Berita

Pagoda Buddha Maha Myat Muni runtuh setelah gempa bumi di Mandalay, Myanmar, pada hari Jumat, 28 Maret 2025/Net

Global

Pejuang Nasionalis Myanmar Hentikan Perang Saat Korban Tewas Akibat Gempa Mendekati 2.000

MINGGU, 30 MARET 2025 | 09:01 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Myanmar tengah menghadapi salah satu bencana terburuk dalam sejarahnya setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter mengguncang wilayah Sagaing pada 28 Maret 2025. 

Seiring dengan bertambahnya jumlah korban tewas yang mendekati 2.000 jiwa, Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) yang berada di pengasingan mengumumkan penghentian sementara operasi militer guna memfasilitasi upaya penyelamatan.

Dalam sebuah dokumen resmi, NUG menyatakan operasi penyelamatan bagi orang-orang yang terjebak di reruntuhan bangunan, struktur, dan tempat kerja yang runtuh dimulai hari ini, Minggu, 30 Maret 2025.


"Kementerian Pertahanan Pemerintah Persatuan Nasional mengumumkan bahwa Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF) akan menerapkan jeda dua minggu dalam operasi militer ofensif, kecuali untuk tindakan defensif, di daerah yang terkena gempa bumi," bunyi pernyataan tersebut, seperti dimuat ABC News. 

Gempa bumi tersebut tidak hanya mengguncang Myanmar, tetapi juga dirasakan di negara-negara tetangga seperti Thailand, India, dan Bangladesh. 

Junta militer yang saat ini berkuasa melaporkan lebih dari 1.600 korban jiwa pada 29 Maret, namun berbagai sumber lain kini memperkirakan angka tersebut mendekati 2.000. 

Banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan, sementara penyintas berusaha mencari pertolongan dengan peralatan seadanya.

Bencana ini terjadi di tengah konflik berkepanjangan antara junta militer dan kelompok pro-demokrasi sejak kudeta militer pada 2021. 

Konflik yang telah berlangsung selama empat tahun ini menyebabkan junta kehilangan banyak wilayah, memaksa mereka untuk mengandalkan serangan udara terhadap kelompok pemberontak. 

Bahkan setelah gempa terjadi, laporan menyebutkan bahwa serangan udara junta mengenai wilayah yang dikuasai NUG, menewaskan tujuh orang.

Di sisi lain, NUG mengalokasikan dana awal sebesar 1 juta dolar AS untuk operasi penyelamatan dan bantuan medis. 

Namun, dinamika politik semakin memperumit upaya bantuan. Sekutu junta seperti Rusia dan Tiongkok telah mengirimkan bantuan dan tim penyelamat ke Myanmar, tetapi ada kekhawatiran bahwa bantuan tersebut akan dipolitisasi.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

UPDATE

Fokusmaker Sentil Azis Narang: Jangan Jual SOKSI untuk Kepentingan Politik Pribadi

Sabtu, 07 November 2026 | 18:26

Airlangga Akui Kasus Penyadapan pada Presiden Ganggu Sentimen Investor

Sabtu, 07 November 2026 | 18:17

Bantah Terlibat Penyadapan Ilegal, Bahlil: Ini Ulah Abuleke

Sabtu, 07 November 2026 | 17:48

ARBI Bakal Gelar Aksi Akbar di Al-Azhar, Ini Lima Tuntutannya

Sabtu, 07 November 2026 | 17:40

HUT ke-73 KPU Dirayakan Sederhana, Refleksi Integritas Bareng Para Mantan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:45

Ketum Peradi Profesional: Advokat Bukan Pelengkap Peradilan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:08

Menimbang Perpres 107/2026 dan Dampaknya pada Kelancaran Pengadaan Energi

Sabtu, 07 November 2026 | 15:48

Tekanan Jual Mereda, Harga Bitcoin Menguat ke 75.928 Dolar AS

Sabtu, 07 November 2026 | 15:40

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Tayang Jelang Imlek

Sabtu, 07 November 2026 | 15:18

Pangdam XXII/Tambun Bungai Pimpin Pemulangan Jenazah Sertu Anumerta Heri Prasetyo ke Kediri

Sabtu, 07 November 2026 | 15:14

Selengkapnya