Berita

Presiden Korea Selatan yang dimakzulkan Yoon Suk-Yeol/Net

Dunia

MA Korsel Putuskan Copot Presiden Yoon Suk-Yeol Perkara Darurat Militer

JUMAT, 04 APRIL 2025 | 15:05 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Mahkamah Konstitusi Korea Selatan secara resmi mencopot Presiden Yoon Suk-Yeol dari jabatannya pada Jumat, 4 April 2025, mengakhiri masa kepemimpinannya yang penuh kontroversi dan membuka jalan menuju pemilihan presiden baru dalam dua bulan ke depan. 

Putusan bulat dari delapan anggota majelis hakim ini menegaskan bahwa Yoon telah secara serius melanggar konstitusi melalui keputusannya memberlakukan darurat militer pada akhir tahun lalu.

Dalam sidang yang disiarkan langsung ke seluruh negeri, Penjabat Ketua Mahkamah Konstitusi Moon Hyung-bae menyatakan bahwa tindakan Yoon telah melampaui batas hukum dan konstitusional. 


“Terdakwa tidak hanya menyatakan darurat militer, tetapi juga melanggar konstitusi dan hukum dengan memobilisasi pasukan militer dan polisi untuk menghalangi pelaksanaan kewenangan legislatif,” tegas Moon," seperti dimuat Reuters.  

“Pada akhirnya, pernyataan darurat militer dalam kasus ini melanggar persyaratan substantif untuk darurat militer," kata dia lagi. 

Moon menambahkan bahwa pencopotan Yoon adalah langkah yang diperlukan demi menegakkan supremasi hukum. 

“Mengingat dampak negatif yang serius pada tatanan konstitusional dan efek berantai yang signifikan dari pelanggaran terdakwa, kami menemukan bahwa manfaat menegakkan konstitusi dengan mencopot terdakwa dari jabatan jauh lebih besar daripada kerugian nasional akibat pencopotan presiden,” ujarnya.

Putusan ini langsung memicu reaksi emosional dari masyarakat Korea Selatan. Di pusat kota Seoul, ribuan demonstran anti-Yoon bersorak gembira dan menari merayakan putusan tersebut.

Seorang pria tua tampak melompat kegirangan, sementara dua wanita berpelukan sambil menangis. Para demonstran bahkan mengenakan kostum beruang biru, simbol protes kelompok oposisi.

Sebaliknya, di luar kediaman resmi Yoon, para pendukungnya menangis dan menjerit kecewa. Mereka mengibarkan bendera Korea Selatan dan Amerika Serikat sambil meneriakkan slogan-slogan perlawanan. 

“Kami sama sekali tidak akan tergoyahkan! Siapa pun yang menerima putusan ini dan mempersiapkan pemilihan presiden lebih awal adalah musuh kami," seru salah satu pemimpin protes dari atas panggung. 

Perdana Menteri Han Duck-soo, yang kini menjabat sebagai pemimpin sementara, menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nasional. 

“Menghormati keinginan rakyat berdaulat kita, saya akan melakukan yang terbaik untuk mengelola pemilihan presiden berikutnya sesuai dengan konstitusi dan hukum, memastikan transisi yang lancar ke pemerintahan berikutnya,” ujarnya dalam pidato yang disiarkan televisi nasional.

Pemilihan umum akan digelar dalam dua bulan ke depan, tetapi ketegangan politik diperkirakan masih akan berlangsung. Korea Selatan kini menghadapi situasi politik yang terpolarisasi, yang bisa mempersulit hubungan internasional, terutama dengan AS dan Korea Utara.

Pemimpin oposisi liberal, Lee Jae-myung dari Partai Demokrat, menjadi kandidat unggulan dalam survei. Dalam pernyataannya, Lee menyambut baik keputusan Mahkamah. 

“Keberanian rakyat yang menentang senjata, pedang, dan tank, bersama dengan keberanian pasukan yang menolak mematuhi perintah yang tidak adil, telah menghasilkan revolusi cahaya yang hebat ini,” ungkap Lee.

Krisis politik ini bermula dari deklarasi darurat militer yang diumumkan Yoon pada Desember lalu. Dalam aksi yang hanya berlangsung enam jam, ratusan tentara dikerahkan ke Majelis Nasional, kantor pemilihan, dan lokasi strategis lainnya. 

Beberapa perwira senior bersaksi bahwa mereka diperintahkan untuk mencegah pemungutan suara dan bahkan menahan anggota parlemen.

Yoon dituduh melakukan pemberontakan, tindakan yang dapat dikenai hukuman mati atau penjara seumur hidup. Sebagai presiden pertama Korea Selatan yang didakwa saat menjabat, Yoon menghadapi masa depan hukum yang suram.

Seorang mantan jaksa yang naik ke tampuk kekuasaan pada 2022 itu dikenal dengan gaya kepemimpinan keras dan retorika tajam. Ia sempat menyebut parlemen sebagai “sarang penjahat” dan “kekuatan anti-negara”. 

Beberapa analis menilai, darurat militer yang diberlakukannya merupakan upaya untuk menggagalkan penyelidikan terhadap skandal yang melibatkan istrinya, Kim Keon Hee.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya