Berita

Ilustrasi/AI

Publika

‘Kami’ di Tengah Kesendirian Salat

MINGGU, 13 APRIL 2025 | 07:02 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

SETIAP hari, lima kali sehari, seorang Muslim berdiri menghadap kiblat. Dia memulai ritual akbar yang disebut shalat dengan membentangkan tangannya, mengucap takbir, lalu membaca surah al-Fatihah dengan total sekitar 17 kali sesuai jumlah rakaat salat wajib kita.

Dan dalam lima kali salat sehari itu, ketika melafalkan bacaan wajib al-Fatihah dalam halat, lidahnya meluncurkan kalimat yang sama: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” -- “Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

Tunggu sebentar. Perhatikan lagi bacaan tadi dengan seksama: kami? Siapa itu kami? Kenapa bukan: aku? Bukankah dia shalat sendirian di kamar kos ukuran 2×3 meter, dengan kipas angin mengeluarkan suara mendengkur lebih keras dari bacaannya?


Mari kita mulai dari fakta formal: Dalam tubuh manusia dewasa, terdapat sekitar 37,2 triliun sel (menurut penelitian dari Annals of Human Biology, 2013). Tubuh kita juga dihuni oleh sekitar 39 triliun bakteri (kalau kamu merasa jijik sekarang, itu normal).

Belum cukup? Tambahkan fakta kecil bahwa tubuh kita memiliki lebih dari 600 otot, 206 tulang, sekitar 78 organ, dan 42 kelenjar. Itu baru hitungan kasar. Kalau mau lebih teliti, menghitung jumlah jaringan dan kelenjar ini bisa bikin kamu pusing sendiri.

Jadi, secara statistik, tubuh kita sebenarnya lebih banyak dihuni bakteri dari sel manusia itu sendiri. Ya, triliunan bakteri, berjuta-juta sel, aneka kelenjar, mitokondria, protein hidup, virus jinak, enzim, hormon, semuanya berjubel membentuk pasar malam biologis yang ramai di dalam tubuh kita.

Dengan kata lain, ketika seorang Muslim berkata kami dalam salatnya, dia memang tidak sendirian. Ia membawa serta seluruh komunitas hidup yang menjadi bagian dirinya. Bahkan bisa dikatakan, dia shalat “berjamaah” dalam dirinya sendiri: bersama hati, bersama usus, bersama bakteri baik, bersama sekian banyak makhluk Allah yang hidup, berzikir, dan bekerja tanpa henti mempertahankan hidupnya.

Jadi, mengapa “kami”? Karena manusia bukan makhluk tunggal. Dia adalah semesta berjalan, ekosistem ambulans. Dia bukan hanya aku, tapi kami -- kumpulan makhluk hidup yang bersama-sama bekerja agar kamu bisa berdiri, rukuk, sujud, dan berdoa.

Para bakteri ini bukan sekadar menumpang hidup. Mereka bekerja. Mereka membantu mencerna makanan, memproduksi vitamin, memperkuat sistem imun, bahkan menjaga kestabilan emosi (melalui jalur yang disebut gut-brain axis). Tanpa mereka, manusia mungkin sudah jatuh sakit, putus asa, dan gagal sujud karena kram perut.

Tanpa sel-sel darah merah yang sopan mengantar oksigen, tanpa bakteri baik yang membantu pencernaan, tanpa neuron-neuron yang setia mengantarkan sinyal, bahkan tanpa bulu-bulu halus yang melindungi kulitmu, kamu mungkin sudah tidak bisa mengatakan apa pun, apalagi “iyyaka na’budu”.

Maka, sungguh ironis jika ada orang yang merasa sombong dalam ibadah. Lebuh ironis lagi, di saat manusia modern begitu bangga dengan “kebebasan individu”, dalam shalat dia malah mewakili lautan makhluk mikroskopis yang bahkan tidak dia sadari keberadaannya.

Hei, bahkan shalatmu itu dibantu oleh sekian triliun makhluk Allah yang kamu bahkan tidak tahu nama-namanya! Seorang Muslim yang shalat sebenarnya sedang mengajukan deklarasi: “Ya Allah, aku dan semua yang ada di tubuhku ini, semua bagian diriku yang Kau ciptakan, bersujud kepada-Mu.”

Tentu, tetap ada aspek lain. “Kami” juga adalah isyarat bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Dalam agama, dalam sosial, dalam dunia nyata -- manusia itu makhluk berjamaah. Atau, makhluk sosial, kata Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah, karya monumentalnya.

Allah menyuruh shalat berjamaah, memerintahkan ukhuwah, melarang berpecah-belah. Di Akhirat memang hitungan amal itu personal, tapi jalan menuju ke sana adalah perjalanan berombongan. Allah menuntun kita shalat berjamaah, dengan diberi pahala berlipat 25.

Seorang Muslim hidup dalam dunia “kami”, bukan “aku” -- sebuah kesadaran yang sering diabaikan. Bahkan saat shalat sendirian, dia sebetulnya tidak sendirian. Ini untuk mengingatkan: jangan egois. Jangan jadi manusia yang mengira dirinya sukses sendirian.

Jangan jadi hamba yang merasa tidak butuh yang lain. Kita butuh Allah, kita butuh sesama, dan secara literal: kita butuh seluruh isi tubuh kita. Bayangkan kalau satu sel sarafmu mogok kerja hari ini -- selesai sudah khutbah panjangmu soal tauhid itu.

Dan di sinilah titik refleksinya: Kalau kita sadar bahwa tubuh kita bukan cuma “milik pribadi” melainkan “ekosistem anugerah Allah”, sungguh berdosa rasanya kalau kita tidak peduli padanya, bahkan seringkali tanpa sadar dan sembarangan kita merusak dan menyakitinya.

Setiap kebiasaan buruk ?"merokok, bergadang, stres berlebihan, makan junk food tiap malam -- bukan cuma menyiksa diri sendiri, tapi juga menyakiti triliunan makhluk ciptaan Allah yang membersamai hidup kita. Ya Allah, ampuni dosa hamba atas dosa berkepanjangan ini.

Bayangkan, seekor bakteri kecil di usus, yang sepanjang hidupnya dengan sabar membantu kita memproses makanan, akhirnya mati sia-sia karena kita keasyikan minum soda bergalon-galon. Tanpa sadar kita membunuh bakteri-bakteri itu dengan minum obat beracun.

Maka, menjaga tubuh adalah bagian dari ibadah. Merawat diri adalah bentuk syukur. Menghargai “kami” dalam diri adalah bagian dari penghambaan kepada Sang Pencipta. Karena kami itu nyata, hidup, dan turut bersujud bersama kita -- dalam setiap napas, dalam setiap gerak, dalam setiap doa.

Jadi lain kali saat kita membaca “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, jangan lupa tersenyum kecil. Ada triliunan makhluk kecil yang ikut mengaminkan bacaan al-Fatihah dan doa-doa kita. Dan insya Allah, mereka lebih khusyuk dari kita.

Akhir kata, wahai manusia yang katanya cerdas dan suka debat di kolom komentar media sosial, ingatlah: setiap kali kamu mengatakan “kami” dalam shalat, itu deklarasi kerendahan hatimu. Bukan hanya kamu yang menyembah. Tapi seluruh jagad kecil dalam tubuhmu ikut shalat berjamaah bersamamu.

*Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al Quran




Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya