Berita

Jenazah Paus Fransiskus ditempatkan dalam peti jenazah terbuka selama ritual pernyataan kematian di kediaman Santa Marta di Vatikan, sejak 22 April 2025/Vatican Media via AP

Global

Konklaf Dimulai 7 Mei 2025, Ini Calon Kuat Paus Selanjutnya

SELASA, 29 APRIL 2025 | 07:39 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Wafatnya Paus Fransiskus telah memicu diadakannya konklaf, yaitu tradisi berabad-abad untuk memilih paus baru. Takhta Suci mengonfirmasi bahwa konklaf akan resmi dimulai pada Rabu, 7 Mei 2025, waktu setempat.

Sejak Paus asal Argentina itu meninggal dunia pada 21 April lalu dalam usia 88 tahun, puluhan kardinal dari seluruh dunia sudah berkumpul di Vatikan. Namun, hingga kini masih belum ada petunjuk jelas siapa yang akan terpilih menjadi pemimpin baru Gereja Katolik.

“Konklaf untuk memilih paus baru akan dimulai pada 7 Mei,” demikian diumumkan Kantor Pers Takhta Suci melalui Vatican News di platform X.


"Para Kardinal yang hadir di Roma membuat keputusan itu pada Senin, dalam sidang umum kelima mereka," lanjut keterangan tersebut.

Menurut postingan tersebut, konklaf akan digelar di Kapel Sistina di Vatikan, yang akan ditutup untuk umum selama proses berlangsung.

Kardinal Jose Cobo dari Spanyol mengatakan, konklaf kali ini diprediksi akan penuh kejutan.

“Saya yakin, kalau Paus Fransiskus adalah sosok penuh kejutan, maka konklaf ini juga akan dipenuhi kejutan karena benar-benar tidak bisa ditebak,” ujarnya dalam wawancara yang dimuat oleh surat kabar El Pais pada Minggu.

Menurutnya, pada konklaf-konklaf sebelumnya, arah pilihan biasanya lebih terlihat, sementara kini banyak kardinal berasal dari luar Eropa, dan sebagian dari mereka bahkan belum saling mengenal.

Paus Fransiskus dimakamkan pada Sabtu lalu dalam sebuah upacara megah di Lapangan Santo Petrus, yang dihadiri sekitar 400.000 orang, termasuk anggota kerajaan, pemimpin dunia, dan peziarah dari berbagai negara.

Di tengah berbagai konflik dan krisis dunia saat ini, nama Kardinal Pietro Parolin dari Italia menjadi kandidat kuat pengganti Fransiskus. Parolin selama ini menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Vatikan, posisi tertinggi kedua setelah Paus.

Menurut prediksi bandar taruhan Inggris, William Hill, Parolin diunggulkan sedikit di atas Kardinal Luis Antonio Tagle dari Filipina, yang merupakan Uskup Agung Emeritus Manila. Disusul oleh Kardinal Peter Turkson dari Ghana, Pierbattista Pizzaballa dari Yerusalem, Kardinal Robert Sarah dari Guinea, dan Kardinal Matteo Zuppi dari Bologna.

Ricardo Cruz, seorang warga Filipina berusia 44 tahun yang mengunjungi makam Fransiskus pada Minggu, menyatakan harapannya.

"Sebagai orang Filipina, tentu saya ingin paus berikutnya berasal dari Asia. Tapi sebagai umat Katolik, yang terpenting adalah para kardinal memilih paus yang terbaik," ujarnya.

Semasa hidup, Paus Fransiskus dikenal karena upayanya menjadikan Gereja lebih terbuka dan penuh belas kasih, yang membuatnya dicintai banyak orang. Namun, beberapa reformasinya juga menuai kritik, terutama dari kelompok konservatif di Amerika Serikat dan Afrika.

Profesor Roberto Regoli, ahli sejarah Gereja dari Universitas Kepausan Gregorian di Roma, mengatakan kepada AFP bahwa para kardinal kemungkinan mencari sosok yang mampu "menciptakan persatuan yang lebih besar".

"Katolik saat ini mengalami banyak polarisasi, jadi saya memperkirakan konklaf kali ini tidak akan berlangsung dengan cepat," ujarnya.

Sejak wafatnya Fransiskus, para kardinal telah rutin mengadakan pertemuan umum untuk membahas persiapan pemakaman hingga tahapan konklaf.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya