Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Syariat dan Tanggung Jawab Sosial

Oleh: Muchamad Andi Sofiyan*
RABU, 16 APRIL 2025 | 02:39 WIB

TIDAK seorang pun yang dengan jujur dapat mengklaim dirinya telah bersih. Keinginan untuk tampil sempurna di mata manusia adalah fitrah, namun kebersihan sejati bukan soal citra, melainkan soal laku. Kesucian hati dan perilaku adalah hal yang terus diperjuangkan seumur hidup, bukan gelar yang bisa diikrarkan sekali jadi.

Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An-Najm: 32).

Ini adalah peringatan halus namun tegas bahwa klaim kesucian diri adalah hal yang rawan menjerumuskan. Kesucian sejati bukan pengakuan, tetapi pengaruh—dan orang yang bersih benar-benar terlihat dari satu hal yang sangat sederhana namun mendalam: ia tidak menyakiti orang lain.


Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah indikator nyata dari keislaman seseorang. Bukan pada jubahnya, bukan pada hafalannya semata, tapi pada apa yang ditinggalkan oleh lisannya—dan tidak dilakukan oleh tangannya.

Kebersihan hati akan selalu berbuah pada kebersihan sosial. Dan Syariat Islam hadir bukan hanya untuk menyelamatkan individu dari murka Allah, tetapi untuk menjadi jalan keselamatan bagi orang lain juga.

Ketika Syariat ditegakkan dalam rumah tangga, tetangga merasakannya. Ketika ditegakkan dalam bisnis, pelanggan dan mitra ikut merasakan keadilannya. Maka pelaksanaan Syariat yang benar-benar dijalankan bukan hanya menyelamatkan diri dan keluarga, tapi juga menebarkan rahmat secara horizontal.

Allah berfirman: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya: 107).

Bahkan Syariat pun bukan hadir untuk mengekang, tapi membebaskan manusia dari kebodohan dan kezaliman, baik kepada dirinya sendiri maupun kepada masyarakat. Maka orang yang berani menghalangi Syariat, sejatinya sedang menyiapkan kehancuran untuk dirinya sendiri.

Sejarah menyimpan banyak pelajaran. Ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz mulai menegakkan Syariat secara utuh, bukan hanya kaum Muslimin yang menikmati kesejahteraan, tapi bahkan hewan-hewan pun disebutkan tidak kelaparan. Dalam satu riwayat disebutkan:

“Saat Umar bin Abdul Aziz memerintah, tidak ditemukan orang yang mau menerima zakat karena semua telah hidup berkecukupan.”

Namun, bandingkan dengan fase-fase saat umat Islam meninggalkan hukum Allah dan menggantinya dengan hukum buatan manusia—yang terjadi justru penjajahan, perpecahan, dan kemiskinan spiritual yang merajalela.

Dan Rasulullah SAW sudah mewanti-wanti: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).

Artinya, membiarkan Syariat dihalangi, lalu diam dan nyaman dalam pasifisme spiritual, bukanlah cermin dari keimanan yang kuat.

Maka jika ingin menjadi manusia bersih, jangan hanya sibuk mencuci citra diri. Bersihkan niat, lisan, dan perbuatan. Tegakkan Syariat bukan hanya di rumah, tapi di hati, di jalan, di tempat kerja, di masyarakat. Bukan untuk pamer, tapi untuk menjadi penyebab keselamatan bagi sebanyak mungkin manusia.

*Penulis adalah penggiat literasi dari Republikein StudieClub

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Kampus Demokrasi Obama

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:54

Presiden Prabowo Kemudikan Kapal Indonesia Menuju Ekonomi Pancasila

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:36

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:18

Keberadaan DSI Perlu Dievaluasi Ulang dalam Tata Niaga Sawit

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:59

Usaha Jufriyah Terus Keruk Cuan Bersama BRI

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:34

Perdamaian AS-Iran Tanpa Israel

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:16

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:55

BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Berbagai Solusi Finansial

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35

Koperasi Menjaga Keseimbangan

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:15

Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan Harus jadi Kebutuhan

Selasa, 23 Juni 2026 | 02:55

Selengkapnya