Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Bahaya Ekstremisme dan Isu Palestina

Oleh: Muchamad Andi Sofiyan*
SELASA, 15 APRIL 2025 | 06:30 WIB

KONFLIK Israel-Palestina kembali menjadi perhatian dunia setelah agresi militer Israel di Jalur Gaza menyebabkan ribuan korban jiwa, mayoritas warga sipil. Di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, gelombang solidaritas terhadap rakyat Palestina menguat. 

Namun, di tengah arus solidaritas tersebut, tersembunyi bahaya lain yang tak kalah genting: ekstremisme kekerasan yang memanfaatkan penderitaan Palestina sebagai bahan bakar ideologis.

Dukungan terhadap Palestina pada dasarnya merupakan ekspresi empati dan keberpihakan terhadap nilai-nilai keadilan. Namun, persoalan muncul ketika sentimen ini dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok ekstremis untuk menyebarkan narasi kebencian, justifikasi kekerasan, dan rekrutmen pengikut baru.


Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Rycko Amelza Dahniel, mengingatkan bahwa konflik Palestina-Israel kerap digunakan kelompok teroris sebagai instrumen legitimasi tindakan kekerasan. "Isu ini menjadi alat propaganda untuk memperkuat narasi global jihad dan membenarkan aksi teror," ujarnya dalam Forum Koordinasi Nasional Penanggulangan Terorisme akhir tahun lalu.

Laporan Global Terrorism Index 2024 mencatat peningkatan konten radikal terkait isu Palestina di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Platform daring seperti Telegram, TikTok, dan forum-forum anonim menjadi ruang penyebaran pesan-pesan yang menyesatkan.

Politisasi Agama

Narasi ekstremis kerap menyederhanakan konflik Israel-Palestina sebagai “perang agama”, padahal substansinya jauh lebih kompleks. Akar masalah terletak pada pendudukan, kolonialisme, dan pelanggaran hukum internasional yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Sejarawan agama Karen Armstrong menyebut bahwa "kekerasan atas nama agama sering kali lebih berkaitan dengan kekuasaan, ketakutan, dan identitas yang terancam, bukan ajaran suci itu sendiri." Politisasi agama oleh kelompok radikal justru menjauhkan solusi damai yang diupayakan komunitas internasional.

Penyebaran narasi hitam-putih ini menjadi tantangan serius bagi Indonesia, terutama di tengah populasi muda yang sangat aktif di media sosial dan belum sepenuhnya memiliki literasi kritis terhadap isu-isu geopolitik dan teologi.

Tantangan Bagi Indonesia

Indonesia bukan sekadar negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Indonesia juga memiliki peran strategis dalam diplomasi perdamaian dan keberagaman. Namun, pengaruh konflik global terhadap dinamika keamanan dalam negeri tidak bisa diabaikan.

Penangkapan beberapa tersangka teror oleh Densus 88 selama dua tahun terakhir menunjukkan bahwa sebagian dari mereka termotivasi oleh isu Palestina, meski tidak memiliki koneksi langsung dengan kelompok resmi di wilayah tersebut. Dalam beberapa kasus, mereka bertindak berdasarkan narasi yang diperoleh dari media sosial atau ceramah-ceramah tertutup.

Ini menjadi pengingat bahwa solidaritas terhadap Palestina harus ditempatkan dalam bingkai kemanusiaan dan hukum internasional, bukan dibajak untuk membenarkan kekerasan yang justru merusak perjuangan rakyat Palestina sendiri.

Peran Strategis Pendidikan dan Agama

Pendidikan keagamaan yang moderat dan inklusif menjadi garda depan dalam menangkal penyimpangan tafsir yang dilakukan kelompok ekstremis. Warisan Islam Nusantara yang damai dan menghargai keberagaman adalah modal besar yang harus terus dirawat.

Almarhum Prof. Azyumardi Azra pernah menekankan bahwa Islam Indonesia memiliki kekayaan tradisi yang mampu menjadi penangkal ideologi transnasional yang radikal. "Kita perlu menguatkan Islam wasathiyah (moderat) sebagai fondasi menghadapi ekstremisme global," katanya dalam satu simposium keagamaan tahun 2020.

Selain itu, literasi digital juga menjadi agenda mendesak. Anak muda Indonesia perlu dilatih untuk membedakan mana informasi yang sahih dan mana yang merupakan manipulasi emosional berbasis algoritma.

Komitmen Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina tidak perlu diragukan. Namun, dalam mengawal komitmen itu, Indonesia juga harus tegas menolak segala bentuk kekerasan yang menodai nilai-nilai perjuangan kemanusiaan.

Ekstremisme yang tumbuh dari simpati buta justru memperpanjang rantai konflik. Ia bukan sekutu perjuangan rakyat Palestina, melainkan duri dalam daging yang menghambat diplomasi dan merusak citra keadilan itu sendiri.

Konflik Israel-Palestina adalah tragedi panjang yang menuntut empati dan keberpihakan. Namun, keberpihakan itu harus disertai kecerdasan moral dan kewaspadaan. Kita bisa berdiri bersama rakyat Palestina tanpa harus menoleransi ideologi kebencian dan kekerasan. Indonesia harus terus bersuara lantang: mendukung Palestina, sambil melawan ekstremisme.

*Penulis adalah penggiat literasi dari Republikein StudieClub

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya