampu menggulingkan kapitalisme yang bercokol di gedung-gedung tinggi di New York, Tokyo atau London. Ujungnya, terjadi fragmentasi dalam gerakan massa itu yang menghalangi terciptanya solidaritas sosial di internal mereka yang langgeng. Sebaliknya, korporasi kapitalis secara cepat memperkuat kembali regulasi finansialnya terhadap proses produksi. Pelan namun pasti gerakan massa itu pun punah.

Pada kurun berikutnya, isu dunia sudah bukan lagi tertuju pada dominasi korporasi, sebab isu-isu seperti rasisme, nasionalisme, fasisme, dan dinamika politik yang dominan. Peluang telah sirna, yang kini hadir adalah zaman kacau. 

Bifo menegaskan, untuk itulah buku terbarunya ini disuguhkan. Isinya, diagnosa Bifo terhadap situasi zaman ini. Diagnosa itu ditulis dari 2010 sampai 2023. Di antara diagnosanya berkaitan pada lemahnya posisi para pekerja berhadapan lawan korporasi yang mempunyai jaringan kuat ke birokrasi. Para pekerja kesulitan membangun kesadaran kolektif melawan hegemoni korporasi.

Untuk mengalihkan ketidakberdayaannya, para pekerja kemudian bergeser ke suasana yang melenakan. Seperti plesir, wisata, kecanduan main game dan berbagai kegiatan lain. Bagi mereka, mengikuti sistem korporasi tak perlu mempertanyakannya merupakan cara terbaik untuk bertahan hidup di lingkungan kerja. 

Janji-janji kesejahteraan di awal bekerja rasanya hanya tinggal janji, sulit terwujud. Apalagi jika korporasi kemudian mengeluarkan kebijakan yang tabu dipertanyakan, jangan ditentang. Kecerdasan kolektif para pekerja mendadak lumpuh. Tak berdaya menghadapi suasana itu.    

Terlebih lagi, zaman kini adalah zaman Akal Imitasi (AI). Pengendali korporasi lebih suka memakai AI daripada akal para pekerja untuk menyelesaikan beragam pekerjaan. Panik melanda para pekerja. Mereka khawatir di-PHK mendadak tanpa pesangon. Alasannya, korporasi harus menjalankan efisiensi demi bisa bertahan hidup. 

Keberlangsungan korporasi lebih penting daripada menjaga hubungan antara korporasi dengan pekerja. Selain itu, saat korporasi memakai AI, pengendali korporasi cenderung memakai tekno-linguistik, bahasa teknologi yang belum tentu dikuasai para pekerja. Makin paniklah para pekerja.

Ala kulli hal, diagnosa Bifo tentang kekacauan zaman ini sebenarnya bukan hal baru bagi rakyat Indonesia. Sebab, pada abad ke-12, Jayabaya pernah meramalkan datangnya zaman kepanikan. Zaman Kalabendu, kekacauan dimana-mana. 

Jika kita lihat, pengendali korporasi lebih percaya kelihaian algoritma daripada keterampilan pekerja. Perhatian utama adalah pada kegiatan sesaat ketimbang berkegiatan untuk jangka panjang. Aturan menjadi permainan di tangan mereka yang berkuasa. Benar-benar zaman kacau.

*Penulis adalah akademisi dan periset

Populer

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

UPDATE

PJJ dan WFH Didorong Jadi Standar Baru di Jakarta

Sabtu, 24 Januari 2026 | 06:02

Prajurit di Perbatasan Wajib Junjung Profesionalisme dan Disiplin

Sabtu, 24 Januari 2026 | 06:00

Airlangga Bidik Investasi Nvidia hingga Amazon

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:42

Indonesia Jadi Magnet Event Internasional

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:26

Macron Cemas, Prabowo Tawarkan Jalan Tengah

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:23

Rismon Sianipar Putus Asa Hadapi Kasus Ijazah Jokowi

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:11

Polda Metro Terima Lima LP terkait Materi Mens Rea Pandji

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:09

Prabowo Jawab Telak Opini Sesat Lewat Pencabutan Izin 28 Perusahaan

Sabtu, 24 Januari 2026 | 04:26

Polisi Bongkar 'Pabrik' Tembakau Sintetis di Kebon Jeruk

Sabtu, 24 Januari 2026 | 04:16

Pesan Prabowo di WEF Davos: Ekonomi Pro Rakyat Harus Dorong Produktivitas

Sabtu, 24 Januari 2026 | 04:04

Selengkapnya