Berita

Peta gempa Myanmar/Net

Dunia

Gempa Myanmar Setara dengan 334 Ledakan Bom Atom, Ini Penyebabnya

MINGGU, 30 MARET 2025 | 12:55 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Myanmar diguncang gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,7 magnitudo pada hari Jumat, 28 Maret 2025 yang juga berdampak pada negara tetangga, Thailand. 

Getaran gempa terasa hingga Kamboja dan India, menyebabkan kepanikan di berbagai wilayah.

Sebagian besar kerusakan akibat gempa terjadi di ibu kota kuno Myanmar, Mandalay, yang berlokasi dekat dengan episentrum di wilayah Sagaing. 


Bangunan-bangunan runtuh, infrastruktur hancur, dan korban jiwa terus bertambah. Menurut laporan media pemerintah, 1.600 orang tewas akibat bencana ini.

Ahli geologi Jess Phoenix menyebut gempa 7,7 magnitudo yang mengguncang Myanmar melepaskan energi yang sebanding dengan lebih dari 300 bom atom. 

"Kekuatan yang dilepaskan oleh gempa bumi semacam itu setara dengan sekitar 334 bom atom," ujarnya, seperti dimuat CNN pada Minggu, 30 Maret 2025. 

Menurut pakar tektonik dari Imperial College London, Dr. Rebecca Bell, penyebab gempa terjadi karena Myanmar berada di antara dua lempeng tektonik besar, yaitu Lempeng India dan Eurasia. Posisi geografis ini menjadikannya sangat rentan terhadap gempa bumi.

Batas antara kedua lempeng tersebut disebut Sesar Sagaing, sebuah patahan lurus sepanjang sekitar 1.200 km yang melintasi kota-kota besar seperti Mandalay dan Yangon. 

Ketika lempeng-lempeng tersebut saling bersentuhan dan menempel, mereka membangun cadangan energi yang sangat besar yang kemudian dilepaskan dalam gempa bumi 'slip-strike' yang dahsyat.

“Sifat lurus berarti gempa bumi dapat terjadi di area yang luas dan semakin besar area sesar yang bergeser, semakin besar gempa bumi,” ujarnya. 

Seismolog dari Survei Geologi AS (USGS), Will Yeck, menjelaskan bahwa gempa bumi di Myanmar terjadi karena gesekan antara Lempeng India dan Eurasia, yang dikenal sebagai sesar geser. 

Menurutnya Gempa susulan dapat terjadi akibat perubahan tekanan dari guncangan utama.

Gempa bumi terjadi pada kedalaman yang relatif dangkal, hanya sekitar 10 km di bawah permukaan. 

Dr. Ian Watkinson dari Royal Holloway, Universitas London, menyatakan bahwa gempa dangkal berpotensi menimbulkan banyak kerusakan karena energi seismiknya tidak banyak berkurang sebelum mencapai permukaan.

“Myanmar mengalami urbanisasi yang cepat, dengan ledakan pembangunan gedung-gedung tinggi berbahan beton bertulang. Tanpa regulasi bangunan yang ketat, bencana ini dapat menyebabkan kehancuran yang sebanding dengan gempa di Turki tahun 2023,” kata Watkinson.

Di Thailand, gempa mengakibatkan kerusakan serius di Bangkok, termasuk runtuhnya gedung bertingkat 33 yang masih dalam tahap konstruksi. Sedikitnya delapan orang dilaporkan tewas, sementara puluhan pekerja konstruksi terjebak di bawah reruntuhan.

Sementara itu, di Myanmar, kerusakan parah terjadi di Mandalay. Beberapa bangunan bersejarah, termasuk Istana Kerajaan dan Jembatan Ava yang membentang di atas jalan dan rel, mengalami keruntuhan. Kota Naypyidaw dan Yangon juga terdampak, dengan infrastruktur yang rusak parah.

USGS memperkirakan bahwa hampir 800.000 orang di Myanmar berada dalam zona guncangan paling hebat. Dengan banyaknya bangunan yang tidak memenuhi standar ketahanan gempa, jumlah korban jiwa diperkirakan masih akan bertambah.

Dengan situasi yang masih berkembang, tim penyelamat terus bekerja untuk menemukan korban yang tertimbun reruntuhan, sementara pemerintah Myanmar dan Thailand berupaya menangani dampak bencana ini secepat mungkin.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya