Berita

Ilustrasi (Foto: worldcrunch.com)

Bisnis

China Mulai Demam, IHSG Positif Jelang Hari Buruh

KAMIS, 01 MEI 2025 | 00:32 WIB | OLEH: ADE MULYANA

TENSI dagang AS-China akhirnya mulai memberikan pukulan serius di Asia. Setelah dalam beberapa pekan ketidakpastian menyangkut kabar perundingan dagang AS-China terus bertahan, pelaku pasar di Asia kembali mendapatkan bekal buruk dalam menjalani sesi perdagangan Rabu, 30 April 2025.

Laporan terkini dari otoritas China mengklaim, situasi aktivitas manufaktur negeri terbesar di Asia itu yang terkontraksi sangat signifikan pada April ini. Indeks PMI manufaktur dilaporkan hanya sebesar 49,0 dan jauh lebih rendah dibanding ekspektasi pasar yang di kisaran 49,8. Laporan lebih jauh menyebutkan, rontoknya Indeks PMI tersebut sebagai imbas langsung dari perang dagang yang telah ditabuh oleh Trump beberapa pekan sebelumnya.

Catatan menunjukkan, posisi Indeks PMI tersebut yang bahkan telah berada di level terendah dalam hampir dua tahun terakhir. Situasi ini merupakan sinyal bahaya yang sangat serius mengingat sebelumnya sejumlah analis telah memperkirakan kinerja perekonomian China yang di ambang kemerosotan. Pukulan perang tarif oleh Trump akan benar-benar menjadi mimpi buruk dan menjadikan perekonomian China mengalami demam.


Sentimen muram dari China ini kemudian berpadu dengan sesi perdagangan penuh keraguan di bursa Wall Street sebelumnya, di mana meski seluruh Indeks mampu bertahan di zona penguatan moderat tetapi kerawanan pesimisme masih mengintai akibat perang tarif yang diyakini mulai berimbas pada perekonomian AS.

Meski demikian, sikap optimis pelaku pasar di Asia kukuh bertahan di sepanjang sesi perdagangan usai sempat goyah pasca  rilis data indeks PMI China. Pantauan menunjukkan, kinerja Indeks di Asia akhirnya terjebak dalam rentang moderat dan mixed. Situasi tersebut kemudian berlanjut hingga sesi perdagangan sore berakhir.

Hingga sesi perdagangan ditutup, indeks Nikkei (Jepang) menguat  moderat 0,57 persen di 36.045,38, sementara indeks ASX 200 (Australia) melonjak 0,69 persen di 8.126,2 dan indeks KOSPI (Korea Selatan) merosot 0,34 persen di 2.556,61. Laporan dari jalannya sesi perdagangan di Asia juga menunjukkan, perhatian investor yang sempat tersita pada rilis kinerja Keuangan kuartal pertama raksasa teknologi Korea Selatan, Samsung yang moncer. Namun sentimen keraguan dari tensi dagang AS-China dan Indeks PMI manufaktur China masih tetap mendominasi.

Rangkaian sentimen yang berkembang di Asia tersebut akhirnya menghadirkan keraguan bagi pelaku pasar di Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mampu membuka sesi pagi dengan gerak naik moderat terkesan rentan dan dengan segera tergelincir di zona merah. Beruntungnya,  IHSG dengan cepat mampu berbalik positif dan konsisten menjejak di rentang terbatas hingga sesi perdagangan sore.

Situasi dan sentimen yang berkembang terlihat tak jauh beranjak pada sesi perdagangan sore. IHSG akhirnya menutup sesi menjelang libur hari Buruh dengan naik moderat 0,26 persen di 6.766,79. Gerak positif dan dalam rentang terbatas IHSG sekaligus mencerminkan sikap ragu pelaku pasar dalam menantikan rangkaian sentimen terkini dari rilis data kinerja perekonomian AS.

Sejumlah saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan terpantau masih mampu menutup di zona positif, seperti: BBNI, BBCA, TLKM, UNTR,  SMGR, UNVR, CPIN, ICBP dan INDF. Namun kinerja positif tersebut terpupus oleh sejumlah saham unggulan lain yang kembali terperosok dalam zona merah, seperti: BMRI, ISAT, PGAS, PTBA, JPFA, ITMG dan BBTN.

Dolar AS Tunduk di Bawah Rp16.600

Kinerja bimbang bursa saham Indonesia, terkesan agak kontras dengan situasi di pasar uang. Pantauan terkini menunjukkan, kinerja nilai tukar Rupiah yang justru semakin gemilang dengan mencetak penguatan lanjutan secara konsisten dan tajam di sepanjang sesi. Sentimen eksternal dari bertahannya penguatan mata uang utama dunia mampu dimaksimalkan pelaku pasar untuk mengangkat Rupiah lebih jauh.

Laporan sebelumnya dari pasar global menunjukkan, posisi Indeks Dolar AS yang masuk tertekan menyusul rangkaian perkembangan perang tarif Trump yang dikhawatirkan mulai berimbas pada kinerja perekonomian AS. Pola dan situasi tersebut kemudian menjadi bekal positif bagi mata uang Asia untuk menguat, meski dalam rentang yang cenderung moderat.

Pantauan terkini hingga sesi perdagangan sore ini berlangsung menunjukkan, Rupiah yang bertengger di kisaran Rp16.597 per Dolar AS setelah melonjak signifikan 0,94 persen dengan sempat mencetak titik terkuatnya di kisaran Rp16.589 per Dolar AS yang sekaligus menembus ke bawah level psikologisnya di Rp16.600. Pantauan juga memperlihatkan, kinerja mata uang Asia yang seragam beralih menginjak zona penguatan.

Rupiah bahkan kini mendapatkan giliran untuk menahbiskan diri sebagai mata uang terkuat di Asia setelah sempat mencetak lonjakan hingga kisaran 0,98 persen. Selebihnya, kisaran penguatan mata uang Asia cenderung berada di rentang moderat..

Tinjauan RMOL juga memperlihatkan, minimnya suntikan sentimen domestik yang tersedia pada sepanjang sesi perdagangan hari ini, yang sekaligus memaksa porsi perhatian pelaku pasar tercurah sepenuhnya pada rangkaian sentimen eksternal yang berkembang.

Sikap pelaku pasar secara keseluruhan masih cenderung menantikan rilis data perekonomian AS menyangkut pertumbuhan GDP dan data ketenaga kerjaan, NFP. Di mana pelaku pasar mulai curiga, pukulan tarif Trump akan segera berimbas. Gerak turun Indeks Dolar AS dan menguatnya Rupiah mencerminkan upaya investor mengantisipasi buruknya data perekonomian akibat perang tarif.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya