Berita

Ilustrasi/AI

Publika

Rumus Instan Tarif Imbal-Balik Trump

SENIN, 07 APRIL 2025 | 08:42 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

SEJAK "Liberation Day" dicanangkan Presiden AS Donald Trump secara bertahap mulai 2 April lalu, saya bertanya-tanya: bagaimana, sih, mereka menghitung tarif? Indonesia, misalnya, dikenai tarif impor 32 persen oleh Trump. Awalnya saya pikir, mereka menghitung "tarif timbal-balik" itu dengan hitungan super rumit dan adil.

Kalau Anda juga membayangkan bahwa tarif timbal-balik ala Trump dihitung dengan rumus ekonomi makro tingkat dewa, spreadsheet bertabur jutaan data, dan konsultasi panjang dengan para ahli WTO—maka Anda keliru. Sangat keliru. Di dunia nyata, tarif ini lebih mirip resep masak mi instan: cepat, praktis, dan sedikit membahayakan kesehatan nasional.

Mari kita mulai dari harapan. Awalnya, para analis berharap Trump dan tim ekonominya yang berpengalaman itu akan menghitung tarif dengan membandingkan satu per satu kategori barang berdasarkan Harmonized System (HS codes) —lebih dari 5.000 kategori enam digit, belum termasuk rincian hingga delapan atau sepuluh digit di setiap negara.


Seharusnya, sesuai impian banyak orang, tarif yang katanya imbal-balik (reciprocal) itu dihitung adil, memperhitungkan ketentuan perdagangan, hambatan nontarif, regulasi perizinan yang ribet, hingga berbagai rintangan di balik layar. Namun, rupanya hitungan semacam itu dianggap terlalu rumit. Yang terjadi, mereka memilih cara "belakang amplop".

Ya, betul. Tarif impor Trump dihitung seperti Anda menghitung kembalian di warung sambil menyetir motor. Berikut ini rumus sakti yang dipakai:

Tarif Imbal-Balik (%) = Defisit Perdagangan AS dengan Negara ÷ Impor AS dari Negara.

Lalu, hasilnya dibagi dua supaya kelihatan "lebih sopan". Ini yang mereka sebut sebagai discounted reciprocal tariff —alias tarif imbal-balik yang dikasih diskon, mirip promo "beli satu gratis satu" di toko online.

Supaya lebih dramatis, mari kita lihat contoh nyata:

Uni Eropa: Defisit perdagangan AS sebesar 235,6 miliar dolar AS dibagi impor dari Uni Eropa 605,8 miliar dolar AS. Hasilnya sekitar 39 persen. Lalu, dibagi dua. Jadi tarif final: 20 persen.

Indonesia: Defisit perdagangan AS 17,9 miliar dolar AS dibagi impor dari Indonesia 28,1 miliar dolar AS. Hasilnya 64 persen. Dibagi dua. Maka tarif final: 32 persen.

Sederhana? Tentu. Akurat? Ya... kalau Anda percaya bahwa memukul lalat pakai palu godam itu akurasi.

Karena rumus ini cuma berdasar angka dagang bilateral —bukan tarif aktual, bukan hambatan nontarif, apalagi komponen produksi global— hasilnya tentu penuh drama. Negara yang kebetulan banyak surplus terhadap AS, tak peduli mengapa atau bagaimana, langsung dihantam tarif tinggi.

Akibatnya, beberapa negara mitra dagang utama AS, termasuk Indonesia, kaget setengah mati. Barang kita yang masuk AS, seperti tekstil, alas kaki, hingga hasil pertanian, langsung terasa lebih mahal. Di sisi lain, konsumen Amerika yang mestinya diuntungkan malah buntung: harga naik, inflasi melonjak.

Jadi, siapa yang menang? Secara teknis: tidak ada. Yang terjadi adalah perang dagang ala koboi. Perang satu lawan semua. Semua pihak bisa jadi babak belur, atau juga tidak. Tapi Trump tetap mengklaim kemenangan sambil mengibarkan bendera kecil bertuliskan "America First".

Dan siapa yang kalah? Pertama, tentu saja rakyat biasa, di AS sana. Tengok saja, rakyat Amerika langsung berdemo di seantero negeri, memvonis Trump sebagai presiden otoriter.

Tarif ini berfungsi seperti pajak konsumsi tambahan, dan seperti semua pajak konsumsi, bebannya paling berat jatuh ke kelas menengah dan bawah. Barang-barang impor yang sehari-hari dibutuhkan jadi mahal, sementara keuntungan fiskal dari tarif dipakai untuk memotong pajak... untuk orang kaya. Ah, indahnya dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita tentu ikut kena imbas, meski mungkin tidak langsung terasa di semua sektor. Untuk para petani gabah, misalnya, saat ini mereka menikmati harga pembelian Bulog sekitar Rp 6.500/kg —itu kabar baik. Mereka mungkin aman.

Tapi jika ketegangan dagang ini mendorong nilai dolar terus naik, biaya impor pupuk, pestisida, dan alat pertanian yang sebagian besar berbahan baku impor akan ikut naik. Baru di sini, petani bisa ketiban nasib sial akibat kebijakan Trump.

Sementara itu, beban pembayaran utang luar negeri Indonesia, yang sebagian besar berbentuk dolar, bisa makin berat. Setiap lonjakan nilai dolar berarti pemerintah dan sektor swasta harus menyiapkan lebih banyak rupiah untuk membayar cicilan dan bunga.

Dan jangan lupa para pemain saham. Ketidakpastian global akibat perang dagang ini membuat pasar keuangan bergoyang bak kapal pecah. Indeks saham langsung jatuh, modal asing bisa kabur. Tentu, ini hanya masalah kecil, kalau Anda bukan pemilik saham.

Perang tarif ala Trump ini mengingatkan kita bahwa dalam politik global, kalkulasi cepat dan awut-awutan sering kali berujung pada kerusakan lambat. Dan seperti biasa, ketika gajah bertarung, rumput yang kena injak.

*Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Subsidi Biaya Haji 2027 jadi Kabar Baik bagi Calon Jemaah

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:30

Hanya PDIP Berani secara Vulgar Menyerang Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:07

Sangat Aneh Parpol di DPR Tidak Tegas soal Putusan MK terkait Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:41

Kumpulkan 800 Pati TNI-Polri: Kekuatan Harus Berujung Rasa Aman Rakyat

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:30

Suyudi Bakal Bawa Korps Bhayangkara Makin Profesional

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:10

Komisi I DPR Usul Dua Rekomendasi soal Status Kavling TNI AL Pangkalan Jati

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:46

Soal Putusan MK, Jokowi-Gibran sedang Menuai Hasil

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:01

PPTQ Al-Ghozali Majalengka Pastikan Isu Perundungan Hoaks

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:26

AHDAA Raih Penghargaan Indonesia Halal Awards 2026

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:09

Industri Percetakan Butuh Kolaborasi Lintas Kementerian

Jumat, 09 Oktober 2026 | 00:36

Selengkapnya