Berita

Presiden Prabowo Subianto/Tangkapan layar

Publika

"Prabowo The Last Emperor", Jangan Biarkan Darah Rakyat Mengalir Ditindas Kekuasaan

MINGGU, 13 APRIL 2025 | 13:06 WIB | OLEH: AGUSTO SULISTIO*

BANGUN tidur pun kadang berdarah-darah. Seorang ayah yang terburu-buru mencari nafkah, menyalakan motor dengan sisa kantuk dan perut kosong, menabrak pagar rumah tetangga karena kakinya tersandung besi yang menjulur.

Luka itu kecil, tapi jadi simbol besar dari nasib rakyat yang terus-menerus disakiti oleh sistem yang abai. Negara ini, yang mestinya menghadirkan rasa aman sejak rakyat membuka mata hingga menutupnya kembali di malam hari, justru membiarkan luka-luka itu mengalir setiap hari tanpa arah penyembuhan.

Ini bukan cerita satu orang. Ini potret jutaan rakyat Indonesia yang setiap harinya menjalani hidup dengan risiko yang seharusnya tak perlu mereka tanggung. Jalanan rusak, jaminan kesehatan lemah, keamanan kerja rendah, harga sembako melambung, oknum pejabat hidup dengan fasilitas mewah dari uang rakyat.


Di balik jubah jabatan, ternyata ada oknum yang menyembunyikan rompi tahanan. Mereka korupsi. Mereka khianat. Mereka menyelewengkan amanah kekuasaan yang dipercayakan rakyat lewat pemilu yang dulu katanya penuh harapan.

Rakyat disuruh sabar. Disuruh percaya bahwa semua akan diperbaiki perlahan. Tapi di saat yang sama, rakyat juga disuruh bayar ini-itu dengan pajak yang naik tiap tahun. Sementara gaji mereka tak pernah cukup, dan harga-harga terus menyiksa.

Rakyat hidup dalam risiko karena negara gagal menjalankan satu tugas utamanya, yakni menjamin keselamatan dan kesejahteraan warganya sebagaimana diperintahkan konstitusi.

Konstitusi itu bukan sekadar kitab hukum. Ia adalah perjanjian luhur yang seharusnya menjadi penjaga kehidupan seluruh rakyat. Pasal demi pasalnya menegaskan bahwa keselamatan, kesejahteraan, dan keadilan adalah hak setiap warga negara.

Tapi kenyataannya, yang dijaga justru kepentingan segelintir elite. Rakyat disuruh bertahan dalam kesengsaraan, sementara masih ada kekuasaan yang bekerja demi dinasti dan jaringan oligarki.

Hidup rakyat Indonesia hari ini seperti berjudi dengan takdir. Pergi kerja bisa tak pulang. Berobat bisa tambah utang. Anak sekolah bisa jadi buruh atau putus sebelum lulus. Semua karena sistem masih berisi budaya yang mendorong pejabat menjadi tamak, bukan negarawan amanah, mungkin karena rekrutmen yang benar sudah tergilas dengan perencanaan korup sedari awal.

Kita tidak sedang kekurangan sumber daya, tapi kekurangan keberanian untuk membersihkan kursi kekuasaan dari mereka yang tak layak. Lihat bagaimana beberapa menteri menghadap ke mantan pemimpin membahas soal dugaan ijazah palsu dan dinasti politik, seperti tak ada aturan bagi pejabat negara yang seharusnya terhormat dan berwibawa.

Namun di tengah gelapnya keadaan itu, rakyat kini menaruh harapan besar kepada sosok yang telah dikenal sebagai pejuang, Prabowo Subianto.

Penulis, dalam banyak opini sebelumnya, menyebutnya "Prabowo The Last Emperor" bukan gelar kosong, tapi keyakinan akan ketulusan dan tekad beliau sebagai pemimpin harapan terakhir perubahan "era akhir reformasi" untuk menegakkan hukum dengan tegas, membela keadilan, dan menghadirkan kemakmuran tanpa tunduk pada tekanan oligarki dan permainan dinasti politik yang selama ini menyengsarakan rakyat.

Pendapat penulis, era reformasi akan berakhir dan masuk ke era Indonesia Emas, bahaya jika reformasi tidak dituntaskan dahulu.

Prabowo bukan datang dari sistem yang nyaman. Ia berulang kali berdiri di luar lingkaran kekuasaan dan memilih jalan perjuangan, bahkan saat jalur itu lebih berat.

Maka, ketika akhirnya rakyat memilih dan mengantarnya menjadi Presiden, pidatonya yang menggelegar usai dilantik bukan sekadar seremoni, tapi nyala semangat dan harapan yang menyalur ke jutaan hati rakyat Indonesia.

Percayalah, rakyat bersamamu, Pak Prabowo. Para pendukungmu, khususnya mereka yang aktif pada Pilpres 2014 dan 2019 tak pernah lelah memperjuangkanmu, akan tetap berdiri di belakangmu sampai titik darah penghabisan asal engkau berdiri di pihak rakyat.

Bukan untuk membela segelintir elite, tapi membela mereka yang setiap hari bangun pagi dengan luka dan harapan yang belum juga sembuh.

Seperti pesan Presiden ke-4 RI, almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) "Prabowo Tulus", bahwa pemimpin tulus untuk rakyat tak biarkan negeri ini hancur dan kekuasaan hanya berputar di lingkaran oligarki dan dinasti kekuasaan.

Dan kini, sejarah memberi kita kesempatan untuk membuktikan bahwa negeri ini masih bisa diselamatkan, jika pemimpinnya berani menolak tunduk dan memilih berpihak kepada rakyat.

Saatnya membuktikan, bahwa takdir Indonesia bukan di tangan para perampok kekuasaan, tapi di tangan rakyat bersama seorang pemimpin yang benar-benar mengabdi.

Mantan Kepala Aksi Advokasi PIJAR era tahun 90-an, aktif di Indonesia Democracy Monitor (InDemo)

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Mensos: Tiga Korban Penganiayaan di Sekolah Rakyat Jember Kembali Belajar

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:30

Agrinas Palma Bareng CPP Peringati Sumpah Pemuda Lewat Giat Sosial

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KNMP Disiapkan untuk Dongkrak Pendapatan Nelayan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KoMPAS Minta Polri Bersihkan Oknum Bermasalah dari Jabatan Strategis

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:03

Kapolri Mutasi Lagi, Kapusdokkes dan Kapuskeu Diganti

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:55

Dugaan Pencemaran Nama Baik di Medsos, Wanita Asal Sumut Dipolisikan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:44

Investasi Era Prabowo Tembus Rp3.923 Triliun Serap 5,4 Juta Tenaga Kerja

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:43

BRI Fellowship Journalism 2026 Ajak Jurnalis Terlibat dalam Urban Farming di Bandung

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:33

Kasus ISPA di 7 Provinsi Turun Drastis Usai Diguyur Hujan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:17

Prabowo Gratiskan Biaya Sekolah dan Perluas Kampus SMA Taruna Nusantara

Jumat, 30 Oktober 2026 | 18:58

Selengkapnya