Berita

Ilustrasi (Foto: AI/AT)

Publika

'Adolescence' Mengaduk Mimpi Buruk Orang Tua

SENIN, 07 APRIL 2025 | 03:10 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

KITA sudah melihat berbagai bentuk ketakutan dalam sejarah perfilman -- hantu menyeramkan, pembunuh bertopeng, bahkan boneka iblis. Namun, tak ada yang lebih menakutkan ketimbang satu pertanyaan yang mengintai setiap orang tua di era digital: “Bagaimana jika anak saya berubah menjadi monster tanpa saya sadari?”

Netflix, dengan insting tajamnya dalam mengendus kecemasan sosial, kini mempersembahkan "Adolescence", sebuah miniseri empat episode yang mengguncang dunia maya. Sejak perilisannya bulan lalu, serial ini langsung melesat ke puncak daftar tontonan dengan 66,3 juta kali ditonton dalam dua pekan, mengalahkan semua serial yang ada. 

Angka ini membuktikan bahwa minat publik terhadap kisah-kisah tragedi remaja masih sepopuler ketakutan mereka terhadap password yang terlupakan. Ia mengaduk-aduk pikiran dan perasan pemirsa, mengubah tontonan sederhana dari drama keluarga ke mimpi buruk psikologis, hingga ada yang menyalahkan media sosial.


“Adolescence” berkisah tentang Jamie Miller (Owen Cooper), seorang anak 13 tahun yang ditangkap atas dugaan pembunuhan terhadap teman sekelasnya. Tanpa efek ledakan, tanpa kejar-kejaran mobil, dan tanpa plot twist ala telenovela, serial ini mengandalkan satu hal yang lebih mengerikan: realitas.

Salah satu dari empat episode yang paling mencengkeram adalah ketika Jamie diwawancarai seorang psikolog anak. Selama 52 menit, penonton dipaksa menyaksikan pertanyaan demi pertanyaan yang menggali ke dalam pikiran seorang bocah, mencoba mengurai benang kusut yang bahkan tidak bisa dipahami oleh orang tuanya sendiri. 

Tidak ada adegan kekerasan eksplisit, hanya dua orang yang berbicara di dalam ruangan, memberi pemahaman yang intens tentang apa yang terjadi dan dialami si anak. Namun, di sinilah letak kejeniusan serial ini: kengerian tidak datang dari apa yang terlihat, tetapi dari apa yang tak terkatakan.

Mungkin inilah yang membuat “Adolescence” lebih mengerikan dari film horor mana pun -- karena ia menyentuh ketakutan yang begitu dekat. Jika generasi sebelumnya hidup dengan mentalitas “Ini tak akan terjadi pada anak saya”, kini para orang tua modern hidup dengan kecemasan sebaliknya: “Bagaimana jika ini terjadi pada anak saya?”

Di tengah maraknya perdebatan tentang kesehatan mental remaja, pengaruh media sosial, dan alienasi anak-anak dari orang tua mereka, serial ini datang sebagai tamparan keras. Tidak ada jawaban hitam-putih, tidak ada resolusi yang nyaman. 

Serial ini hanya menyampaikan refleksi pahit tentang betapa mudahnya dunia modern mencetak anak-anak yang kesepian, tersesat, dan -- dalam kasus Jamie -- berbahaya. Bayangkan, ia sampai begitu tega membunuh teman sekelas.

Jika tahun lalu publik dikejutkan oleh "Baby Reindeer", kisah nyata seorang pria yang dikejar oleh penguntitnya, maka "Adolescence" adalah bentuk horor yang lebih luas: bukan sekadar kisah satu orang, melainkan cermin bagi banyak keluarga. 

Dengan pendekatan yang lebih seperti teater dibandingkan thriller klasik, serial ini tidak menawarkan klimaks dramatis, melainkan membiarkan kita tenggelam dalam keputusasaan yang nyata. Kepala kita diaduk-aduk begitu sempurna.

Netflix tampaknya telah menemukan formula baru dalam mengguncang emosi penontonnya: bukan lagi kejutan bombastis atau misteri yang terpecahkan di menit terakhir, melainkan pengalaman yang membuat kita bertanya yang, anehnya, kadang tanpa jawaban, “Apakah saya benar-benar mengenal anak saya sendiri?”

Di akhir tontonan, “Adolescence” tidak memberikan hiburan yang menyenangkan atau perasaan puas karena misteri terpecahkan. Sebaliknya, ia meninggalkan penonton dalam kebingungan, kecemasan, dan mungkin juga dorongan untuk mengetuk pintu kamar anak mereka, hanya untuk memastikan mereka baik-baik saja.

Walhasil, film ini bukan hanya tentang Jamie Miller seorang. Ini tentang semua Jamie di luar sana anak-anak yang mungkin sedang tumbuh di ruang-ruang yang kita pikir aman, tetapi perlahan-lahan berubah menjadi labirin yang bahkan mereka sendiri tak bisa keluar.

Netflix, sekali lagi, tidak hanya memberi tontonan, tetapi juga menyodorkan cermin tempat kita berkaca. Dan bagi banyak orang tua, bayangan di dalam cermin ini bisa jadi lebih mengerikan dari yang pernah mereka bayangkan.


*Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Mafia Infrastruktur Diduga Kepung Menteri Dody Lewat Isu Miring

Kamis, 06 Agustus 2026 | 00:05

Menhan hingga Ketua Komisi I DPR Terima Brevet Korps Marinir

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:46

Ketimpangan Penduduk Meningkat, Gini Ratio Naik ke 0,368

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:22

Mahkamah Agung Diminta Evaluasi Ketua PN Jakarta Timur

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:38

Gempa M 6,4 Guncang Kepulauan Talaud, Tidak Ada Korban Jiwa

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:31

Kader Golkar Wonosobo Ngadu ke DPP soal Dua Kali Musda

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:14

Di Balik Tribun Sunyi Piala Presiden, Puluhan Pecalang Jaga Harmoni El Clasico

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:09

Kisruh Diadukan ke Bahlil, Mafa Uswanas Diusulkan jadi Plt Ketum AMPI

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:50

Pergeseran Public Goods Sektor Kesehatan

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:40

BRAINS Demokrat Kolaborasi Bareng IRI Perkuat Demokrasi Lintas Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:17

Selengkapnya