Berita

Ilustras/Net

Bisnis

Harga Kakao Mulai Stabil, Krisis Belum Berakhir

SELASA, 22 APRIL 2025 | 16:10 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Setelah mengalami lonjakan harga yang tajam dalam dua tahun terakhir, harga kakao dunia mulai menunjukkan tanda-tanda stabil. Organisasi industri bahkan memprediksi akan ada surplus kecil setelah bertahun-tahun kekurangan.

Kabar ini tentu menggembirakan bagi para pencinta cokelat. Tapi, di Afrika Barat — khususnya di Pantai Gading dan Ghana sebagai penghasil kakao terbesar dunia — nasib para petani masih memprihatinkan.

Menurut laporan Bloomberg, mereka telah menelusuri perjalanan sejauh 2.500 km di wilayah penghasil kakao utama. Di sana, mereka menyaksikan kebun-kebun kering, bunga kakao yang layu, lahan rusak akibat tambang ilegal, dan petani yang kewalahan menghadapi penyakit tanaman.


"Semuanya berubah dalam dua tahun. Saya tak bisa panen banyak lagi," kata Oscar Bendeh, petani di Ghana yang harus meninggalkan lahannya karena penyakit tunas bengkak. Penyakit ini menyebar lewat serangga kecil dan sulit terdeteksi sejak awal.

Pemerintah Ghana berencana menanam ulang 500.000 hektar kebun, tapi baru 10 persen yang berhasil direalisasikan. Butuh dana besar sekitar 1,2 miliar Dolar AS, sementara kondisi keuangan negara sedang sulit.

“Kami harus mencicil sedikit demi sedikit tiap tahun,” kata Randy Abbey, kepala Dewan Kakao Ghana.

Sayangnya, para petani juga tak banyak menikmati kenaikan harga kakao dunia. Sistem penjualan di Ghana dan Pantai Gading membuat kakao dijual jauh sebelum masa panen, sehingga mereka tak kebagian saat harga sempat melonjak hingga lebih dari 6.000 dolar AS per ton.

Meski konsumsi cokelat dunia mulai menurun dan pasar lebih seimbang, hasil panen dari Afrika tetap jadi penentu utama apakah harga benar-benar akan kembali normal.

"Produksi mungkin membaik musim depan," kata Jonathan Parkman dari Marex Group.

"Tapi belum akan sepenuhnya pulih seperti sebelum krisis," lanjutnya.

Sistem harga yang diatur pemerintah awalnya dimaksudkan untuk melindungi petani saat harga rendah. Tapi kini, justru membuat pendapatan mereka jauh dari layak.

“Pantai Gading tidak bisa ubah sistem penjualannya setiap saat hanya karena harga pasar berubah,” kata Arsene Dadie, kepala pemasaran domestik regulator kakao Le Conseil du Cafe-Cacao.

“Negara ini harus mengatur hasil panen besar, jadi kami tak bisa ikut pasar secara buta," lanjutnya.

Kondisi cuaca juga masih jadi masalah besar. Lebih dari sepertiga wilayah Pantai Gading dan setengah wilayah Ghana masih mengalami kekeringan, menurut African Flood and Drought Monitor. Meski sebagian daerah mulai turun hujan, musim kering yang panjang membuat panen pertengahan tahun ini terhambat.

"Musim kering sangat berat untuk pohon kakao. Kami hampir tak bisa kerja di kebun sebelum hujan datang," kata Yabao Madi, petani di Duekoue, sekitar 500 km dari Abidjan.

Bahkan perkebunan-perkebunan muda di Ghana barat juga kekurangan air.

“Kami belum punya sistem irigasi yang baik,” ujar Abbey.

“Kalau cuaca berubah sedikit saja, langsung jadi masalah besar buat kami," tambahnya.

Para pedagang kakao dunia kini memantau wilayah ini untuk melihat apakah hujan akan turun cukup. Dalam waktu dekat, pohon-pohon kakao akan mulai menghasilkan buah untuk panen utama di bulan Oktober, sebuah momen penting untuk menentukan apakah surplus kakao bisa benar-benar terjadi.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Wall Street Hijau di Tengah Harapan Meredanya Konflik AS-Iran

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:23

Di Balik Sensor Istana: Diksi Nuklir Prabowo dan Bantahan Kilat Teheran

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:10

Pelatih Vietnam Bongkar Rahasia Usai Permalukan Indonesia 3-0

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:04

Tanggapi MK, Menkeu Pastikan Anggaran MBG Tidak Mengganggu APBN

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:47

Menhaj Lantik 6 Pejabat Kemenhaj untuk Perkuat Pelayanan Haji dan Umrah

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:46

Bunga Pinjaman Turun, Bulog Hemat hingga Rp1,07 Triliun per Tahun

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:35

Pasar Logam Mulia Tertekan, Emas Masih Berkutat di 4.000 Dolar AS

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:18

Bursa Eropa Cetak Rekor, DAX 40 Tembus 26.000 Poin

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:07

Sekolah Nasional Terintegrasi: Tantangan Pendidikan dan Implementasi Rekonstruksi

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:46

BGN Anggap Putusan MK Justru Perkuat Program MBG

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:27

Selengkapnya