Berita

Konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Rabu 23 April 2025 (Tangkapan layar/RMOL)

Bisnis

Kredit Perbankan Melambat Jadi 9,16 Persen pada Maret 2025

RABU, 23 APRIL 2025 | 19:22 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pertumbuhan kredit perbankan tercatat melambat menjadi 9,16 persen secara tahunan (yoy) pada Maret 2025. Angka tersebut lebih rendah dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 10,30 persen yoy.

Meski demikian, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan bahwa kredit investasi masih relatif tinggi pada periode Maret 2025.

“Pertumbuhan kredit investasi masih relatif tinggi, yaitu 13,36 persen (yoy), sementara pertumbuhan kredit konsumsi dan kredit modal kerja masing-masing tercatat sebesar 9,32 persen (yoy) dan 6,51 persen (yoy),” kata Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual pada Rabu, 23 April 2025.


Perry mengatakan, dari sisi penawaran, minat penyaluran kredit (lending standard) dan kondisi likuiditas juga masih memadai, meski sejumlah bank mulai menghadapi kendala dalam meningkatkan pendanaan baik Dana Pihak Ketiga (DPK) maupun sumber lainnya untuk penyaluran kredit. 

Selain itu, dari sisi permintaan, kontribusi pertumbuhan kredit terutama didukung pada sektor industri, pertambangan, dan jasa sosial, sementara kontribusi pertumbuhan kredit pada sektor konstruksi dan perdagangan tercatat masih terbatas. 

Di sisi lain, pembiayaan syariah dilaporkan tumbuh 9,18 persen (yoy), sementara kredit UMKM tumbuh sebesar 1,95 persen (yoy). 

“Ke depan, berbagai risiko ketidakpastian global dan dampaknya terhadap perekonomian domestik perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi prospek permintaan kredit dan preferensi penempatan aset likuid perbankan,” jelasya. 

Meningkatnya kredit perbankan diikuti rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL). Perry mengatakan bahwa rasio NPL perbankan rendah, sebesar 2,22 persen (bruto) dan 0,81 persen (neto) pada Februari 2025. 

“Hasil Bank Indonesia juga menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat, serta ditopang oleh kemampuan membayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga,” tuturnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya