Berita

Ramadhan Pohan/ist

Publika

Oke Gas, tapi ke Mana Arah Kebijakannya?

OLEH: Dr. Ramadhan Pohan*
RABU, 23 APRIL 2025 | 18:00 WIB

ADA yang masih ingat dengan pesan utama dari Presiden Prabowo Subianto ketika masih dalam masa kampanye Pemilihan Presiden tahun 2024 kemarin?

“Oke Gas, Oke Gas, Nomor dua Torang Gas.”

“Gas” dekat dengan istilah kecepatan. Diksi “gas” bagi anak muda saat ini menjurus kepada keinginan untuk segera melaksanakan sesuatu yang menjadi keinginannya.


Agaknya, itu yang tercermin dari langkah-langkah Presiden Prabowo dalam menjalankan roda pemerintahan saat ini. Cepat dalam merumuskan kebijakan, cepat dalam mengambil langkah untuk implementasi kebijakan.

Coba lihat ketika Prabowo berkumpul dengan para ekonom di acara Sarasehan Ekonomi tanggal 8 April lalu. Para pelaku ekonomi, mulai dari praktisi hingga akademisi, dikumpulkan, mengemukakan usul, pendapat dan saran terhadap kondisi ekonomi global akhir-akhir ini, termasuk mengenai tarif Impor 32 persen yang dikenakan Presiden Amerika Serikat kepada Indonesia.

Setelah mendengarkan masukan dari para ekonom, Presiden Prabowo langsung mengeluarkan rencana penghapusan kuota impor kepada Menteri Perdagangan dan juga Menteri Pertanian.

Instruksi langsung diberikan kepada Menteri Sekretaris Negara yang juga hadir di forum tersebut. Upaya tersebut dijelaskan sebagai deregulasi untuk membuka persaingan bisnis, sebagai respons terhadap tarif impor Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Baik atau buruknya kebijakan tersebut, biarlah para ekonom yang menilainya. Dari sudut pandang komunikasi, aspek yang bisa dilihat adalah cara presiden merumuskan lalu menyampaikan kebijakannya. Apalagi akhir-akhir ini, banyak sorotan terhadap cara pejabat negara melakukan penyampaian pesan kepada publik alias komunikasi publik.

Presiden Prabowo sendiri mengakui bahwa ada kekurangan dari jajaran stafnya dalam berkomunikasi dengan Masyarakat. Ketidakcakapan dalam berkomunikasi publik tentu akan mengundang reaksi negatif dari masyarakat.

Dalam konteks ekonomi, sebelum diadakan acara sarasehan ini, masyarakat memiliki opini yang tidak terlalu baik terhadap pemerintahan. Pemerintah dinilai pasif terhadap merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dan juga tidak stabilnya nilai IHSG.

Acara ini seakan menjadi panggung bagi pemerintah untuk membuktikan bahwa mereka tidak diam. Lewat sarasehan ini, presiden beserta para menterinya seakan turun langsung untuk mencari solusi dari kondisi yang dikeluhkan masyarakat.

Lihat saja hasilnya, langsung ada wacana untuk penghapusan kuota impor sebagai respons.

Charles E. Lindblom dalam artikelnya yang berjudul "The Science of Muddling Through" (1959) menjelaskan bahwa sebetulnya pembuat kebijakan publik tidak memiliki waktu yang lama dalam merumuskan sebuah kebijakan.

Pendekatan rasional-komprehensif dalam perumusan kebijakan yang ideal membuang waktu dan pembuat kebijakan tidak memiliki waktu yang cukup untuk merespons sebuah keadaan genting.

Namun, tidak serta merta sebuah kebijakan harus dirumuskan dalam waktu hanya tiga jam lebih saja. Pembahasan yang lebih komprehensif jelas diperlukan. Jika melirik ke belakang, dalam beberapa tahun terakhir, banyak kebijakan-kebijakan yang sifatnya dirumuskan begitu cepat, cenderung tergesa-gesa.

Contoh yang paling dekat, kebijakan larangan penjualan gas LPG 3 Kg oleh Kementerian ESDM. Mari kita ingat, berapa lama kebijakan itu bertahan?

Beberapa keputusan yang diambil dalam sarasehan ekonomi tersebut seakan merupakan bukti bahwa Presiden Prabowo seakan tetap konsisten dalam tagline kampanyenya. Semuanya dilakukan dengan cepat, menginjak pedal gas untuk memacu kecepatan.

Pemerintah seakan melupakan Everett M. Rogers yang telah mengemukakan Teori Difusi Inovasi. Sebuah perubahan membutuhkan waktu untuk diimplementasikan dalam sebuah institusi sosial.

Tidak serta-merta sebuah kebijakan yang diharapkan menghasilkan perubahan, dapat berjalan dengan lancar. Pasti ada resistensi, pasti ada gelombang protes. Perlu ada penyesuaian dalam implementasi sebuah kebijakan.

Satu hal lagi, lakon yang ingin dimainkan Presiden Prabowo Subianto dan jajarannya dalam sarasehan tersebut adalah kebutuhan mereka dengan akademisi. Kita tentu sudah menyimak efisiensi anggaran yang dijalankan oleh Presiden Prabowo. Salah satu pos anggaran yang banyak dihapuskan adalah kajian.

Penghapusan kajian akademik dari sebuah kebijakan berarti mengurangi keterlibatan dan peran akademisi dalam perumusan ataupun implementasi sebuah kebijakan.

Bukan rahasia umum lagi, acara kajian, FGD, ataupun diskusi yang melibatkan forum akademisi sering menjadi cara untuk melakukan penyerapan anggaran. Terkadang, output-nya jadi tidak maksimal. Pelaksanannya memang harus ditinjau lagi, bukan malah dihilangkan seluruhnya.

Acara kemarin seakan menjadi antithesis. Anggaran kajian strategis dan diskusi panel di jajaran Kementerian dan pemerintah daerah dihapuskan. Namun presiden sebagai pucuk pimpinan malah melakukan kajian dan forum diskusi yang mengundang sejumlah ahli ekonomi.

Apakah presiden ingin menjawab kritik akademisi dan sejumlah pakar terhadap pihak pemerintah yang diam saja ketika kondisi ekonomi dunia sedang tidak stabil? Apakah presiden memang membutuhkan pendapat para pakar untuk menyelesaikan masalah karena dari deretan menterinya tidak ada yang bisa memberikan solusi dan masukan yang solutif?

Hanya waktu yang bisa menjawab.

*Penulis adalah mantan Politisi Demokrat, Doktor Fakultas Ilmu Komunikasi Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya